Loading...
Monday, July 10, 2017

Hari Baru

Selama nafas ini masih berhembus dan jantung ini masih berdetak, aku akan terus menceritakan cerita hidup ini. Entah berfaedah atau tidak yang penting menulis adalah satu bagian dari hidup aku.


Setelah beberapa bulan disibukkan dengan perkuliahan yang padat, emosi naik turun karena nenek kosan, nilai perkuliahan yang bikin pengen nangis ga berhenti, dan libur lebaran yang singkat namun cukup menyenangkan karena bisa berkumpul dengan keluarga kecil dan makanan yang banyak di rumah. Akhirnya aku kembali menulis blog yang sudah terlantar beberapa bulan ini.

Sedikit cerita tentang perkuliahan. Keputusan aku untuk kuliah lagi adalah suatu konsekuensi yang harus aku jalani. Pilihan jurusan aku sendiri yang menentukan, walau sepenuhnya dengan biaya orang tua. Orang tua membebaskan aku untuk kuliah dimana pun yang aku mau, tapi lebih prefer di Bandung. Tapi aku sendiri enggak mau kuliah di Bandung dengan beberapa alasan. Salah satunya aku ingin sedikit membuka peluang kerja di bidang lain tapi di hanya di tiga universitas dalam negeri terbaik di Indonesia. Pilihan tersebut jatuh pada Jakarta. Lalu kenapa enggak di luar negeri? Sebenarnya aku ingin sambil bekerja, aku merasa sia-sia kalau kuliah di luar negeri kalo ujung-ujungnya harus kembali ke dalam negeri. Jadi lebih baik berkontribusi di dalam negeri mulai dari sekarang kan? Dan kalau kuliah di luar negeri pun aku harus mendapatkan beasiswa, bukan dari orang tua. Uang dari mana orang tua menguliahkan aku di luar negeri. Oh ya satu lagi alasan klasiknya adalah aku adalah manusia yang lemah akan bahasa. Bahasa daerah sendiri aja agak susah untuk dipelajari, 4 tahun kuliah di Jogja enggak bisa bahasa Jawa. Lalu apa kabar dengan Bahasa Inggris, iya itu adalah salah satu bahasa yang enggak ngerti kenapa sulit banget untuk dipelajari. Mungkin karena sebel sama guru waktu zaman SD dulu. Haha. so past tapi gimana ya membekas banget sih.

Satu semester kuliah di Jakarta, agak cukup disesalkan juga. Aku enggak bisa bekerja, tugas banyak, dan sulit sekali untuk main. Setiap ada adik angkatan yang minta saran ketika ingin melanjutkan kuliah, selalu aku sarankan untuk ambil di luar negeri aja. Aku melihat temenku yang kuliah di Belanda bisa jalan-jalan ke negara tetangga dengan mudah. Banyak kali waktu mereka untuk main. Sedangkan aku, untuk ke pergi baik untuk tes kerja, urus beasiswa, atau ngajar aja ngatur waktunya susah banget. Bahkan aku sempat beberapa kali bolos kuliah karena harus ngajar di Depok. Dan taulah hasilnya kalau bolos satu kali pertemuan aja, rasanya seperti tertinggal satu semester. Sulit ngejarnya. Alhasil sata UAS hasilnya enggak begitu memuaskan. Ketika nilai keluar keluar, sungguh rasanya dunia mau hancur. Mood yang asalnya ceria, jungkir balik tak terkendali. Rasanya ingin keluar saja dari perkuliahan ini dan bekerja jadi apa kek, cleaning service atau apalah. Karena aku merasa soal begitu saja aku tidak mampu. Kesel, kesel banget. Tapi, alhamdulillahnya adalah aku bertemu dengan orang-orang baik yang selalu mendukung aku. Teman yang tidak memandang apapun, teman yang mengerti aku, sehingga bisa menghibur aku disaat kesedihan ini melanda. Bukan hanya itu, kegagalan memang bukan sekali dua kali aku alami di bulan ini. Salah satu yang mengecewakan ketika aku tidak lolos tes interview psikologis Bank Indonesia. Salah satu harapan aku untuk pindah ke kelas malah telah pupus. Akibat kegagal itu juga membuat aku sebulan di Jakarta saat sudah memasuki libur semester pun menjadi sia-sia. Rencana untuk membuat paper untuk lomba menjadi tidak bergairah. Ingin rasanya udahan aja dari semua ini. Hiks.

Pulang ke Bandung adalah salah satu jalan yang tepat. Menghadapi akhir Ramadhan aku berusaha untuk menjernihkan pikiran. Tidak update instagram selama dua minggu cukup membuat tenang. Hanya berdiam diri saja di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, libur lebaran ini aku persingkat karena aku harus pindah kos dari si nenek sihir itu. Empat hari aku siapkan untuk mencari kosan dan pindahan. Sulit sekali mendapatkan kos yang enak dengan budget yang pas. Keliling-keliling daerah Saelemba sampai di PHP-in oleh ibu kos udah aku alami. Sampai akhirnya di tanggal 2 aku menemukan kos yang cukup nyaman. Dibantu oleh teman baikku, aku pindahan sampai lima balikan dari kos lama ke kos baru. Di kos baru ini pemilikinya baik banget, seorang kakek tua. Hanya saja ada peraturan yang tidak boleh membawa teman menginap, kalau ada ya harus bayar. Sepele sih, tapi aturan itu agak cukup ganggu juga. Pasalnya aku juga orang yang tahu diri kalau nginepin temen. Temen mandi sekali berapa air sih yang dikeluarin. Dan aku juga ga suka tidur bareng orang, apalagi kalau orang itu ngorok. Duh ganggu banget. Tapi ya sudahlah, temen aku udah dua kali nginep di kosan dengan waktu yang tidak berurutan, nanti aku bayar di akhir bulan karena aku males keluarin duit receh di tengah-tengah bulan gini.

Setelah libur lebaran adalah hari yang baru untuk aku. Karena sebenarnya udah ada yang nawarin kerjaan yang cuma dua bulan ini. Tapi itu semua hanya PHP. Keduanya tidak ada kabar lanjutan. Alhasil aku di Jakarta hanya gigit jari. Aku mencoba usaha ntuk jualan makanan yang aku ambil dari Bandung. Ya baru juga awal, belum laku-laku banget. Aku jual ke temen-temen sendiri aja. Temen bilang sih enak banget seblak sama ususnya. Ya semoga aja, usaha aku ini bisa berkembang pesat di Jakarta. Haha. Aku juga mulai mencoba melanjutkan paper yang tertunda. Malas sih masih ada dan waktu pengumpulan tinggal 11 hari lagi. Enatah bisa apa enggak ya aku coba dulu aja ya.

Sekian curhat berkepanjangan ini. Sebenarnya aku bingung mau kasih judul apa. Ya udah aku kasih judul hari baru aja ya. Hahaha.
Next
This is the most recent post.
Older Post

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP