Loading...
Monday, February 27, 2017

Talkshow: Keterbukaan Data Publik


Di weekend kemarin, aku berkesempatan untuk mengkuti talkshow yang diadakan oleh RODA atau kepanjangan dari Reform Open Data Action. Berdasarkan informasi, RODA ini merupakan sebuah komunitas yang tujannya memberikan informasi pada masyarakat mengenai data yang dapat diakses secara umum untuk mengurangi berita hoax. Salah satu kegiatannya adalah talkshow ini, dengan mengundang pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya. Talkshow ini dilaksanan di Lot 38 salah satu kafe yang ada di daerah Cikini, Jakarta Pusat.


Pembicara pertama adalah Pak Robertus Theodore yang merupakan tenaga ahli dari Kantor Staf Presiden. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud open data adalah data yang bisa diolah kembali, disebarkan, dan dapat digunakan kembali. Dua sifat utama open data, yaitu secara teknis dan secara legal. Secara teknis dilihat dari sifat keterbukaannya. Semakin mudah diolah, semakin terbuka, begitu pula sebaliknya. Secara legal, perlu mencantumkan sembernya agar dapat digunakan untuk kepentingan apapun.

Open data sudah menjadi komitmen pemerintah. Di tahun 2012, Indonesia tergabung dalam Open Government Partnership yang merupakan agenda pemerintah global untuk membuka dan kemudahan akses data. Hal itu pula terkandung dalam NAWACITA poin 2 di pemerintahan Pak Jokowi, yaitu keterbukaan data untuk pemerintahan yang bersih, demokratis, dan akuntabel.

Pembicara kedua dari Kepala IT Jakarta Smart City, yaitu Mas Prasetyo Andy Wicaksono. Beliau menjelaskan bahwa DKI Jakarta sudah mempublikasi data yang sifatnya publik. Iyu adalah upaya transparansi pemerintah DKI Jakarta. Dua tujuan utama keterbukaan data pemerintah, yaitu secara internal dan eksternal. Secara internal, open data memacu jajaran pemerintah untuk lebih update secara kinerja agar akuntabel. Secara eksternal, menarik pihak lain untuk mengetahui permasalahan yang ada dan memberikan inovasi dalam mengatasi masalah tersebut.

Pembicara terakhir adalah Bapak Heri Susanto dari Direktur Riset dan Data KATADATA. Beliau melihat fenomena yang terjadi saat ini, baik informasi dari jurnalis maupun dari masyarakat pengguna sosial media. Banyak masyarakat yang langsung share apabila mendapatkan informasi tanpa membacanya secara lengkap atau kroscek pada data yang ada. Hal inilah yang menjadi kegelisahan di masyarakat akibat banyaknya berita hoax. Keterbukaan data ini menjadi sangat penting, salah satu contohnya adalah mebgenai tax amnesty. Berdasarkan data, tax amnesty ini membantu pemerintah. Maka dari itu, opini masyarakat perlu dibentuk dengan hal yang positif. Kedua, data sangat penting untuk mengambil keputusan, contohnya keputusan untuk menghapus subsidi BBM.

Saat ini, kultur Indonesia belum terbangun dalam penggunaan data. Belum adanya standarisasi apa saja, bagaimana, kapan, dan dimana data itu dapat dibuka. Keterbatasan kemampuan untuk membaca data pun menjadi halangan. Maka dari itu, pemerintah dan akademisi perlu bekerjasama dalam membuat informasi dari data yang ada, untuk diberikan kepada masyarakat. Masyarakat bisa memulai mempercayai, membuat, atau menyebarkan informasi berdasarkan data yang ada sesuai dengan kebenaran.
Next
This is the most recent post.
Older Post

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP