Loading...
Wednesday, August 31, 2016

Kisah Sedih di Bulan Agustus

Bulan Agustus yang seharusnya menjadi bulan penuh kebahagiaan, kini telah sirna menjadi bulan terburuk yang pernah aku alami selama aku hidup. Kesialan-kesialan terus terjadi menyerang setiap harinya. Tidak ada seharipun tanpa terserang sial. Baik kesialan yang besar hingga kesialan sepele terjadi dalam hidup aku ini. Walaupun begitu, ada beberapa kebahagian yang tetap masih diberikan oleh Tuhan yang sangat aku syukuri sampai sekarang.

Awal Bulan Dengan Dompet Yang Super Tipis

Setelah presentasi akhir tanggal 29 Juli, jujur kami tim merasa lega karena revisi yang diminta sebenarnya tidak terlalu banyak. Kami semua pun sangat bersemangat untuk melakukan revisi karena tak sabar dengan bayaran kami yang nunggak satu bulan. Sedikit cerita, kami bekerja di sebuah konsultan dengan kontrak selama dua bulan untuk mengerjakan subuah masterplan. Dimulai sejak awal Mei, aku sudah tinggal di Jakarta untuk mengerjakan proyek tersebut. Bayaran bulan pertama diberikan pada pertengahan Juni, itupun dengan jeritan kami yang sudah mulai kekurangan uang untuk hidup di ibukota. Awal Juli yang kami tunggu-tunggu untuk mendapat bayaran kedua ternyata harus sia-sia. Dikarena adanya libur lebaran, bayaran kami ditahan karena proyek tidak selesai dalam dua bulan. Lebaran tanpa uang sudah aku rasakan tapi untungnya masih ada cadangan uang kemarin walau hanya sedikit karena uangku juga dipinjam sama teman kos.

Kembali ke setelah presentasi akhir, kami semua berharap untuk segera mendapat bayaran tapi ternyata itu juga hanya harapan yang sia-sia. Kami hanya mengelus dada mengenai kebijakan manajemen kantor dan juga para tenanga ahli. Di antara mereka yang penuh permainan dan intrik yang tidak kami mengerti sebagai asisten. Sebenarnya, aku masih ada satu kegiatan lagi di Jakarta, tapi itupun tidak ada kejelasan. Aku merasa begitu dipermainkan, disuruh mengerjakan ini itu, datang ke sini ke situ, sampai pada akhirnya tidak ada kejelasan yang berarti sampai sekarang. Aku putuskan untuk kembali tanggal 3 Agustus.

Kisah Asmara Mulai Retak Di Awal Agustus

Baru diakhir bulan Juli aku bermesraan di malam minggu. Malam minggu itu merasa malam yang begitu indah. Rindu menggebu harus ditahan karena aku harus kembali ke Jakarta. Setelah kembali ke Jakarta, aku ingin bertemu dengan salah satu temanku yang sudah cukup lama tidak kontakan. Namun ternyata 'si dia' cemburu, padahal aku telah mengatakan akan bertemu teman. Tidak ada komunikasi setelah itu, sensi membuat aku takut untuk menghubunginya. Pada saat itu beban aku bertambah banya, satu sisi uang tipis, sisi lain cintaku retak. Saat aku putuskan pulang ke Bandung tanggal 3 Agustus berharap aku ingin bertemu dia, menenangkan hati, tapi semua itu harus tertunda selama 2 minggu.

Setelah bertemu tanggal 13 Agustus, kami jalan, tapi tetap aku enggak bisa melampiaskan rasa rinduku yang begitu besar. Terlihat dari wajahnya rasa sukanya terhadapku mulai berkurang. Setelah hari itu, hubungan kami benar-benar pecah. Dan hubungan kami benar-benar tak bisa diperbaiki lagi pada tanggal 14 Agustus, dan dia menyatakan bahwa 'we are just a friend'. Patah hati cukup lama, bahkan sampai sekarang pun masih ada bekasnya. Tapi semua itu aku coba hadapi karena aku harus move on.

Kepentok Pintu Sampai Berdarah

6 Agustus aku sebenarnya ingin bermalam minggu bersama dia, tapi kondisi kesehatannya kurang baik. Akhirnya aku putuskan untuk ikut mama-papa ke Garut. Itu pun bersama laptop karena ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Perjalanan menuju Garut macet cukup parah. Macet itu terjadi di jalan dari rumah menuju Pintu Tol Baros. Sungguh tidak masuk akal. Sampai di Garut, aku hanya bisa tiduran saja karena galau dan juga pusing denga  kerjaan yang tidak aku mengerti. Malamnya, saat akan pulang, aku membuka pintu rumah, pelan, tapi jari manis kaki kiriku kena ujung pintu, sampai akhirnya berdarah. Darah tak hentinya berhenti hingga aku lilit dengan tissu. Kesel sendiri, tanda apa sih ini? Ternyata si dia masih sakit, jadinya hari minggu pun kami tidak bisa bertemu. Dan harus ditahan hingga pekan depan.

Ulang Tahun Hanya Dibalik Selimut

Tidak ada yang ingat hari ulang tahunku. Aku memang tidak berharap juga sih. Hanya mama yang ingat. Di balik kesepian ini, sebenarnya aku ingin bersama seseorang. 'Dia' tidak bisa menemaniku hari itu. Kecewa. Sahabatku Teh Deasi pun tidak bisa. Tambah kecewa. Aku kuat sekali mengahadapi semua ini. Sampai akhirnya mereka tahu kalau hari itu aku ulang tahun, aku hanya tertawa dengan kekecewaan yang aku tahan.

Akhir Agustus

Kalau aku ceritakan semua kesialanku mungkin bisa jadi setebal kitab. Tapi akhir Agustus ini, aku sangat bersyukur. Bersyukur nahwa bulan ini akan segera berakhir. Hahaha. Bukan, tapi masih ada sahabat terbaik yang masih bisa menemani aku. Walau hati ini hancur lebur, tapi masih ada perekat yang bisa menyambungkan itu semua. Dengan senyuman, dengan kebahagiaan. Walau air mata ini sulit menetes karena semorang lelaki harus kuat. Dan aku adalah lelaki yang kuat. Walau kesialan terus menerpa aku harus terus maju. Menggapai semua impian aku. Apapun pandangan orang, aku akan buktikan kalau aku bisa!

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP