Loading...
Wednesday, February 24, 2016

Pro-Kontra Kereta Cepat Bandung - Jakarta

Source: http://us.images.detik.com/content/2015/08/14/4/keretasency.jpg

Berita tentang pembangunan kereta cepat Bandung - Jakarta sunguh mewarnai berbagai media nusantara di awal tahun. Banyak orang yang mempertanyakan mengenai urgensi pembangunan kereta cepat ini, melihat pilihan moda transportasi Jakarta - Bandung cukup variatif dan semuanya diminati oleh masyarakat. Belum lagi banyak juga yang menyayangkan pembangunan yang terkonsentrasi di Pulau Jawa sedangkan wilayah lain di Indonesia masih sangat sulit aksesnya. Tidak hanya itu, banyak lagi ocehan-ocehan dari kelas atas sampai kelas bawah, dari yang berpengetahuan sampai yang berpengetahuan minim, dan dari yang mementingkan rakyat sampai mementingkan pribadi. Hal ini turut membuat saya terpancing untuk beropini tentunya dengan pengetahuan saya yang pas-pasan pula. Mari kita simak.

Saya Mendukung!

Jelas, saya mendukung dengan dibangunnya kereta cepat Jakarta - Bandung. Bukan karena saya orang Bandung dan saya bisa bangga. Dari sisi teknologi transportasi, Indonesia sudah sangat jauh tertinggal oleh negara-negara lain. Negara-negara lain sudah mengantisipasi urbanisasi yang akan terjadi di daerah perkortaan. Mobilitas masyarakat akan semakin tinggi. Maka mereka membuat moda transportasi massal yang efisien, cepat, dan aman. Sedangkan Indonesia, masih sangat primitif, bahkan memiliki kendaraan pribadi dianggap sebagai orang hebat.

Jakarta dan Bandung merupakan kota metropolitan sekaligus merupakan pusat kegiatan nasional. Jakarta sebagai ibukota negara dan Bandung sebagai ibukota provinsi. Hubungan dua kota tersebut tidak dapat dipisahkan karena kedua kota tersebut sama-sama memiliki pusat industri, kantor pusat, hubungan ekonomi yang saling bekerjasama hingga membentuk super-megapolitan Jakarta -Bandung. Di masa sekarang saja waktu tempuh Jakarta - Bandung yang hanya 2,5 jam saja sudah dirasa lama, apalagi di masa yang akan datang itu terlalu lama untuk menjalankan suatu kepentingan di dua kota tersebut.

Ada yang berpendapat, Jakarta - Bandung itu sudah memiliki pilihan moda yang banyak, jalan tol, kereta api, dan pesawat, kurang apalagi. Adanya jalan tol yang menghubungkan Jakarta - Bandung sebenarnya memberikan pengaruh buruk dari sisi lingkungan. Gas emisi yang dikeluarkan kendaraan semakin banyak. Selain itu, efek bertambahnya jalan adalah bertambah pula kendaraan. Coba pikirkan, Bandung - Jakarta bisa mencapai 7 jam karena macet. So, efisienkah menggunakan kendaraan pribadi? Tentu tidak.

Ingin sekali menertawakan apabila ada maskapai yang membuka jalur Jakarta - Bandung. Kenapa? Jarak Bandung dan Jakarta itu sekitar 150 km. Coba bayangkan kalau kita naik pesawat, baru saja kita take-off tiba-tiba sudah landing lagi. Apalagi operasional pesawat itu tidaklah murah. Tentu pesawat bukan menjadi pilihan moda yang banyak digunakan oleh masyarakat. Apalagi, naik pesawat itu lebih sebentar dibanding kita menunggu di ruang tunggu bandara. Sudah jelas kita akan membuang waktu hanya untuk menunggu di bandara saja. 

Nah, kereta api adalah moda transportasi yang paling efisien diantara ketiganya. Apalagi, jadwal kereta Jakarta - Bandung itu cukup sering dalam sehari. Hanya saja, waktu 3,5 jam untuk naik kereta itu masih dirasa sangat lama. Maklum saja, jalur kereta yang digunakan adalah jalur kereta pada masa penjajahan sehingga jalur masih dibuat sangat panjang melintasi bukit.

Nah, maka dari itu, adanya kereta cepat tentu memberikan manfaat bukan untuk penduduk masa depan? Harga 200 ribu mungkin bukan apa-apa buat orang yang memiliki kepentingan bisnis. Semua itu hanya pilihan moda saja. Kita warga negara dibebaskan kok mau memilih menggunakan moda apa saja termasuk jalan kaki dari Jakarta ke Bandung.

Masih Banyak Pelosok Indonesia yang Belum Berkembang


Okay! saya setuju dengan pendapat itu. Tapi apakah itu bisa dikaitkan dengan pembangunan kereta cepat Jakarta - Bandung. Kita sudah dapat lihat kota-kota yang dihubungkan dengan kereta cepat tersebut adalah dua PKN (Pusat Kegiatan Nasional) ini berarti proyek tersebut adalah proyek nasional artinya untuk kepentingan nasional dan diurus oleh pemerintah nasional. Apabila kita mau membandingkan, maka bandingkanlah dengan yang setara, misalnya pembangungan kereta Medan - Kualanamu atau pembangunan trans-Kalimantan. Apabila kita membandingkan dengan di pelosok masih ada anak yang pergi ke sekolah melewat jembatan tali, itu tidak setara. Menagapa? Karena itu tanggungjawab daerah. Negara kita ini memegang sistem desentralisasi dan setiap daerah memiliki kekuasaan mengatur daerahnya sendiri, itulah yang dimaksud daerah otonom. Kalau masih ada daerah yang jalannya rusak itu salah pemkab atau pemkot bukan salah presiden karena presiden sudah memberikan mandat bagi pemda untuk membangun daerahnya sendiri. 

Saya juga pernah mendengar komentar yang mengatakan bahwa konsentrasi pembangunan hanya fokus di Jawa sedangkan Papua terlupakan. Dalam pembangunan wilayah pemerintah bekerjasama dengan pihak swasta sebagai donatur dengan salah satu metode kerjasama. Sebenarnya kita dapat lihat langsung, bahwa orang di Pulau Jawa mobilitasnya lebih tinggi dibanding orang Papua sehingga investasi trasnportasi banyak di Jawa, sedangkan mobilitas orang Papua lebih rendah sehinga swasta takut rugi berinvestasi di Papua. Berbeda dengan pertambangan, swasta sangat senang sekali berinvestasi di Papua karena tanah Papua sangat kaya dengan hasil tambang. Dan mungkin kalian belum tahu saja permasalahan transportasi di Papua apalagi dalam pembukaan lahan. Waktu saya dari Sentani ke Jayapura itu sudah ada jalan yang mulus dan lebar tetapi di salah satu ruas jalan dipersempit karena jalan baru yang sudah dibuat dipalang oleh warga sekitar yang menuntut ganti rugi tanah. Okay, simpulkan sendiri, apakah bisa dengan mudah membuat jalan atau kereta di Papua? Perlu diingat Papua ada paru-paru dunia dan perlu dijaga dari pembangunan.

Perhatikan Proses Perencanaan!

Ini adalah bagian yang paling saya tidak setuju dari proyek ini. Berdasarkan sumber yang saya dapat bahwa proyek ini telah melanggar proses perencanaan. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) belum beres tapi groundbreaking sudah dilakukan. Ini adalah kesalahan yang besar. Kita perlu tahu dulu dampak lingkungannya seperti apa dan apabila memberikan dampak yang buruk apa antisipasi untuk menguranginya. Sayangnya, groundbreaking dilakukan secara terburu-buru tanpa melihat AMDAL. Hal ini memberikan kesan bahwa seperti ada kepentingan nakal dalam proyek ini.

Ada beberapa ahli ekonomi atau ahli ekonomi dadakan yang menghitung cost-benefit dari proyek ini. Sayangnya, mereka hanya meghitung dari segi ekoomi saja dan hasilnya adalah rugi. Mereka lupa bahwa dalam perhitungan cost-benefit tidak hanya faktor ekonomi saja yang dihitung sosial dan lingkungan juga perlu dihitung. Padahal dengan adanya kereta ini dapat menguragi gas emisi sehingga efek rumah kaca dan risiko bengek pada masyarakat dapat terminimalisir.

Note:

Semoga kita dapat lebih bijak dalam menanggapi suatu kebijakan pemerintah. Jangan sok peduli rakyat atau lingkungan kalau tidak tahu manfaat apa yang akan kita peroleh. Kritis harus tapi akal sehat juga harus dipakai. Saya bukan pro pemerintah, tapi saya pro pada kebijakan yang menurut saya tepat dan memberikan manfaat. Saya hanya berpendapat pada sumber bacaan yang saya peroleh. Teman-teman bisa menyangkal dengan pendapat teman-teman sendiri, apalagi kalau teman-teman sudah membuat suatu penelitian tentang kasus ini.
Terima kasih.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP