Loading...
Friday, October 2, 2015

PWK versus PW

Dulu sempat mau bikit tentang tulisan ini, tapi takut menimbulkan kontrovesi. Hal itu dikarenakan pada saat itu pengetahuan cuma sebatas dari lingkungan kampus saja. Mudah-mudahan pengetahuan yang bertambah secuil itu bisa memeberikan sumbangsih bagi tulisan ini.

PWK? PW?
Kembali ke masa menjadi mahasiswa. Pasti ada bagi mahasiswa ada yang bingung membedakannya. PWK kepanjangan dari Perencanaan Wilayah dan Kota sedangkan PW kepanjangan dari Pengembangan Wilayah. Kedua program studi tersebut ada dan aktif di kampusku. Perbedaaanya adalah kalau PWK itu masuk Fakultas Teknik sedangkan PW masuk Fakultas Geografi. Apabila dilihat dari nama memang kedua prodi itu mempelajari hal yang sama, yaitu wilayah secara spasial untuk dikembangkan menjadi ruang yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia kedepannya.

Kesombongan Anak PW
Di kampusku, S1 PW memang lebih dahulu ada dibanding S1 PWK. Tapi jauh lebih dahulu ada S2 PWK (Magister Perencanaan Kota dan Daerah). Karena lebih dahulu itulah anak S1 PW suka menyombongkan diri dari anak S1 PWK. Ya, maklum lah mahasiswa suka membanggakan jurusannya masing-masing. Tapi karena aku anak PWK jadinya kesombongan tersebut enggak terlalu penting.

Kebetulan aku punya teman anak PW. Sombongnya bukan main. Mungkin cuma dia aja sih yang sombong tapi karenanya jadi mengeneralisasikan semua anak PW (maaf ya). Yang dia bilang seperti ini:
"Anak PWK aja minta ajarin GIS ke anak PW, ya jelas lah yang lebih unggul anak PW!"
"Kalau dalam suatu proyek pasti yang jadi team leader ya anak PW lah, anak PWK itu jadi bawahannya karena anak PW menguasai segalanya. Meskipun namanya Pengembangan Wilayah, tapi perkotaan juga dipelajari, jadi ga butuh anak PWK, anak PW aja cukup"

Kenapa aku sebagai anak PWK tidak terlalu memikirkan kesombongan tersebut? Karena anak PWK itu berpikir luas. Memang anak PWK tidak menguasai suatu hal secara mendetil tapi anak PWK mengerti semua hal. Anak PWK itu pasti biasa aja sama jurusannya sendiri karena anak PWK membutuhkan jurusan lain dalam pekerjaannya. Menghitung perekonomian, butuh anak ekonomi. Mempelajari budaya, butuh anak ilmu budaya. Mengetahui tingkat kesehatan, butuh anak kedokteran. MAsih banyak bidang ilmu lain yang diperlukan sama anak PWK. Jadi, enggak ada jurusan paling bagus di mata anak PWK. Dokter enggak bisa paraktik kalau rumah sakitnya enggak sesuai dengan kesesuaian lahan. Petani enggak bisa panen kalau sawahnya berada di lahan yang tandus. Semua itu ditentukan oleh anak PWK.

Aku sempat penasaran, apa sih yang dipelajari prodi PW selama kuliah. Semua mata kuliahnya berbau sains, keilmuan, dan alam banget. Makanya berpikirnya emang lurus. Padahal kenyataan bisa berkata lain. Hasil hitung-hitungan bisa tepat, tapi kenyataannya pasti ada yang melenceng apa lagi yang dikembangkan atau direncanakan itu adalah ruang bumi yang isinya manusia yang punya pikiran berbagai macam.

Lalu apa yang dipelajari di PWK? PWK mempelajari hal yang tidak pasti, rekayasa ruang, desain ruang yang nyaman. Aku sendiri hampir bingung kuliah di prodi ini karena serba tergantung. Tapi menariknya kita tidak terpaku sama aturan kaku seperti hitung-hitungan. Karena setiap keadaan bisa berubah secara dinamis.

Team Leader?
Setelah aku bekerja sekitar 1 bulan. Aku menemukan jawaban dari semua kesombongan anak PW. Orang yang bisa jadi team leader itu hanya anak PWK program magister atau doktor. Sudah jelas anak S1 enggak bisa jadi team leader. Tapi yang jelas yang bisa jadi team leader itu hanya PWK. Bidang lain seperti arsitek, teknik sipil, dan bidang keteknikan lain yang lebih spesifik jatuhnya akan jadi tenaga ahli. Kalau S1? udah jelas kalau S1 cuma jadi asisten tenaga ahli, bikin laporan, pengukuran, atau drafter.

Masih sombongkah anak PW? Enggak penting sombong mah karena itu hanya duniawi. Haha

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP