Loading...
Sunday, October 11, 2015

I Know You Are Just Kidding

Terkadang perbedaan membuat hubungan itu menjadi semakin kaku. Perbedaan itu seperti usia, status menikah, kelas sosial, kelas pekerjaan, dan masih banyak lagi. Kekakuan itu memang terjadi apabila baru pertama kali bertemu atau saling mengenal. Hal inilah yang selalu terjadi pada aku yang memang selalu jaim apabila baru pertama kali mengenal seseorang. Jaim di sini bukan berarti untuk memberikan kesan terbaik aku tapi takut menyinggung orang lain karena belum tentu semua orang bisa menerima sikap aku yang seperti ini.

Perbedaan seseorang yang masih single dan yang sudah menikah itu pasti ada. Katanya, orang yang sudah menikah itu biasanya lebih sensitif karena dia sudah memikul beban dua orang. Orang yang masih single masih bebas belum punya tanggung jawab yang lebih dan biasanya kadar bercandanya sangat liar. Maka dari itu, aku selalu berhati-hati dalam bercanda dengan orang yang sudah memiliki status relationship.

Hal yang membuat aku ingin mencurahkan dalam tulisan ini adalah hubunganku dengan orang yang lebih tua. Abaikan dengan kedua orang tuaku sendiri karena mereka itu sudah seperti teman dan sudah mengenal aku sejak dalam kandungan. Aku sendiri masih bingung bagaimana cara bisa berhubungan dengan orang yang lebih tua, aku tidak bisa menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri karena sifat mereka itu tidak seperti orang tua tetapi lebih ke rekan kerja. Satu hal lagi, orang yang lebih tua itu idealisme itu lebih tinggi, kurang bisa menerima perkembangan zaman, dan merasa dirinya paling pintar. Yes, pengalaman dan lama hidup memang membuktikan segalanya tapi terkadang ada kesombongan dikit yang agak mengganggu telinga.

Sedikit cerita saja, di tempat kerja selain aku ada seniorku yang berbeda dua tahun juga. Saat disebutkan namanya aku tidak mengenalnya. Tapi aku yakin kalau sudah bertemu dengannya pasti aku tahu wajahnya. Saat bertemu, yes aku mengenatuhi kalau dia seniorku tapi jelas aku enggak tahu namanya. Kami pun mengobrol panjang lebar, jelas seniorku pun mengetahuiku tapi tidak tahu namaku. Tiba-tiba salah satu rekan kerja yang sudah "tua" datang menceramahi aku, ya aku, dan berkata, "Makanya kalau ospek tuh ikut karena fungsi ospek itu untuk mengenal senior supaya punya hubungan yang baik. Kalau dilihat kamu itu enggak perbah bergaul dengan senior. Berbeda dengan saya, saya kenal dengan senior".
Dalam hatiku, "bapak kalau enggak tahu apa-apa tentang saya jangan sok tahu, bisa ditanyakan dulu benar enggaknya. Denger ya pak, saya ikut semua prosesi ospek jurusan. Jelas saya mengetahui senior-senior saya, hanya saja untuk nama memang agak sulit. Saya tahu kerjaan inipun dari senior saya, kurang mengenal apa saya mengenal senior? Di kampus saya senior yang sudah lulus pasti cari kerja dan keluar dari Jogja, mana ada waktu mereka datang ke kampus untuk mengikuti ospek. Ya jelas lah angkatan 3 tahun di atas saya tidak mengenal".

Semenjak itu, saya memang tidak begitu suka dengan bapak yang satu itu. Apalagi saat beliau ikut ke lokasi proyek pada saat mau presentasi. Aku memang enggak banyak ngomong kalau bersama rekan kerja yang lebih dewasa. Ilmu saya belum cukup untuk menimpali semua obrolan mereka. Ketika menceritakan tentang kampus, baru saya timpali karena mereka tidak sekampus dengan saya. Nah, si bapak yang sama juga mengomentari soalnya pendiamnya aku, saat aku disuruh mengantarkannya ke terminal.
Si bapak itu bilang gini:
"Kalau saya lihat kamu tuh banyak diam banget. Kerja di konsultan tuh harus banyak ngobrol, biar banyak link-nya. Ini saatnya buat kamu cari link, kalau diam aja buat apa"
Aku menjawab:
"Iya pak, saya kan masih baru, saya belum mengenal semuanya" Dalam hati gue, "Duh pak, gue bukan orang yang SKSD, belum kenal semua watak orang. Kalau gue berpendapat pasti dimentahkan, semuanya pendidikan tinggi enggak kaya gue. Enggak semua juga yang bisa nerima pendapat lulusan cetek kaya gue. Yang dah kerja 2-3 tahun tapi lulusan S1 aja selalu dimentahkan. Lagian kalau kerja ngobrol itu kapan beresnya pak?"

Selain itu, bapaknya selalu menganggap aku buta sama Bandung. Masa aku dibilang enggak tahu terminal Cicaheum karena aku kuliah 4 tahun di Jogja. Aku tahu bapak itu cuma bercanda dan memang kebetulan pikiran aku lagi mumet, akhirnya aku sensitif banget saat itu. Tapi ya cuma dalam hati aja, enggak mungkin aku marahin si bapak, bisa jantungan dia. Hahaha.

"Pak, saya tinggal di Bandung itu sudah 17 tahun. Semua penjuru Bandung sudah aku jelajahi kecuali gang-gang sempit. Cicaheum? Pak, saya pernah tinggal di Antapani pas saya masih bayi. Rumah kakek saya di Antapani, sekarang diisi sama sepupu saya. Dulu sering saya ke Antapani dan pastinya lewat Cicaheum, mana mungkin saya enggak tahu Antapani - Cicaheum."
Sudah kepalang stress, aku pun cerita semua ke mamah, si mamah juga cuma ketawa. Ngetawain anaknya yang dibilang enggak tahu Antapani, padahal pernah tinggal dan sering ke Antapani. Hahaha

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP