Loading...
Wednesday, September 2, 2015

Persahabatan Bagai Kepompong

Tiba-tiba di pagi hari yang dingin ini, aku ingin menulis tentang sahabat baik aku. Sahabat di masa SMA dan sampai saat ini kami masih sering kontak walaupun kami berada di kota yang berbeda.

Namanya adalah Kusuma Hani Putri, biasa dipanggi Hani. Aku kenal Hani saat kelas 1 SMA saat kami sama-sama mengikuti les privat fisika di rumah salah satu guru kami. Meskipun kimi berbeda kelas tapi kami saling mengenal untuk share tentang fisika. Persahabatan kami terus berlanjut di kelas 2 dan 3 SMA karena kami berada di dalam satu kelas yang sama. Hani itu enak diajak ngobrol orangnya, tidak hanya ngobrol ngalor-ngidul tak jelas saja tetapi ngobrol yang berbobot dan berintektual juga bisa dilakukan. Hal ini diakrenakan Hani merupakan salah satu anak yang cerdas di kelas.

Hnai orang yang welcome, jika sedang bosan pasti aku menyempatkan main ke rumah Hani. Keluarga Hani juga enak dan welcome pada semua teman-temannya Hani. Enaknya kalau main ke rumah Hani tuh pasti diajak makan, bisa nge-net gratis, atau nonton drama korea di siang hari karena Hani itu penggemar drama korea.

Suatu saat, Hani pernah ditusuk dari belakang oleh teman sebangkunya sendiri. Hal itu terjadi saat foto kelas. Setelah foto kelas, ada beberapa nak yang membentuk kelompok sendiri dan berfoto tanpa bilang kepada yang lain. Hani yang pada saat itu dekat dengan kelompok tertentu itu malah tidak diajak untuk berfoto. Tentu saja sakitnya bukan main, padahal pada saat itu Hani sudah menganggap mereka sebagai sahabatnya. Tapi ternyata dibalik semua itu Hani hanya dimanfaatkan untuk kepentingan akademik saja.

Kisah Hani yang memilukan tersebut membuat aku berpikir dan berhati-hati dalam memilih sahabat. Maksudnya, sahabat untuk berbagi kisah yang lebih pribadi. Masa SMA masih tergolong usia remaja, sehingga sensitivitas diri sangat besar. Apalagi yang menyangkut persahbatan, pasti akan terbawa dan akan menimbulkan trauma yang mendalam. Meskipun begitu, aku termasuk sahabat terbaiknya Hani. Alhamdulillah.

Menjelang kelulusan, Hani mengikuti PMDK IPB dan alhamdulillah Hani bisa lolos dan masuk ke Jurusan Ekonomi Pembangunan. Menurutnya, itu bukan keinginan terbesarnya, Hani ingin masuk ke UGM. Maka dari itu, Hani pun mencoba ujian masuk UGM namun sayangnya dia gagal. Akibat kegagalannya itu dia nangis dan ngurung diri di kamar hampir seminggu. Orang tuanya tidak bisa menenangkan Hani, begitu pula dengan sahabatnya. Namun, setelah seminggu berlalu, Hani bisa mengikhlasan ketidaklulusannya dan move-on dari UGM dan dia harus kuliah di IPB. Tahun 2014 dia lulus dengan predikat cumlaude.

Ketidaklulusan Hani di universitas negeri itu sebenarnya bukan apa-apa karena dia sudah diterima di universitas negeri lainnya. Berbeda dengan aku yang tidak lulus di universitas negeri. Aku harus merelakan masuk universitas swasta. Hani pun memberi semangat padaku untuk berjuang di universitas yang tidak aku inginkan. Semangat sahabat tentu membuat aku yakin walau di swasta aku pasti bisa berjuang. Hal terseut dibuktikan dengan IP semesterku yang di atas 3,51. Alhamdulillah.

Di tahun 2011, aku ingin mencoba kembali mengikuti SNMPTN tulis, itu didukung oleh kedua orang tuaku dan tentunya sahabatku. Alhamdulillah aku berhasil lulus dan masuk ke UGM. Aku tidak tahu Jogja karena belum pernah kesana sama sekali. Aku menghubungi Hani untuk menemaniku pergi ke Jogja dan menumpang di rumah saudaranya. Hani mau menolongku sekaligus berlibur ke Jogja. Hani dan keluarganya sangat berjasa. Saat pendaftaran yang membutuhkan waktu berhari-hari, aku terus diantarkan oleh Thifah sepupunya, kebetulan Thifah juga sedang kosong karena dia juga mau masuk universitas pada tahun yang sama denganku.

Setiap aku dan Hani berada di Bandung, biasanya kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Sekedar untuk mengunjungi sekolah, jalan-jalan, nonton, dan lain sebagainya. Terakhir saat aku sedang berada di Bandung bulan Juli kemarin, kami bertemu karena sudah hampir setaun kami tidak bertemu lagi. Kebetulan kami memiliki hobi yang sama, yaitu makan.

Nama Hani sebagai sahabat terbaikku memang tidak akan pernah aku lupakan. Hal itu juga aku simpan dalam Tugas Akhir-ku di halaman persembahan. "Kusuma Hani Putri, Athifah Nur Fauziah, Pak de, Buk de, dan keluarga besar yang telah membantuku dan memberikan tempat untuk hidup di Jogja selama aku mendaftar di UGM karena aku buta sekali tentang Jogja".

Terima kasih banyak sahabat karena tanpa kamu dunia ini memang terasa hampa. Lebih baik mempunyai sahabat sedikit namun berati daripada teman banyak yang hanya menyerap intisarinya saja. 

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP