Loading...
Thursday, September 24, 2015

Nasib Si Anak Bawang

Setelah resmi lulus dari perkuliahan, aku enggak ada pikiran sama sekali kerja di dalam bidang yang sama dengan jurusan kuliah. Pada saat itu sangat terpengaruh pada sistem kasta di perkuliahan. Si bos yang memegang kendali di mata kuliah studio membuat orang minoritas seperti aku menjadi kerdil di bidang perencanaan. Maka dari itu, niatan untuk bekerja di bidang perencanaan memang tidak ada sama sekali. Angan-angan sudah berada di dalam suatu ruangan dengan banyak pengunjung, menyajikan makanan dan minuman untuk pengunjung, dengan tatanan ruangan seperti kota kecil, yaps punya kafe adalah keinginanku saat itu.

Sebelum wisuda, orang-orang sudah banyak yang mendaftar menjadi tenaga kontrak di Kementrian-lah, pusat studi-lah, atau ikut proyek dosen. Mungkin cuma aku yang belum ngapa-ngapain. Tapi takdir berkata lain, disaat orang yang melamar menjadi tenaga kontrak banyak ditolak atau tidak ada kelanjutan berikutnya, aku malah diajak senior untuk menjadi tenaga kontrak di salah satu konsultan di Bandung, tepat di kota dimana saya dibesarkan selama 18 tahun. Ternyata takdirku memang berada di bidang perencanaan saat ini, aku pun mengikuti arus yang sudah Allah rencanakan.

Dunia kerja memang berbeda dengan perkuliahan walaupun kegiatan yang dilakukan mirip-mirip. Perbedaannya adalah di bidang pergaulan. Sudah tidak bergaul dengan orang-orang seumuran yang masih labil, egois, dan tingkat idealisme yang tinggi. Sekarang bergaul dengan orang-orang yang jauh lebih dewasa, mungkin umurnya bisa 2 kali atau 2,5 kali umurku. Dengan segala kedewasaan yang mereka miliki mereka membimbingku dalam bekerja.

Dimarahi? bukan masalah. Mental ini sudah teruji sejak SMP. Belum lagi dimarahi senior itu tidak masalah, aku menyadari aku masih anak bawang dengan kapasitas aku yang masih minim. Berbeda dengan dimarahi teman seangkatan atau semumuran, inginnya nonjok tuh orang. Sok pinter banget tuh orang. Meskipun dimarahin sudah biasa, tapi kebiasaan nyinyir ini belum berhenti dari semenjak kuliah di Jogja. Nyinyir itu menjadi pelega problematika hidup, setelah nyinyir selesai kegiatan kembali dilaksanakan seperti tidak ada masalah.

Namanya anak bawang pastinya sering disuruh ini itu. Bapaknya minta ini lah itu lah. Kadang yang jadi masalah karena dalam satu tim ada banyak petinggi sehingga aku bingung harus melakukan seperti apa. Layaknya skripsian dengan dua dosen pembimbing, yang satu inginnya ini, yang satu inginnya itu. Keduanya agak sulit disatukan. Salah satu ada yang mikir kejauhan, salah satu ada yang mikir simpel. Hingga pada akhirnya aku panik dan jadi bego mendadak. Mau memberikan pendapat pasti terpatahkan karena sistem kesenioran itu sangat berlalu. Senior tidak ada yang mau mengalah terkadang aku mengerjakan sesuatu sampai dua kali biar terlihat kerja. Aku sampai pusing mana kerjaan aku masih banyak.

Hal yang paling parah adalah dua hari yang lalu saat berada di Penajam. Bapak A menyuruhku untuk ambil data A, aku bilang pak sudah ada tapi tetap harus ambil di kecamatan. Aku juga bilang lebih baik sekalian pulang aja biar enggak bulak-balik mobilnya, eh tetap dipatahkan kalau aku pergi sendiri. Sedangkan Bapak B bilang enggak perlu, itu data ga perlu. Aku bingung dan kebetulan mobil jemputannya belum datang. Pada akhirnya Bapak direktur yang turun tangan dan meyakinkan kalau aku tidak perlu mengambil data tersebut. Akhirnya enggak jadi deh tuh data diambil.

Si Bapak A juga menyuruhku datang ke provinsi untuk ambil data. Aku udah bilang sudah ada tapi si Bapak A terus maksa supaya aku ke Samarinda. Yo wes aku nurut. Pak Direktur nanya data apa yang disuruh Bapak A dan mendengar jawabanku kalau datanya sudah ada, Pak Direktur kesal sendiri sama Bapak A dan akhirnya menyuruhku pulang saja ke Bandung saat itu juga. Untungnya aku masih diperhatikan sih enggak dibiarin gitu aja. Aku kembali pusing, sambil nunggu sendirian di bandara ga jelas. Rasanya ingin jedotin kepala sampai berdarah. Haha. 

Begitulah kira-kira nasib si anak bawang. Harus banyak sabar. Obat yang paling manjur dalam menanggulangi masalah ini adalah curhat dan nyinyir. Setelah itu beres. Si anak bawang ini kalau belum akrab memang ga banyak omong, takut, harus mempelajari karakter setiap orang dulu. Ya semoga aja aku bisa tetap bekerja dengan baik dan enggak memalukan almamater. Biar almamater enggak salah meluluskan orang kaya aku, Haha.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP