Loading...
Thursday, September 10, 2015

Nama Unik dan Bahan Olokan

Fenomena nama unik yang mulai terkuak di waktu sekarang memang sedang mewabah. Di berbagai sosial media, contohnya instagram semua gambar identitas diri menyebar dan dapat dinikmati oleh semua orang. Semuanya bertujuan hanya sekedar untuk hiburan semata. Mulai dari Etika Silit Asin, Tuhan, Saiton, Selamet Dunia Akhirat, Andy Go To School, bahkan ada yang bernama satu karakter saja, seperti D, Y, dan . (tanda titik). --coba bayangkan bagaimana cara membaca (.)? Mengapa tidak diberi nama Titik sekalian?
Sumber: http://img.duniaku.net/wp-content/uploads/2015/08/Nama-KTP-Unik-Tuhan-Saiton-Selamet.jpg

Saya sendiri sebagai penikmat sosial media, cukup terhibur dengan adanya nama-nama unik tersebut yang membuat saya tertawa terbahak-bahak sendiri. Berbagai komentar-komentar pun menghiasi bagian komentar di postingan foto tersebut yang rata-rata semua terhibur dan tertawa dengan nama-nama tersebut. Namun dibalik itu semua memang ada yang kurang setuju dengan menyebarnya identitas yang seharusnya bersifat pribadi. Hal itu dikarenakan nama adalah pemberian orang tua. Orang tua memiliki tujuan tertentu memberikan nama tersebut dan umumnya merupakan doa dan pengharapan kepada anak di masa yang akan datang.

Beberapa hari yang lalu saya melihat tayangan televisi yang membahas mengenai nama-nama unik tersebut. Ada seorang psikolog yang berpendapat bahwa orang tua harus memberikan nama yang tepat dan bisa memprediksikan bagaimana psikologi anak di masa yang akan datang. Apakah di masa sekolah anak-anak menjadi bahan olokan atau tidak, semuanya harus bisa diprediksikan agar anak bisa berkembang secara normal khususnya dalam pergaulan. Orang tua tidak harus memberikan nama Anton, Ani, Budi, atau nama-nama mainstream lainnya tetapi nama yang lazim dijadikan sebuah nama. Bukan dalam pergaulan saja, kedepannya apabila akan mendaftar ini itu pasti akan sulit.

Saya enggak sekedar bicara saja karena saya merupakan salah seorang anak yang diberikan nama oleh orang tua dengan agak "asal". Diva Teguh Respati, Diva itu merupakan nama yang tidak lazim diberikan kepada seorang anak laki-laki. Entah apa yang dipikirkan oleh orang tuaku saat itu. Awalnya mau diberikan nama Dewa, tapi nenek tidak setuju alhasil Diva-lah yang berhasil tersematkan di nama saya hingga saat ini.

Saat kemunuculan tokoh penjahat wanita dalam serial Power Ranger yaitu Diva Tox, acara televisi Diva Dangdut dan Diva Romeo adalah masa-masa tersulit dalam hidup saya. Ejekan dan hinaan bertubi-tubi terlayangkan pada saya. Mengapa Diva identik sekali dengan seorang perempuan, setelah membaca arti nama dalam buku pintar ternyata Diva berarti primadona. Cukup terpukul, malu, dan malas bergaul selama masa-masa sekolah akibat nama tersebut.

Setelah lulus sekolah saya mulai berprinsip apalah arti sebuah nama. Banyak orang yang bilang termasuk dari segi agama bahwa nama itu penting, tapi menurut saya itu tidak penting. Hal yang terpenting adalah apa yang kita lakukan di dunia ini. Jika memperkenalkan diri, saya masih sering jadi bahan banyolan, tapi saya menyikapinya biasa saja. Saya juga lebih terbiasa dipanggil Diva karena lebih simpel meskipun kadang agak kurang suka dipanggil Diva lebih nyaman dipanggil Akang seperti panggilan teman-teman kuliah saya. Terserah prinsip saya ini salah atau tidak karena banyak orang yang memiliki nama yang bagus tapi kelakuan masih buruk. Banyak orang yang bernama Muhammad tapi sikapnya tidak ada yang mencerminkan sosok Rasulullah.

Intinya adalah untuk para anak yang sekarang sudah dewasa dan memiliki nama yang unik bersikaplah dewasa. Untuk orang tua yang akan memberikan nama pada anaknya, pilihlah nama yang tepat dan prediksikan masa depan si anak.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP