Loading...
Sunday, July 5, 2015

Cerita Perkulihan

Sedikit berbagi kebahagian meskipun sebenarnya ini sudah agak terlambat. Alhamdulillahhirabbilalamin akhirnya, aku bisa lulus juga dari kuliah yang telah aku jalani kurang lebih selama 4 tahun ini. Masih enggak percaya seorang anak yang biasa-biasa ini bisa menyelesaikan perkuliahan ini. Proses demi proses aku jalani hingga akhirnya aku sampai ke garis finish. Banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam berproses dan semuanya bisa berjalan lancar berkat Allah dan dukungan dari semua pihak terutama orang tua dan teman-temanku. Walaupun aku tidak bisa membalasnya dengan materi tapi aku hanya bisa membalasnya dengan doa saja.

Kuliah Itu Belajar Memperdalam Passion Kita
Sebelum aku kuliah di Yogyakarta. aku sempat kuliah di Bandung selama satu tahun, tepatnya di Jurusan Teknik Mesin. Jujur, Teknik Mesin bukan passion aku. Aku enggak ada minat sama sekali di bidang permesinan, bongkar-bongkar mesin motor aja aku enggak pernah, apalagi aku ini tergolong anak yang bersih, males banget harus kotor-kotoran megang oli. Haha. Bahkan setelah lulus dari teknik mesin aku sempat berpikir, aku nanti bakal kerja jadi apa? apa aku bakal dipakai di perusahaan? banyak ketakutan-ketakuan setelah nanti lulus. Tapi setelah dijalani, aku nyaman kuliah di teknik mesin. nilai-nilai aku bagus secara teori bahkan aku sering membantu teman-temanku dalam mengerjakan tugas. Passion mulai bangkit dalam diri aku. Tapi, masih ada ketertarikan lain dalam diri di luar bidang permesinan, yaitu sipil dan infrastruktur.
Di akhir semester 2, aku memutuskan untuk mencoba mengikuti lagi tes masuk perguruan tinggi negeri. Perbedaan swasta dan negeri membuat ketimpangan dalam mencari kerja. Banyak yang bilang, lulusan negeri lebih mudah untuk diterima kerja. Itu membuat aku yakin untuk mengikuti tes lagi. Alhamdulillahnya, aku berhasil di terima di jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) di universitas terbaik se-Indonesia. Cukup bertolak belakang dari kuliah aku yang lama. Sebenarnya aku berada di antara dua pilihan, yaitu teknik mesin atau teknik sipil. Aku pilih teknik sipil karena itu lebih ke passion aku. Tapi aku takut tidak diterima di teknik sipil, akhirnya aku memilih teknik planologi sebagai jurusan yang mirip-mirip dengan sipil. Setelah menjalani kuliah, aku memiliki target IPK cumlaude sama seperti aku kuliah di teknik mesin dahulu. Tapi ternyata, IPK sampai semester 2 tidak sesuai dengan target. Perkuliahan di sini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kurikulumnya tidak sama seperti kiblat aku pada ITB. Tapi ya aku jalani saja, masa mau pindah lagi?

Sesampainya di semester akhir, aku berpikir. Ternyata kuliah yang aku pilih ini sesuai dengan pasiion kita. Dari kecil aku memang suka menata kota, membuat jalan jembatan, dan menggunakan mobil-mobilan untuk melintasi kota yang aku buat. Ini memang jalanku dan semakin lama aku suka dengan jurusan ini. Semenjak itu aku berpikir bahwa aku tidak salah jurusan, aku berada di jurusan yang tepat. Hal yang terpenting adalah ini semua adalah rencana Allah, Allah sudah memberikan jalan terbaik buat aku. Terima kasih ya Allah.

Tugas Akhir Itu Proses Menuju Kesempuranaan Bukan Membuat Suatu Hal yang Sempurna Secara Langsung
Untuk dapat mengambil tugas akhir perlu mengikuti kuliah metode penelitian di semester 6, seminar perencanaan di semester 7, dan telah selesai mengambil mata kuliah. Jadi, tugas akhir tidak dapat disambi dengan kuliah. Sejak semester 6 kami sudah diberi pilihan dalam tugas akhir, mau ambil penelitian atau perencanaan. Secara idealis, aku bersikukuh untuk mengambil perencanaan walaupun anak-anak yang tugas akhirnya perencanaan itu lama, paling cepat ya 4 tahun lulusnya. Tidak masalah, karena aku kuliah di perencanaan kenapa harus meneliti. Dalam menentukan judul tugas akhirpun, aku tidak berubah dari semester 6, hanya saja redaksionalnya saja yang berbeda.

Selama mengerjakan tugas akhir itu ternyata ada naik turunnya yang bikin aku jerawatan seperti masa puber 4 tahun yang lalu. Aku juga mengalami penghinaan dari temanku tentang pemilihan judul dan isi skripsi yang membuat aku drop bahkan enggak mau untuk maju sidang yang tinggal 3 hari lagi. Aku sudah pasrah lulusnya bakal ngaret daripada aku menampilkan karya yang memang enggak layak untuk dibuat sebagai tugas akhir. Akupun menceritakan semuanya pada dosen pembimbingku dan beliau menguatkanku hingga aku bangkit dan menyelesaikan sidangku.

Sedikit menceritakan teman yang menghinaku. Penghinaan itu memang tidak terjadi pada diri aku saja. Banyak teman-teman yang mau sidang menerima penghinaan yang sama. Tapi tahu tidak, bahwa teman yang melakukan penghinaan tersebut sebenarnya belum mengikuti sidang, bahkan judul yang dia ajukan pada dosen pembimbingnya belum di acc secara penuh. Hal itu dikarena dia orang yang perfectsionis, selalu ingin mempunyai ide yang sempurna namun tidak kesampaian. Kalau kita menginginkan karya sempurna langsung itu tidak mungkin, mugkin kamu akan selesai kuliah 10 tahun lagi. Apalagi kita ini masih S1, jangan ribetlah dalam mencari judul. Sedangkan aku memilih judul yang ecek-ecek, namun berkat seringnya berkonsultasi pada dosen pembimbing, beliau memberikan masukan yang banyak sehingga karya yang aku buat bisa menjadi layak untuk dipajang di perpus walaupun tidak sempurna. Aku membuat dengan proses untuk menjadi sempurna bukan mencari kesempurnaan disaat ilmu kita belum sampai.

Resmi Lulus Mau Apa?
Kegalauan-kegalauan mulai menerpa diri disaat sudah lulus belum mempunyai target untuk berkerja. Banyak teman-teman yang belum bekerja pula merasa sulit untuk memperoleh pekerjaan. Saat ini, aku pun belum bekerja, masih menikmati liburan sambil menunggu wisuda. Target-target sudah ada. Aku sudah ingin bekerja di kementerian, di dinas, konsultan, atau buka restoran. Doalan saja semoga target aku dapat tercapai. 

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP