Loading...
Thursday, July 9, 2015

Aku, Skripsi, dan Dayeuhkolot

Terima kasih ya Allah. Terima kasih telah mempermudah jalanku selama mengerjakan skripsi ini. Terima kasih telah memberikan dosen pembimbing, dosen penguji, dan sahabat-sahabat terbaik yang terus memberiku semangat. Terima kasih.
Seperti yang pernah aku ceritakan pada postingan sebelumnya, semester 6 adalah saat dimana mahasiswa harus memikirkan judul skripsi. Setiap orang pasti memiliki pertimbangan masing-masing dalam penentuan judul skripsi. Berhubung skripsi aku harus berdasarkan lokasi dan permesalahan, maka ada tiga pertimbangan yang aku ambil, yaitu lokasi, kekinian, dan penting. Lokasi harus di Bandung karena supaya aku bisa pulang dan bisa tinggal di rumah, Kekinian maksudnya adalah permasalahannya yang aku pecahkan itu harus up-to-date enggak basi gitu. Terakhir adalah penting, skripsi yang aku buat harus menjadi penting untuk dibuat, bisa memecahkan masalah yang sampai sekarang tidak terpecahkan, bisa mengubah yang sampai sekarang sulit diubah. Tapi yang perlu diingan adalah harus masuk akal dan jangan berpikiran dapat mengubah dunia. Hihi. Kita hanya manusia bukan Tuhan.

Dayeuhkolot Kota Banjir
Mungkin banyak yang belum tahu Dayeuhkolot itu di mana, tapi mungkin hampir seluruh Indonesia tahu kalau Dayeuhkolot itu langganan banjir. Ya, Dayeuhkolot itu adalah salah satu kota kecil yang ada di wilayah Kabupaten Bandung. Jaraknya sekitar 10 km ke arah selatan dari pusat Kota Bandung. Aku memutuskan untuk memilih Dayeuhkolot sebagai lokasi tugas akhir karena ada Sungai Citarum yang melaluinya. Sungai Citarum sebenarnya bisa dijadikan aset sumberdaya, seperti pemenuhan kebutuhan air bersih dan juga objek pariwisata. Namun keadaannya sangat memprihatinkan. Apalagi, Sungai Citarum itu menjadi pemenuhan listrik di Jawa dan Bali. Maka aku memutuskan untuk mengambil tema pelestarian sumberdaya air Sungai Citarum melalui penataan ruang Kota Dayeuhkolot.

Kondisi di Sekitar Sungai Citarum

Akhir tahun 2014, stasiun televisi nasional memberitakan banjir di Dayeuhkolot. Antara sedih dan senang, sedih karena banjir terjadi lagi dan menjadi sorotan nasional, senang karena ini kesempatan untuk dijadikan skripsi, dengan kata lain tema yang aku ambil itu kekinian dan penting. Dengan begitu, perubahan tema pun dilakukan menjadi Penataan Ruang Kota Dayeuhkolot sebagai Upaya Penanggulangan Banjir Sungai Citarum. Penanggulangan banjir yang saat ini banyak dilakukan di Indonesia adalah dengan pengerukkan dan pembuatan tanggul, hal tersebut benar namun tidak berkelanjutan karena banjir akan terus terjadi. Sedangkan penataan ruang merupakan upaya yang berkelanjutan dan berjangka panjang.

Kemudahan, Kemudahan, dan Kemudahan
Jujur saja, selama mengerjakan skripsi ini aku banyak diberikan kemudahan, baik dalam persetujuan judul, perizinan, memperoleh data, persetujuan maju sidang, sidang, hingga memperoleh tanda tangan pengesahan dosen. Meskipun mudah bukan berarti tanpa tantangan, bisa dilihat dari wajahku yang awalnya awet muda dan mulu kini tumbuh jerawat-jerawat kecil seperti masa pubertas dulu, ditambahlagi pori-pori kulit membesar dan kerutan di wajah karena selalu terpapar radiasi laptop serta tidur yang selalu larut :'(. 

Dimulai dari pemilihan dosen pembimbing. Aku sebenarnya kurang begitu suka dengan dosen yang menjadi pembimbingku sekarang, pasalnya setiap mata kuliahnya aku tidak pernah mendapatkan nilai A, paling tinggi A- dan paling rendah B. Bahkan mata kuliah pilihan yang diampu oleh beliau, aku tidak pernah ambil. Tapi tidak tahu kenapa, dalam pemilihan dosen pembibing aku memilih beliau. Pertimbangannya adalah beliau master dalam urban design, master arsitektur lansekap, pokonya master dalam membuat keindahan-keindahan dalam bentuk fisik dan lingkungan. Dalam tugas akhirku juga memasukkan unsur lingkungan dan desain ruang (sok sok aja bisa bikin desain bagus, padahal aku ga bisa gambar sama sekali). Saat pengumuman beliaulah yang menjadi dosen pembimbingku. Senang banget tapi ada satu ketakutan, yaitu tidak bisa membanggakan beliau dalam membuat perencanaan.

Setelah Ujian Seminar Proposal

Saat ujian proposal, alhamdulillah diberikan kemudahan. Tidak banyak yang dikomentari, malah disuruh baca referensi ini itu, ditambah ini itu, mungkin juga karena aku presentasi terakhir ba[aknya sudah lelah ingin istirahat. Setelah ujian seminar selesai, aku langsung mengurus perizinan survei ke jurusan dan Kesbanglinmas DIY. Pada saat aku meminta tanda tagan dosen pembimbing di prosposal, Bapaknya cuma bilang, "sini tak tanda tangani, survei dulu saja supaya tau permasalahann di sana apa". Duh bapaknya baik banget!

Setelah perizinan beres, aku langsung pulang ke Bandung naik motor. Motor dibawa untuk memenuhi kebutuhan surveiku di Bandung karena motor di rumah suka bermasalah. Sesampainya di Bandung yang pertama diurus adalah perizinan, Setelah izin ke Jawa Barat yang cuma 10 menit, besoknya aku harus ke Soreang. Hampir tiap hari Margaasih - Soreang sekitar 30 menit, Soreang - Dayeuhkolot 45 menit, Dayeuhkolot - Margaasih 1 jam. Di Soreang, perizinan memang sangat mudah, bahkan disposisi bisa cepat, hanya saja tetap perlu menunggu beberapa hari untuk menemukan data yang aku perlukan. Belum lagi dikomentari dulu soal judul skripsi aku. Duh berasa sidang duluan. Beruntungnya, sepupu aku mempunyai data-data yang aku perlukan sehingga aku tidak perlu ke instansi. Lalu, data-data yang tidak tersedia di instansi bisa aku peroleh dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Semua sudah tersedia, tinggal aku olah.

Kembali ke Jogja, aku melaporkan semua hasil survei. Aku merencanakan seminggu sekali untuk bimbingan, tapi gagal alhasil cuma dua minggu sekali. Setiap bimbingan, bapaknya memberikan banyak ide dan inspirasi, tidak mengomentari hasil yang aku kerjakan, komentarnya cuma, "teruske". Jujur aku bingung, apa yang harus diteruskan. Aku cuma mahasiswa bodoh karena tidak banyak tanya. Bimbingan 10 menit kelar. Aku takut terjerumus dengan kemudahan ini. Pada saat aku mengajukan sidang pra-tugas akhir bulan Mei, bapaknya cuma bilang boleh. Padahal aku ingin dihalang-halangi dulu, biar menjadi produk yang sempurna.

Bulai Mei aku sidang pra-tugas akhir. Pengujinya adalah dosen muda yang kritis. Banyak mahasiswa takut dengan beliau karena sering dijatuhkan. Tapi pada saat aku yang diuji, cara penulisanku dipuji, tapi tetap banyak yang kurang dan harus revisi. Bulan Juni aku maju sidang pendadaran, tidak ada ketakutan untuk sidang karena aku lebih ke pasrah. Kalau misalnya aku enggak lulus masih tetap bisa ngejar wisuda bulan Agustus. Tapi yang bikin aku drop adalah jadwal sidangku bentrok dengan kuliah Engineering Ethic dan komentar temen aku yang bikin drop. Tapi untungnya semua itu bisa dilalui dan aku dinyatakan lulus walaupun belum ada nilainya.

Setelah Sidang Pendadaran

Hasil yang Memuaskan
Setelah perjuangan yang cukup panjang, aku sangat pasrah dengan hasil yang diperoleh. Mau nilainya jelek juga bodo amat, yang penting lulus hahaha. Saat salah satu temanku mengumukan bahwa nilai Tugas Akhir sudah keluar, aku cukup deg-degan juga. Aku sih udah yakin kalau enggak B, B+, atau A-, ga mungkin dapet A lah pokoknya. Tapi gak disangka dan enggak diduga-duga aku dapat nilai maksimal. Alhamdulillah, padahal aku masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan.

Surat Keterangan Lulus

Katanya, saat dosen memberikan nilai, itu masih bisa didebat, apakah mahasiswa tersebut layak mendapatkan nilai tersebut atau tidak. Aku tidak tahu prosesya, itu hanya Tuhan dan dosen-dosen yang tahu. Nilai ini juga menjadi beban juga sih dan pertanggungjawabannya sangat berat. Tapi karya yang aku buat ini semoga menjadi inspirasi bagi siapapun pihaknya. Amin.

Sekarang?
Ya, udah lulus tinggal wisuda dan masih nganggur. Rencananya aku mau berwirausaha, tapi masih ngumpulin modal sama nyari yang mau diajak kerjasama. Semoga usaha yang mau aku jalankan ini bisa terealisasikan. Amin. Tapi aku juga mau kerja di kementerian atau konsultan. Amin juga. :)


0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP