Loading...
Sunday, January 25, 2015

Krisis Pertemanan

Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa sedang mengalami krisis pertemanan. Aku merasa teman-teman banyak yang menjauhi aku tanpa sebab dan alasan yang jelas. Alu enggak ngerti kesalahan aku di mana. Padahal aku selalu menjadikan setiap orang sebagai sahabat terbaik dan aku selalu melakukan hal yang terbaik buat mereka. Aku tidak mengharapkan imbalan sedikit pun. Dengan kehadiran mereka di sekeliling aku sudah cukup membuat aku bahagia.

Jujur, aku ternyata bukan manusia yang betah sikap pendiam. Kebutuhan sosial ternyata merupakan kebutuhan buat aku. Saat bersama seseorang, bukan aku harus ngobrol tetapi aku ingin ngobrol. Walaupun aku hanya jadi pendengar yang baik tapi aku senang berinteraksi. Berdiam diri di kos atau di rumah bukan kesukaanku. Aku lebih senang berjalan-jalan keluar meski sendiri.

Bisa dibilang aku adalag orang yang tukang ngajak. Ngajak makan, ngajak jalan, ngajak main, dan ngajak semuanya. Untungmya yang diajak memang menawarkan diri. Namun, kemudahan mengajak orang otu tiba-tiba sirna. Ketika semuanya, secara serentak sulit untuk diajak. Aku tidak bisa memaksa. Dari situ aku mulai sendirian. Aku tidak mengerti. Aku mengganti prinsip menjadi orang yang diajak dan bukan orang yang mengajak. Hal ini dikarenakan setiap aku mengajak pasti orang yang diajak tidak menunjukkan antusias yang sama, sehingga tidak saling ketemu. Apabila ada orang yang mengajak, aku selalu berantusias lebih dari ajakan itu, sehingga pasti ketemu.

Sebagai contoh, ada temanku datang ke Jogja, sebut saja namanya Silvi. Dia datang untuk liburan bersama teman-temannya. Dia sudah jelas tau kalau aku kuliah di Jogja. Dia cuma update di path tanpa memberitahu aku atau mengajak ketemuan. Aku mengajak ketemuan, tapi ia menolak secara tidak langsung dengan alasan gimana teman-temannya. Sebenarnya agak gondok sih, tapi ya sudahlah mungkin dia lelah bila ketemu aku.

Lain cerita dengan temanku Mona dan Indra yang keduanya adalah teman SMP ku. Mona sedang liburan bersama keluarganya ke Jogja. Dia mengajak aku untuk ketemu walaupun sebentar ingin banget ketemu aku. Aku pun dengan antusias ke Jogja dari tempat KKN untuk menemui Mona. Pada saat itu tempat pertemuan hanya di pinggir Jalan Malioboro tapi kami senang bisa berjumpa. Begitu pula dengan Indra yang ke Jogja untuk pertandingan softball bersama teman-temannya. Padahal dia sama teman-temannya, tapi dia mengajak aku untuk bertemu. Aku tentu menyempatkan waktu untuk menemui Indra dan mengajaknya ke beberapa tempat nongkrong di Jogja.

Nah, saat ini tidak ada yang mengajakku sama sekali. Alhasil aku merasa saat ini krisis benar-benar sedang memuncak. Aku sendiri merasa memberikan hal yang terbaik pada teman-temanku. Aku tidak mengistilahkan teman dekat, geng, atau apalah. Semua yang mengenalku adalah temanku dan semua berhak aku berikan kebaikan. Tapi aku tak lupa berkaca. Mungkin kekurangan dan keburukan aku banyak sehingga aku tak pantas didekati orang. Semoga aku masih layak dan bisa dekat dengan teman-temanku.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP