Loading...
Sunday, November 23, 2014

Kemirisan Saat BBM Naik

Rencana pemerintah akan menaikkan harga BBM sudah muncul saat presiden baru saja terpilih. Aksi penolakkan muncul di berbagai daerah dengan alasan akan menyengsarakan rakyat miskin. Dampak dari kenaikan BBM adalah semua harga kebutuhan akan naik sedangkan daya beli masyarakat akan menurun karena tidak seimbang dengan pendapatan mereka.

Alasan pemerintah menaikkan harga BBM adalah karena BBM bersubsidi itu salah sasaran. Subsidi seharusnya diberikan kepada masyarakat miskin tapi kenyataannya masyarakan menengah ke atas juga bisa menikmati subsidi tersebut. Rencananya subsidi tersebut akan langsung diberikan langsung ke masyarakat dengan kartu-kartu andalah presiden yang baru.

Tujuan presiden itu adalah mengubah sikap kita dari konsumtif ke produktif, saat pengumuman naiknya harga BBM beberapa minggu yang lalu. Kata-kata itu membuat saya tersentuh dan cukup sedih. Kenapa? Ya, benar! Kita, Indonesia, adalah masyarakat yang konsumtif. Semuanya ketergantungan dengan kendaraan bermotor. Mau ke toko yang jaraknya 5 meter aja naik motor, mau ke sekolah naik motor, pokoknya tidak bisa lepas dari yang namanya kendaraan bermotor. Hal itu juga terjadi di semua kalangan, bukan hanya orang dewasa yang berhak mengendarai motor bahkan anak kecil saja sudah dibiasakan menggunakan kendaraan bermotor. Miris!

Hal yang paling memalukan saat harga BBM naik adalah masyarakat yang memiliki kendaraan bermotorlah yang paling kencang berteriak penolakan harga BBM. Padahal apabila dia memiliki kendaraan bermotor apa artinya uang dua ribu, buat parkir saja masih bisa bayar, cuma buat beli BBM saja marah-marah.

Apalagi saat BBM diumumkan naik, otang-orang berbondong-bondong ke SPBU untuk membeli BBM dengan harga lama. Secara ekonomi itu hal wajar, tetapi secara norma itu adalah perilaku rakus dan hanya mementingkan perut sendiri. Pernah tidak berpikir bumi ini sudah terlalu tua untuk disedot minyak buminya dan menerima gas buangan dari kendaraan bermotor. Adakah yang peduli dengan bumi? Tidak ada! Selama bumi tidak marah lebih baik kita manfaatkan. Benar?!

Produktif. Ya, sebenarnya pengeluaran bisa ditekan apabila kita bisa berpikir kreatif tanpa mengurangi produktivitas kita. Kenapa tidak menggunakan sepeda atau kendaraan umum? Kenapa tidak memasak sendiri dibanding harus membeli? Kenapa gengsi itu lebih tinggi?

Sedih tapi beginilah orang Indonesia. Perut masih jadi kepentingan utama. Kalau saja otak yang diutamakan, Indonesia pasti bisa berubah karena mempunyai orang-orang yang berubah. Bukan hanya vokal untuk mengkritisi tapi vokal untuk melakukan suatu perubahan!

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP