Loading...
Thursday, June 26, 2014

Pulang Aman Tanpa Kendala

Ujian akhir semester genap telah berakhir, saatnya menikmati kebebasan setelah kejenuhan tingkat tinggi dalam menempuh ilmu di perguruan tinggi. Setelah ujian berakhir, tentu tak lupa bermain bersama teman-teman melepas kepenatan sekaligus perpisahan.

Bagi mahasiswa perantauan tentu menentukan waktu pulang itu agak sulit, apalagi bagi yang rumahnya jauh. Pilihan moda transportasi kereta adalah yang paling tepat karena murah. Tentu saja, kereta adalah moda transportasi yang bermain dengan waktu. Pemilihan waktu jauh-jauh hari dan ketelitian harus diperhitungkan dan diperhatikan secara seksama. Kesalahan sedikit dapat mengakibatkan kerugian.

Pemilihan waktu pulang jatuh pada tanggal 24 Juni 2014. Hal tersebut dirasa tepat karena kegiatan akademik sudah berakhir. Tingal kumpul persiapan KKN, itupun hari sebelumnya aku menyempatkan diri untuk kumpul selebihnya aku izin. Saat membeli tiket, antrian loket di Stasiun Lempuyangan memang sangat padat. Aku harus menunggu 100 antrian yang menghabiskan waktu 1,5 jam. Dan saat nomorku dipanggil, teryata tiket kereta api Kahuripan dari Lempuyangan ke Kiaracondong sudah habis hingga tanggal 28 Juni. Akhirnya aku memilih Kutojaya Selatan dari Kutoarjo pada tanggal 24 Juni 2014.

Entah apa yang ada dipikiranku memilih kereta api yang pernah membuatku 32 jam berada di perjalanan Jogja - Bandung. Tapi, jika jadwal pulang diundur-undur terus kapan aku pulangnya. Setelah memegang tiket kereta api itu aku terus berpikir, bagaimana agar kejadian satu tahun yang lalu tidak terulang lagi. Ada dua opsi pada saat itu. Pertama, Senin malam aku berangkat dari Jogja dan mnginap di stasiun atau penginapan sekitar stasiun. Kedua, aku berangkat Selasa subuh baik bus atau Prameks ke Kutoarjo. Perasaan dag dig dug ser terus berkecamuk karena ketakutan kejadian tahun lalu.

Akhirnya aku putuskan untuk berangkat subuh saja. Hal ini dikarenakan aku kumpul KKN di hari Senin hingga larut malam sehingga aku belum ada persiapan untuk packing kilat dan berangkat. Selain itu, berdasarkan informasi dari teman, ada kereta lokal Sriwedari yang berangkat dari Lempuyangan ke Kutoarjo jam 4.30 dan sampai pukul 5.30. Kepastian ada tidaknya kereta lokal tersebut terus aku lakukan dengan me-mention dan menelepon call center PT KAI.

Jam tiga pagi aku sudah mulai mandi karena persiapan aku cukup lama. Jam empat aku sudah didatangi temanku, Lutfi, untuk mengantarkanku ke stasiun. Sesampainya di stasiun ternyata kereta lokal Sriwedari itu tidak ada, adanya Prameks yang jual tiketnya baru pukul 6.30 pagi. Aku menelpon call center dan ternyata memang benar, tidak ada kereta yang berangkat pukul 4,30. Aku memutuskan untuk menggunakan bus ke Kutoarjo. Aku meminta diantarkan sampai Pasar Gamping. Perjalanan ke Gamping memang cukup jauh, namun akhirnya pukul 4.45 pagi aku sudah berada di dalam bis menuju Kutoarjo.

Dua jam perjalanan ke Kutoarjo menggunakan bis dan aku sampai di Stasiun Kutoarjo pukul 6.45. Para penumpang Kutojaya Selatan sudah ada pada saat itu, namun belum bisa masuk ke dalam peron stasiun. Open gate ke dalam peron baru dilaksakan pukul 7.45. Cukup lama aku menunggu, tapi tak apalah, syukur alhamdulillah aku bisa sampai ke Kutoarjo tanpa tertinggal kereta. Di saat aku menunggu di stasiun ada kabar tidak mengemberikan bagi para penumpang Prameks tujuan Yogyakarta - Solo. Prameks yang menuju Kutoarjo dikabarkan terjadi gangguan dan tertahan di Lempuyangan pada pukul 7.30. Syukur alhamdulillah lagi, aku tidak menggunakan Prameks tadi kalau aku pakai itu aku sudah stres dan mati berdiri dan kejadian tahun lalu akan terulang lagi.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP