Loading...
Friday, May 9, 2014

Ketidakberuntungan Kost-an

Selayaknya mahasiswa perantauan, pastilah mengalami yang namanya hidup sendiri dan harus nge-kost. Termasuk aku, kuliah di sebuah kota yang jaraknya 400 km dari rumah tentulah harus berpindah dan menetap di kota tersebut. Banyak pembelajaran yang aku alami, mulai dari cari makan sendiri, belanja sendiri, dan harus memanajemen keuangan sendiri. Hal terakhir yang paling sulit. Uang bulanan yang sudah diberikan orang tua harus dibagi dan cukup untuk makan, tugas, jajan, dan kesenangan lainnya.

Pindah kost merupakan fase yang wajar dialami oleh anak kost-kost-an. Berbagai alasan seseorang pindah kost-kost-an, mulai dari enggak betah, harga kost naik, cari fasilitas yang lebih baik, konflik sama penghuni kost, dan salah satu kisahku yang memilukan tentang kost. Aku memang bukan orang yang beruntung dalam mencari kost. Tempat kost yang aku tempati semuanya terpilih karena keterpaksaan. Semua? Jika dihitung hingga saat ini, aku sudah menempati empat tempat kost. Dalam jangka waktu yang singkat, aku bisa pindah kost seenaknya. Sedikit cerita tentang tempat kost dan penyebab aku pindah. Silahkaln disimak.

1. Kost di Klebengan

Diterima di salah satu universitas yang ada di luar kota, tentu harus memiliki persiapan yang luar biasa. Sebelum benar-benar menjalani aktivitas kuliah perlu ada registrasi yang mengharuskan aku pergi ke Jogja. Tidak hanya registrasi, mencari kost juga harus dilakukan. Bersama adik kelasku yang kebetulan diterima di tahun yang sama aku mencari kost. Setelah mencari berbagai referensi dan menimbang-nimbang akhirnya pilihan jatuh pada Kost Pak Joko. Sebenarnya itu terpilih karena keterpaksaan. Luasan cukup, tersedia dua kamar, dekat dengan kampus, dan harganya terhitung murah. Hanya saja harus membayar selama satu tahun penuh. Kost lain tak terpilih karena lokasinya yang masuk-masuk gang, lingkungannya kotor, dan harganya sama saja. Pada saat itu memang jumlah kost yang available memang sedikit sehingga cukup sulit mencari kost dengan kesesuaian tersebut.

Hanya 10 bulan aku bertahan di kost tersebut. Harga listrik di kost tersebut menyentuh harga 70 ribu rupiah padahal aku hanya membawa laptop, kipas angin, dan magic com (padahal magic com ga pernah dipakai). Hal tersebut karena sistem pembayaran listrik dikelola oleh para penghuni kost. Dihitung erdasarkan kepemilikkan barang elektronik kemudian dibagi rata. Pada saat itu ada satu penghuni yang menjadikan kamar kost-nya tempat bermain games. Teman-temannya datang dan semuanya mencolokkan listrik. Sudah jelas tagihan listrik melonjak, namun pembagian tetap dilakukan seperti biasa. Kerugian inilah yang menginisiasi aku untuk pindah. Kebetulan teman satu jurusanku mengajak untuk mengontrak rumah. Akhirnya aku kepincut dan menyisakan dua bulan aku tinggalkan kost-an di Klebengan itu. Akupun meninggalkan adik kelasku tersebut. Penyesalan aku rasakan karena saat aku pindah, penghuni yang menaikkan harga tagihan listrikpun pindah. Otomatis tagihan listrik turun dan kondisi kost lebih kondusif.

2. Kontrakan di Jalan Damai (Jalan Kaliurang KM 8,5)

Saat aku ribut ingin pindah kost-an, terdengan oleh salah teman satu jurusan denganku. Dia mengajak aku untuk pindah dan mengontrak rumah bareng dia. Aku sebenarnya tidak langsung menjawab 'iya' tapi 'lihat dulu'. Tapi hal tersebut diaggap 'iya' olehnya. Saat aku dibawa ke kontrakan, serasa sudah ada 'perjanjian' antara pemilik dan temaku tersebut. Akibatnya aku terpaksa mengiyakan untuk mengontrak bareng mereka. Hanya aku yang orang sunda dan keempat lainnya adalah orang aceh. Banyak hal yang berbeda rasanya menjadi seorang yang minoritas. Dua bulan pertama aku sudah tidak betah dan ingin pindah.

Bukan hanya itu, berbagai persoalan terjadi. Aku yang selalu tidak dianggap membuat aku semakin menutup diri. Konflik ketidakjelasan antara aku dan senior aku. Juga konflik antara aku dan teman seangkatan masalah cewek mebuat aku semakin tidak nyaman. Satu lagi, di kontrakan pernah megalami kasus kekurangan air. Pada saat liburan, tetangga sebelah memakai pompa air kontrakan karena pompa airnya rusak. Hal itu dilakukan dengan cara mencabangkan pipa. Hal tersebut malah merugikan kami karena penampungan kami lebih tinggi dibading penampungannya. Sehingga air hanya masuk ke rumahnya saja. Hampir satu minggu kami semua kekurangan air. Bahkan aku sampai mandi di kampus dan di kost teman.

Semua penghuni kontarkan sudah memastikan akan pindah masing-masing dan akan menempati kost.

3. Kost di Karang Gayam

Karena sudah mepet diusir dari kontrakan, satu bulan sebelum diusir aku sudah mencari kost. Tidak sengaja aku menemukan kost yang ada di Padukuhan Karang Gayam. Hanya kost itu saja yang kosong dan akhirnya dengan keterpaksaan aku memilih kost tersebut. Bisa dibilang kost tersebut bukan area kost mahasiswa teknik. Akibatnya aku tidak terlalu akrab dengan penghuninya. Para penghuni kost lainnya merupakan kenalan. Aku yang terasingkan dan tersibukkan dengan aktivitas membuat aku todak akrab dengan penguhuni kost tersebut. Selain itu kamar mandinya sangat jorok. Lama-lama aku tidak tahan juga dan ingin pindah kost.

4. Kost di Pogung Rejo

Saat itu aku memang sedang sibuk-subuknya denga urusan kampus. Aku hampir lupa untuk pindah kost. Bahkan saat sang nenek kost yang mata duitan itu datang, aku memohon untuk diberikan waktu sampai nanti siang untuk pindah. Nenek kost pun mengizinkan. Hari sebelumnya aku sudah mencari kost dan yang dapat dihubungi adalah kost yang di Pogung Rejo pinggir selokan mataram. Akupun memutuskan pindah kesana karena keterbatasan waktu tersebut. Saat pindah kesana memang kondisinya biasa saja. Hanya yang enak, penghuninya hanya enam orang yang hampir semuanya mahasiswa S2. Namanya, bapak-bapak ya tentu tidak bisa akrab banget karena perbedaan usia yang cukup jauh. Jadi, aku cuma asal kenal aja.

Aku sebenarnya sudah nyaman dengan lokasi, harga, dan keakraban yang ada di dalamnya. Hanya permasalahan muncul saat aku baru menempati selama dua minggu. Toilet bermasalah alias mampet. Kebetulan di depan kost tuh ada kontrakan yang masih satu pemilik dengan kost. Sehingga saluran toiletnya satu jalur dengan toilet kost. Apabila kontrakan menyetor kotoran maka kotorannya akan keluar dulu di kostku. Bukan hanya keluar bahkan sampai beleber-beleber dan mengendap banyak di toilet. Saat ini toilet hanya ditutupi oleh karpet mobil namun masih bisa dipakai buat mandi saja. Sudah lima bulan toilet tersebut tidak pernah diperbaiki. Alasan si pengelola bermacam-macam, tukangnya susah dicari, nanti mau disedot, masih musim hujan, dan beribu alasan lainnya.

Nah, aku ada niatan untuk pindah lagi. Mudah-mudahan awet di kost baru. Tahun terakhir sebagai mahasiswa semoga aku terbebas dari pindah-pindah kost. Doakan aku!

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP