Loading...
Wednesday, January 15, 2014

Cerita Akhir Semester

Kalau kalian pernah baca novelnya Zakky Ramadhany yang judulnya Semester Disaster, ya aku juga sekarang sedang mengalaminya. Tapi yang aku alami ini benar-benar sesuai judulnya, tidak seperti cerita dalam novelnya. Karena semester ini benar-benar sangat mengguncang jiwa dan raga. Di sini aku akan benar-benar melampiaskan semua unek-unek tanpa harus direlaksasi Uya Kuya.

Saat ini aku sedang menjalani kuliah di semester lima. Ini adalah tahap dimana mahasiswa mulai memikirkan masa depan. Masa depan untuk lulus. Mau cepat atau lama ditentukan mulai dari sekarang. Jujur, aku senang dan bangga sudah menduduki tingkat tiga ini. Wawasan aku tentang dunia perencanaan sudah mulai terbuka dan menjadi sangat optimis dengan masa depanku yang pasti banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Namun sayangnya, memasuki perkuliahan ini ketidakjelasan semakin terasa. Aku lebih banyak berpikir tentang pola pengajaran yang menurutku kurang pas. Judul mata kuliah, kuliah yang diajarkan, dan tugas yang diberikan semuanya bentrok, selalu tidak ada kesinambungan bahkan tidak mendukung dengan mata kuliah lain. Pengalaman di semester 1-3, kuliah dan tugas selalu berkorelasi dan mendukung dengan mata kuliah lainnya. Bertemunya dengan bapak dosen yang out of the box membuat aku pusing tujuh keliling.

Sebut saja bapak W, diawal kemunculannya di semester 4, sebagai pengajar mata kuliah metode dan teknik, beliau ingin muncul dan merombak mata kuliah studio (praktikum). Rombakkan yang dimaksud adalah agar mata kuliah tersebut sesuai dengan yang dia ajarkan dan inginkan. Kenyataannya beliau tidak memiliki wewenang akan hal tersebut karena studio sudah memiliki koordinator yang memiliki wewenang untuk mengatur tugas dan materi yang diberikan. Keinginan beliau itu memang tidak berhasil, tapi beliau berhasil membuat mahasiswanya sebal karena tugas yang diberikan tidak mendukung studio. Semester genap yang seharusnya rencana, dengan seenaknya beliau memberikan tugas analisis. Anak-anak benar-benar kewalahan, gara-gara tugas studio sendiri sudah banyak ini ditambah tugas yang tidak bermanfaat untuk studio pada saat itu. Nah, sialnya adalah di semester 5, beliau kembali mengajar metode dan teknik lagi sekaligus beliau koordinator studio. Tipe mengajar beliau adalah langsung, maksudnya adalah saatdia memikirkan sesuatu, pada saat itu pula beliau memberikan materi. Jadi, sudah dipastikan materinya berbeda-beda tiap angkatan. Ya, kalau ada yang sama palinglah dikit.

Hal yang paling membuat jengkel adalah ketika dia memberikan tugas A, tapi setelah diperiksa dia pengennya B. Beliau meminta kami untuk merevisi. Setelah direvisi beliau minta A lagi dengan tambahan C. Sinting ga sih? Enggak cuma aku, banyak orang yang sebel banget sama beliau, termasuk beberapa dosen juga. Dosen muda cuma bilang, "Ya udah ikutin aja apa kata Pak W". Kalau dosen tua bilang gini, "Ada ya dosen kaya gitu? Ya udah ikutin aja, lagian cuma 1 di jurusan ini, buat variasi aja".

Beranjak dari masalah dosen, aku mau cerita tentang KP atau Kerja Praktik. Salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil mahasiswa. Di jurusanku, salah satu syarat mengikuti KP adalah sudah mengambil minimal 5 studio dengan nilai minimal B. Satu-satunya waktu yang bisa dilakukan buat KP adalah libur semester ganjil ini. Libur semester genap dipake KKN, sisanya buat skripsi deh. Ternyata ada temenku yang udah curi start duluan buat nyari tempat KP. Itu membuat aku termotivasi buat nyari juga. Aku ingin sekali KP di Bandung, sekalian pulang kampung gitu. Lagi ngobrol-ngobrol gitu, temenku di sebelah namanya Citra, nyeletuk dan bilang ingin ikut KP bareng aku. Ya, aku sih oke-oke aja ga ada masalah buat itu. Akupun menyertakan nama citra dalam berbagai surat dan proposal yang telah aku siapkan. Da juga antusias sekali kalau KP di Bandung. Nah, aku juga tak lupa minta bantu mamah, eh ternyata ada tetangga yang punya kenalan sama orang dinas. Akupun dibantu menghubungi ke kantor dinasnya. Tapi bukan Kota Bandung melainkan Kabupaten Bandung Barat. Enggak ada masalah sama sekali yang penting aku bisa KP. Akupun rela bolos selama 5 hari untuk mengurus perizinan di KBB. Setelah itu aku hanya tinggal menunggu surat penerimaan KP di sana yang akan dikirimkan via e-mail.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Surat balasan tersebut tak kunjung dikirim. Saat tahu diterimanya di kabupaten, Citra mulai goyah. Ada rasa keengganan buat KP di sana. Hanya saja dia masih menyombongkan pada teman-teman lain kalau dia sudah diterima KP. Suatu saat, aku mau mengurus surat izin survei dan tidak disangka-sangka, aku menemukan surat izin KP Citra ke Bappeda Cirebon. Aku syok, Citra enggak pernah bilang kalau dia ngajuin sendiri. Ini sudah jelas kalau dia enggak mau KP di Bandung, Bandung Kabupaten. Aku mulai tidak mempedulikan Citra sama sekali. Aku bersikap dingin. Saat surat KP diterima pun aku tidak berantusias memberi tahu Citra. Tiba-tiba Citra menghubungi aku kalau surat balasannya tidak dikirim juga dia mau mengajukan ke Bappeda Cirebon. Aku cuma bilang terserah. Dan beberapa hari setelah itu dia hanya bilang maaf kalau dia enggak jadi KP bareng aku tanpa rasa bersalah sama sekali.

Beberapa minggu setelah itu, sahabat baik Citra bernama Tari menghubungi aku kalau dia mau menggantikan Citra dan KP bareng aku. Aku terus meyakinkan dia apakah mau atau tidak karena ini urusannya sama pihak resmi. Dia bilang yakin banget katanya. Gara-gara itu akupun memanipulasi surat penerimaan dan mengganti dengan nama Tari untuk dikumpulkan ke pengajaran. Akupun membuatkan 2 formulir pendaftaran KP yang sama persis untuk aku dan tari. Saat pengumuman KP, ternyata namaku dan Tari ada di kolom diterima dengan syarat. Syaratnya adalah kalau form KP tidak boleh sama. Aku langsung menyuruh Tari untuk mengedit form miliknya dan mengganti dengan yang baru. Dia sudah stuju awalnya, tapi beberapa menit kemudian, dia menyatakan bahwa dia tidak jadi KP karena ayahnya tidak mengizinkan dia untuk pergi. Dia harus pulang kampung ke tanah tempat ia dibesarkan.

Hampir seminggu aku kesal, mengumpat, mengeluarkan kata-kata kasar, nonjokkin tembok, persis kaya orang gila. Amarah aku gara-gara Citra aja belum selesai, eh muncul Tari. Errr, rasanya ingin mempermalukan dia di depan umum. Dua orang sahabat itu cuma cari aman dan sesuka hati membatalkan. Dia enggak tahu apa, aku udah rela-rela pulang ke Bandung cuma buat menyertakan namanya, eh terus dia batalkan begitu saja. Mereka gak peduli ini resmi atau enggak yang penting mereka aman. Usut punya usut, ternyata Tari tuh sebelumnya joinan sama Ulin temen aku yang mau KP di Bandung juga. Tapi berhubung instansi tempat melamarnya tidak memberikan jawaban, maka dia cari tempat lain, yaitu aku dengan alasan menggantikan sahabatnya Citra.

Kejadian tersebut memang cukup membuatku banyak belajar. Aku dekat dengan Citra dan Tari karena mereka adalah orang-orang yang tidak terlalu diperhatikan di angkatan kami. Aku sangat kasihan sama orang-orang yang dimarjinalkan. Tapi ternyata, orang-orang yang dimarjinalkan juga bisa seenaknya dan hanya mencari keuntungan buat mereka sendiri. Aku yang bodoh, terlalu baik sama orang, padahal aku sendiri tidak pernah memikirkan diri sendiri. Tapi ternyata kebaikan aku itu sia-sia atau aku yang benar-benar tolol.

Tapi dibalik itu semua masih ada orang-orang yang mendukung aku, mamah dan teman-teman. Terima kasih aku ucapkan sama Allah yang udah dengerin curhatanku. Maaf kalau aku kaya anak kecil, sering ngumpat, ngomong kasar sendiri, kaya psikopat. Tapi alhamdulillah aku bisa move on dari duo cabe-cabean itu.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP