Loading...
Monday, November 18, 2013

Semester Junkhead

Menurut gue, masa-masa paling mencekam di perkuliahan adalah menginjak semester lima. Ya! Gue aat ini lagi menginjak perkuliahan di semester lima. Kalau pernah baca novelnya Zakky Ramdhany yang judulnya Semester Disaster, gue lagi mengalami ini banget, tapi enggak seperti cerita konyol yang diceritakan di dalam novel. Benar-benar "disaster" yang gue alami sekarang.

Mimpi atau enggak, disaat IP semester gue naik dan berencana mengambil full, eh ternyata gue cuma dapat 19 sks. Di semester ini mata kuliah wajibnya hanya tiga, sisanya pilihan. Mata kuliah pilihan cuma dijatah 50 orang dan gue cuma dapat 4 mata kuliah pilihan karena kelasnya banyak yang penuh. Nasib-nasib, takutnya ini memengaruhi lama kelulusan gue. Mudah-mudahan saja enggak dan gue bisa lulus tepat waktu. Amin!

Di semester ini juga banyak sekali gangguan dalam perkuliahan sehingga banyak sekali perkuliahan yang bolong dan harus diganti di waktu lain. Minggu pertama udah harus bolos seminggu karena ada Kuliah Kerja Perencanaan ke Bangkok. Sebenarnya ini mata kuliah pilihan. Berhubung ini merupakan tolak ukur suatu angkatan, karena jika suatu angkatan tidak mengikuti KKP ke luar negeri atau yang ikut KKP enggak full maka akan dihujat oleh angkatan lain.

Setelah itu di minggu kedua bulan Oktober, izin survei studio sudah turun dan kami semua harus pergi ke lapangan. Kebetulan kelompok gue dapatnya dekat, yaitu Klaten. Lima hari gue beserta kelompok menghabiskan waktu di Klaten untuk pergi ke instansi pemerintahan, blusukan, dan survei fisik. Ya, begitulah tugas studio yang memakan lima sks. Memang harus maksimal dalam mendapatkan data.

Satu lagi yang bikin pusing adalah Kerja Praktik. Secara tiba-tiba di pertengahan September ada kuliah pra-KP. Di kuliah itu dijelaskan mengenai KP yang bisa dilaksanakan mulai liburan semester ganjil (Januari 2014). Menginjak November, gue mendapat cerita kalau beberapa orang sudah mendapat tempat KP. Gue semakin terpacu untuk mendapatkannya juga. Gue gak mau kelulusan gue tertunda hanya karena KP. Gue mulai berusaha dengan browsing, kirim email, bikin surat, bikin proposal, dan tanya mama. Ternyata kemampuan si mama yang tanya sana-sini membuahkan hasil. Gue emag kesulitan dalam mencari tempat KP karena gue ingin KP di Bandung sedangkan gue sendiri lagi di Jogja. Nah, mama gue ini punya tetangga yang kenal sama orang di dinas. Akhirnya gue memaksakan diri untuk pulang ke Bandung buat ngurus-ngurus tempat KP. Alhamdulillah, gue diterima di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Bandung Barat di bagian Tata Ruang. Hal yang bikin gue terpacu adalah staf-staf di sana banyak yang lulusan planologi ITB, ini bikin gue terpacu untuk belajar lagi dari semester awal. Gue gak mau almamater gue diketawain. Orang-orang seperti inilah yang gue harapkan dan enggak gue temuin di UGM.

Setelah diterima, bukan berarti gue nyantai dan tinggal menanti KP. Dosen pembimbing KP gue memang sangat perhatian dengan kelangsungan mahasiswianya dalam ber-KP. Beliau terus menanyakan kerjaannya nanti itu apa. Jangan sampai mahasiswa KP cuma dijadikan tukang fotocopi dan bikin kopi. Waktu gue bertemu dengan kepala staf beserta jajarannya, gue udah dipastikan akan diikutsertakan dalam kegiatan/proyek, hanya saja berhubung akhir bulan, kegiatan/proyek tersebut belum bisa dipastikan. Saat gue konsultasi dengan dosen pembimbing, gue terus ditekankan mengenai KP yang akan gue lakukan nanti. Terpaksa gue ng-sms staf sana untuk menyanyakannya lagi. Gue ga enak sebenarnya, tapi ya sudahlah. Jawaban dari dinas bilang kalau pertengahan bulan akan menyusun RDTR Batujajar. Saat gue bilang lagi ke dosen pembimbing kalau kegiatannya baru mulai itu gak bisa, survei gak bisa, kalau analisis bisa. Hal yang bikin gue bingung adalah, kenapa survei gak bisa? padahal setiap studio tugas kami diawali dengan survei.

Dalam mengajukan KP ke Dinas CKTR itu gue gak sendiri. Teman gue Citra juga ikut KP bareng gue. Awalnya sih gara-gara gue ngomongin KP di kelompok studio terus gue bilang kalau gue mau KP di Bandung. terus Citra bilang kalau mau KP bareng. Yo wes, gue menyertakan nama Citra di dalam surat dan proposal yang udah gue buat. Niatnya sih mau di Kota Bandung, tapi kesempatan emas di Bandung Barat jadi gue lebih mengoptimalkan di jalan yang sudah terbuka. Gue gak berusaha nyari di Kota Bandung. Saran mama adalah kalau udah pasti diterima di Bandung Barat ngapain nyari lagi. Itu malah bikin repot. Iya sih gue juga mikir kaya gitu, sama seperti bagian pengajaran jurusan gue yang marah-marahin gue pas ngajuin surat KP banyak banget. Jurusan gak mau nerima komplain dari instansi kalau ada mahasiswa yang nolak KP. Gue juga sih ngerasa repot dan ga enak banget kalau harus nolak tempat KP yang udah mau nerima. Suatu saat gue ke pengajaran buat ngecek fax surat penerimaan KP gue, sekalian ngambil surat izin survei ke buat bahas batik Laweyan di Solo. Eh, ga disangka-sangka gue menemukan surat pengajuan KP punya Citra sendiri untuk Bappeda Kota Cirebon. Tanpa bilang gue, dia mengajukan sendiri. Gue sebel banget karena dia tuh gak bilang. Padahal berkali-kali gue tanya kalau di Bandung Barat mau gak, dia bilang iya-iya aja, eh ternyata dia sendiri mencoba untuk di kampung halamannya sendiri. Masalahnya udah keterima, kalau belum sih sah-sah aja. Dan gue harus mikir 1000 alasan ke dinas seandainya Citra keterima di Cirebon dan gak jadi di Bandung.

Semester ini udah bikin gue naik darah. gak tau lagi gue harus melampiaskannya ke siapa. Teman-teman gue satu angkatan udah pada berubah semua. Gue juga masih mikir salah gue apa. Tapi bodo amatlah, semester ini kalau terus ngandelin temen, gue bakal terseok-seok dan entah kapan gue bisa lulus. Sekarang gue mencoba mandiri, nolong orang semampu gue, dan pilih suatu hal yang lebih baik. Semoga gue bisa melewati masa-masa perkuliahan gue dengan aman, nyaman, dan tentram.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP