Loading...
Saturday, November 2, 2013

Menjadikan Jogja Kota Sepeda


Kota Yogyakarta sebagai kota yang konsisten mengembalikan kotanya menjadi kota sepeda layaknya zaman dulu. Hal tersebut dibuktikan dengan dibuatnya jalur-jalur sepeda di sepanjang jalan-jalan raya di kota gudeg ini. Di Jogja jalur-jalur sepeda terletak di sisi kanan dan kiri jalan. Lebarnya setengah meter dan diberi marka jalan berwarna kuning dengan garis putus-putus. Sekitar 10 meter sekali ada gambar sepeda di jalurnya. Di perempatan jalan yang ada traffic light-nya ada area warna hijau sebagai tempat pemberhentian khusus sepeda.

Upaya pemerintah kota untuk menjadikan kota sepeda masih setengah-setengah. Apalagi mayoritas perkembangan infrastruktur jalan di Indonesia mengusung motor-oriented. Jalan yang dibuat banyaknya untuk kendaraan bermotor, bahkan ada yang mempersempit jalur pedestrian. Maka dari itu, banyak kota-kota di Indonesia yang tidak humanis karena hak-hak pejalan kaki dan pesepeda tidak dipedulikan.

Tidak maksimalnya dukungan infrastruktur untuk pengguna sepeda dapat dilihat dari jalur sepeda yang satu jalur kendaraan bermotor. Tentu keamanan para pesepeda menjadi tidak aman. Apalagi ditambah perilaku pengemudi kendaraan bermotor di Jogja bisa dibilang tidak biasa. Tidak biasa dalam hal ini adalah seenaknya, menambah kecepatan bila ada orang yang menyebrang jalan, menklakson orang yang menghalangi jalan, parkir seenaknya baik di sisi jalan maupun di trotoar. Hak pejalan kaki dan pesepeda benar-benar terampas akibat keegoisan pengendara kendaraan bermotor.

Jika benar-benar ingin serius menjadikan kota bersepeda, harus membangun infrastruktur bersepeda dengan serius pula. Seperti tidak menjadikan satu antara kendaraan bermotor dan sepeda. Jalur sepeda bisa dibuat sama seperti pedestrian, tapi tentu ada separator yang membatasi jalur sepeda dan jalur pejalan kaki. Dengan kata lain pesepeda memiliki derajat yang sama dengan pejalan kaki, bukan dengan kendaraan bermotor. Selain itu perlu ada kemudahan akses bagi pesepeda, yaitu dengan jalan tikus atau gang-gang kecil. Fungsinya tentu untuk mempersingkat jarak perjalanan. Perlu ada kebijakan bahwa sepeda motor yang masuk ke gang sempit mesin tidak boleh dinyalakan. Selain untuk memberikan kesempatan pada pejalan kaki dan peseda, memberikan kenyamana bagi penghuni sekitar.

Jogja memang bukan kota yang dirancang untuk menjadi kota besar. Itu terlihat dari luas kotanya. Mudah saja dibuktikan, kurang dari 30 menit setelah kita melewati gapura Kota Yogyakarta di sebelah barat maka akan menemui gapura selamat jalan Kota Yogyakarta di sebelah timur. Hal ini sangat mendukung sekali untuk dijadikan kota sepeda. Namun ada saja kelemahan dan ancaman yang dihadapi sehingga bersepeda merupakan suatu yang malas untuk dilakukan, yaitu suhu udara yang panas, sulitnya sarana transportasi umum yang memiliki fasilitas penitipan sepeda, banyaknya angka migrasi masuk yang diimbangi dengan migrasi masuk kendaraan bermotor, sikap masyarakat yang kurang menghargai pejalan kaki dan pesepeda, kemudahan untuk membeli kendaraan bermotor, dan lainnya.

Tentu perlu dukungan semua pihak untuk menjadi Jogja sebagai kota yang aman, nyaman, ramah, dan humanis. Pemerintah hanya memfasilitasi, tapi masyarakatlah yang harus sadar dan mampu melakukan hal yang terbaik untuk keuntungan semua pihak.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP