Loading...
Wednesday, September 18, 2013

Cerita KKP 2013 ke Bangkok

Kuliah Kerja Perencanaan merupakan salah satu mata kuliah pilihan yang isinya adalah studi banding terhadap suatu kota sebagai bahan acuan rencana untuk perkotaan Yogyakarta yang akan ditampilkan di pasca-KKP nanti. Sudah 3 tahun terakhir, KKP dilaksanakan di luar negeri dan menjadi suatu keharusan. Tahun ini, giliran angkatanku untuk berangkat KKP. Setelah merencanakan destinasi dan perangkat panitia selama kurang lebih satu tahun, akhirnya diputuskanlah Bangkok sebagai tujuan studi banding kami. Hal ini dikarenakan Bangkok sebagai kota pusat pemerintahan kerajaan Thailand dan Yogyakarta merupakan kota pusat pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Hal itu juga sangat mendukung untuk rencana perkotaan Yogyakarta yang akan kami buat dengan tema kota budaya.

Hari Keberangkatan

Tanggal 10 September, kami sudah berkumpul di Tugu Teknik untuk dijemput bis menuju Bandara Internasional Adi Sutjipto. Pesawat take off pukul 1 siang menuju Jakarta. Really really nervous because this is first time for me using airplane. Perjalanan menuju Jakarta hanya satu jam. Setelah itu menunggu sekitar 3 jam untuk melanjutkan perjalanan menuju Bangkok. Setelah menunggu lama, akhirnya kami menaiki pesawat dan menempuh perjalanan sekitar 3-4 jam. Dalam perjalanan sering kali terjadi guncangan kecil karena cuaca pada saat itu memang kurang baik. Tapi alhamdulillah sampai di Bandara Internasional Don Mueang. Lanjut menuju hotel yang sudah disambut dengan makan malam. Sebelum masuk tempat makan sudah tercium makanan dengan bau yang tidak biasa, ya masakan Thailand yang sungguh menusuk hidung. Lapar megalahkan segalanya, walau bau dan rasanya asing di lidah tapi perut berkata lain. Porsi makan yang banyak tetap dapat kulahap sampai habis. Setelah itu langsung menuju kamar dan tidur dengan nyenyak.

Hari Pertama

Pukul 6 pagi aku sudah beres mandi dan shalat dan bersiap untuk sarapan. Walaupun makanan di hotel halal karena khusus makanan muslim dan india tetapi bumbu khas Thailand sangat terasa. Lidah mulai membiasakan diri. Patut diakui makanan Thailand itu memang enak, hanya saja perut Indonesia ini belum terbiasa mencernanya. Meskipun begitu tetap porsi makanku sangat banyak untuk energi di hari pertama ini.

Awal hari ini, kunjungan pertama seharunya menuju Chulalongkorn Univesity untuk mendengar kuliah umum dari program studi Urban Planning, hanya saja pihak sana membatalkannya karena ada kegiatan. Akhirnya kami semua menuju Bangbua Area. Bangbua Area merupakan kawasan slum atau kumuh. Di sana kami berfoto ria dan kebetulan setelah menyebrangi Sungai Bangbua kita menemukan subuah Vihara yang cukup besar. Biksu di sana pun mengizinkan kami untuk memasuki salah satu vihara yang indah.
Salah satu Vihara yang ada di Bangbua Area

Tentu tujuan utama kami bukan untuk pergi ke Vihara, tapi mengamati kawasan kumuh di sana. Saat berjalan-jalan menyusuri sungai, kawasan ini sangat kumuh dan kualitas kehidupan di sana sangat rendah. Rumah-rumah kumuh, bau, sampah, ketidakteraturan, dan sangat menyedihkan. Sebenarnya tujuan kami ke Bangbua Area itu untuk melihat kawasan kumuh yang sudah direvitalisasi, namun sepertinya salah kawasan. Alhasil, tujuan yang dimaksud tidak diketemukan.

Kunjungan selanjutnya adalah menuju Bangkok Metropolitan Administrasion, salah satu badan pemerintah yang mengatur tata ruang di Metropolitan Bangkok. BMA membuat perencanaan dengan mengatur penggunaan lahan dan membuat kebijakan untuk mengurangi permasalah-permasalahan yang ada di Bangkok. Permasalahan yang belum terselesaikan di Bangkok adalah kemacetan. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah membuat perencanaan menjadi polisentris, dimana pusat-pusat kegiatan tersebar sehingga tujuan orang bertransportasi tidak menuju satu titik. Kita doakan saja 40 tahun kedepan perencanaan di Bangkok positif.

Selanjutnya adalah mengunjungi My Condo, salah satu Kondominium yang ada di Bangkok. Namun karena masalah perizinan akhirnya gagal. Kami semua menunjungi Sukumvhit area, disini merupakan kawasan permukiman mewah. Banyak sekali kondominium, hotel, mall, dan kafe. Tour guide menunjukkan salah satu apartemen dan hotel karena itu berdasarkan surat perizinannya. Namun, kenyataannya kami tidak bisa masuk karena masalah perizinan yang belum jelas. Kami hanya menunggu di depan hotel tersebut. Untungnya ada orang Indonesia yang sedang berlibur di Bangkok. Kami pun diizinkan untuk memasuki kamar hotel dan bertanya-tanya secukupnya.
Salah satu pemandangan Kota Bangkok dari bus

Setelah itu, kami kembali menuju hotel. Tidak dengan bus pariwisata tetapi menggunakan MRT dan BRT. MRT itu adalah kereta bawah tanah dan BRT adalah skytrain. Sebelum memasuki stasiun kami dibagi koin plastik sebagai tiket masuk. Kami pun memasuki stasiun Sukumvhit dengan scanning koin, pintu otomatis terbuka. Ini pertama kalinya menggunakan kereta bawah tanah. Hal yang bikin takjub adalah orang-orang di sana. Semuanya sangat sibuk, jalannya cepat, individualis, dan sangat sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Pemandangan dalam MRT sangat membosankan, di luar jendela hanya kegelapan yang terlihat. Perjalanan tidak begitu terasa kami pun harus turun di stasiun Silom. Keluar dari stasiun Silom kami langsung naik menuju BTS yang tidak begitu jauh letak stasiun BTS dari stasiun MRT. Sistem ticketing di BTS berbeda dengan MRT. BTS menjual tiket dengan cara mesin. Pertama tekan angka yang sesuai dengan stasiun tujuan, kemudian masukan koin sesuai jumlah yang tertera, terakhir ambil kartu dan uang kembalian. Berbeda dari yang lain, aku menggunakan mesin touchscreen. Perbedaanya adalah dalam memilih stasiun tujuan tersedia peta dan touch stasiun, langkah lainnya sama. Stasiun tujuan kami adalah Stasiun Ratchathewi karena dekat dengan hotel. Namun harus ganti kereta di Stasiun Siam. Dalam BTS aku bercanda-canda sama teman, hingga ada remaja Thailand yang melihat kami sambil senyum-senyum. Padahal dia enggak tahu apa yang kami bicarakan. Setelah turun dari BTS kami langsung menuju hotel untuk makan, evaluasi, mandi, dan tidur.

Hari Kedua

Setelah sarapan kami langsung bersiap untuk menuju kantor UN ESCAP atau United Nations Economic and Social for Asia and The Pasific. Di sini, kami mendapatkan kuliah umum tentang peranan ESCAP dalam membangun sistem transportasi dan penanggulangan urbanisasi. Hubungan antar-negara di Asia Pasifik sangat terasa sekali karena sudah seharusnya antar-negara itu saling bekerjasama khususnya dalam bidang ekonomi dan sosial. Dalam menjalankan  tugasnya ESCAP mengajak pemerintah untuk bekerjasama dan mulai membangun infrastruktur sesuai kebutuhan.
Wat Arun

Dari kantor UNESCAP kami menuju ke Wat Pho. Wat Pho merupakan candi yang memiliki patung Budha tidur. Kawasan Wat Pho ditata dengan indah sekali. Setelah itu menuju Wat Arun yang merupakan candi juga. Candi Budha di Thailand memiliki ciri khas yang oriental. Pecahan-pecahan keramik china yang menghiasi dinding candi sangat indah. Salah atu candi seperti menara, tinggi, dan untuk menaikinya harus melewati tangga yang curam. Selain pemandangan candi yang indah, pemandangan turis-turis asing pun sangat menggoda.

Seharusnya lanjut ke Grand Palace, namun karena waktu tidak memungkinkan akhirnya kami diberikan free time. Free time itu kami diberikan waktu untuk berada di kawasan Siam. Di kawasan Siam terdapat mall seperti Siam Square, Siam Dicovery, dan MBK mall. Aku tidak memanfaatkan kesempatan ini karena niat belanja itu berada di Chaktuchak Market. Jadi hanya berjalan-jalan, jajan, dan lihat-lihat saja. Waktupun keburu habis dan langung kembali ke hotel untuk makan malam, evaluasi, mandi, dan tidur.

Hari Ketiga

Di hari ketiga ini adalah waktunya wisata. Sebenarnya ini sangat tidak sesuai dengan rundown yang dibuat, tapi karena kami selalu terlambat dalam melakukan kegiatan maka kegiatan di hari-hari sebelumnya diundur menjadi keesokan harinya. Pukul 9 pagi setelah sarapan, kami diajak berkunjung ke Grand Palace yang merupakan istana raja negeri Thailand. Dengan bantuan tour guide yang baru kami dipersilakan melihat kemegahan istana raja yang luas tersebut. Sayangnya aku kurang menikmatinya karena ada insiden yang kurang menyenangkan (baca postingan khususnya nanti).

Setelah dari Grand Palace kami menuju restoran untuk makan siang. Namun setelah sampai di restoran itu aku beserta rombongan dari bus 1 berjalan kaki menuju masjid untuk melaksanakan shalat jumat. Masjidnya cukup jauh. Untungnya sempat melaksanakan jumatan namun tetap saja janggal karena khotbahnya menggunakan bahasa thailand.

Setelah kenyang kami menuju Asiatique The Riverfront. Ini merupakan mall dengan konsep riverfront. Bisa dibilang mirip dengan Paris van Java di Bandung, hanya saja cuma satu lantai. Jika kita masuk terus kedalam, kita akan menemukan sungai yang besar. Pinggiran sungainya itu dibuat seperti dermaga dimana kita bisa menikmati pemandangan sungai dan Kota Bangkok di seberang sungai. Di sana juga ada waterways yang merupakan sarana transportasi. Kembali ke hotel kami menggunakan waterways dan turun di dermaga yang dekat dengan stasiun BTS. Setelah itu naik BTS dan turun di Stasiun Ratchathewi. Perjalanan ke hotel pun dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Hari Terakhir

Ini hari yang mengecewakan. Ketidakpuasan sangat terasa diantara teman-teman semua. Mengapa? Karena jadwal penerbangan yang harusnya sekitar pukul enam sore, dimajukan menjadi pukul 12.30. Seharusnya hari ini full belanja di Pasar Chatukchak, namun hal tersebut gagal. Aku sudah menahan diri tidak belanja di tempat lain, khusus di Chatukchak, eh ternyata benar-benar awet uangku.

Pulang ke Indonesia dengan penuh kekecewaan. Tapi bersyukur banget bisa selamat di tanah air. Suatu saat nanti mudah-mudahan aku bisa pergi ke Bangkok lagi dan belanja sepuasnya. Hahahaha.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP