Loading...
Saturday, December 8, 2012

Manfaat Memilah Sampah

Sampah selalu jadi masalah yang besar bagi negara Indonesia sebagai negara berkembang. Banyak sekali kasus pada tempat pembuangan akhir (TPA), salah satunya adalah tidak mampunya daya tampung dengan volume sampah yang dibuang. Masalah lainnya adalah bau dan menimbulkan berbagai penyakit untuk kehidupan manusia.

Mr. Kamran Rousta yang hadir dalam seminar Waste Refinery di gedung Fakultas Teknik UGM tanggal 7 Desember kemarin memaparkan bahwa sistem persampahan di Indonesia-lah yang salah. Berbagai permasalahan sampah muncul karena pemerintah dan masyarakat tidak bisa menjalankan sistem persampahan yang baik.

Di negara tempat tinggalnya, Swedia, sudah menggunakan sistem persampahan yang baik. Sampah yang dihasilkan diolah kembali sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan kembali. Ingatkah dengan 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle? Nah, prinsip itulah yang digunakan oleh masyarakat Swedia dalam mengolah sampahnya. Lihat diagram di bawah ini.

Dari sampah-sampah yang dihasilkan, Swedia berhasil membuat energi terbarukan dalam bentuk energi panas dan listrik, biogas, 3R yang menghasilkan produk baru, dan sampah yang disimpan di lahan hanya 1%. Dengan angka 1% tersebut dapat dibayangkan tidak begitu banyak lahan yang digunakan untuk menyimpan sampah. Kita lihat dengan Indonesia, 78% sampah membutuhkan lahan untuk disimpan, dapat dibayangkan berapa luas tanah yang dibutuhkan hanya untuk menyimpan sampah.

Sistem sampah yang dilakukan negara Swedia adalah dengan memilah sampah. Mulai dari skala kecil, yaitu rumah sampah sudah mulai dipisah. Sampah yang sudah dipilah kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk diubah menjadi produk baru. Tempat itu disebut subacken. Subacken merupakan tempat manajemen sampah dan manfaatnya akan dikembalikan untuk masyarakat.

Di Indonesia sendiri pemilahan sampah dalam skala kecil sudah mulai dilakukan, namun permasalahannya mobil angkut sampah selalu menyatukan sampah-sampah tersebut. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya (malas) untuk memilah sampah yang sudah menggunung tinggi. Permasalahan manajemen di Indonesia-lah yang menyebabkan sampah lebih banyak disimpan dibanding dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang berguna.

Di UGM, fasilitas tempat sampah sudah disediakan dan diharapkan semua penghuninya memiliki kesadaran untuk membuang sampah sesuai dengan jenisnya. Inilah gagasan dari WRC atau Waste Refinary Community, sebuah komunitas yang peduli terhadap keadaan sampah yang ada di kampus teknik UGM. Sampah yang sudah dipilah kemudian akan dtransfer ke mini-subacken yang sudah dibuat. Dari mini-subacken tersebut akan dihasilkan produk-produk baru untuk kebutuhan para penghuni kampus.

Kepedulian kampus teknik UGM terhadap masalah sampah semoga bisa menjadi contoh bagi seluruh masyarakat. Begitu besar manfaat yang bisa dihasilkan jika kita memilah sampah. Untuk itu lakukan pemilahan sampah dari sekarang!

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP