Loading...
Thursday, December 1, 2011

Kebebasan yang Terlalu Bebas


Peristiwa ini mungkin sudah banyak terjadi di kalangan para mahasiswa di dunia. Pengaruh gaya hidup yang kebarat-baratan dan modernitas sangat besar. Mungkin kalau di wilayah barat ini merupakan suatu yang lumrah sedangkan menurut kita, orang timur, hal semacam ini merupakan uatu keanehan, penyimpangan dari kebudayaan kita.

Sebenarnya saya sendiri enggak mau kepo dan suudzon, tapi banyak pertanyaan-pertanyaan miring, mulai dari teman, kerabat, orang tua, bahkan saya sendiri tentang tempat ini. Tempat ini adalah tempat kos-kosan dan saya adalah salah satu penghuni kosan tersebut.

Bentuk bangunan kosan ini seperti arama. Berbentuk "U" dengan 16 kamar secara horisontal dan 3 lantai secara vertikal. Tidak ada ruang berkumpul hanya ada 4 kamar mandi di setiap lantai. Kosan ini digunakan oleh putra dan putri, putri mendiami sisi barat dan semua lantai 3 sedangkan putra mendiami sisi timur lantai 1 dan 2. Di lantai 1 dipisahkan oleh warung bubur kacang hijau, sedangkan lantai 2 hanya dipisahkan dengan pagar yang dapat dibuka sesuka hati.

Keanehan pertama, saat lagi musim-musimnya SEA Games, acara nonton bareng sering dilakukan oleh anak-anak lantai 2. Berhubung saya belum akrab dengan yang lain, saya memutuskan untuk mengerjakan tugas di kamar. Mungkin pada saat itu Indonesia mencetak gol, suara gelak tawa gembira terdengar keras, bercampur aduk antara suara lelaki dan suara wanita. Saat saya nongol keluar kamar, ada 1 orang penghuni putri membuka pagar pembatas dan berjalan dengan santai ke bagian putra. Awalnya saya biasa saja, mungkin hanya nonton bareng biasa.

Keanehan selanjutnya adalah di pagi hari. Saat saya membuka kamar tiba-tiba melintas seorang wanita membawa handuk dan peralatan mandi dan masuk ke dalam kamar mandi. Jikalau ia adalah penghuni kosan, pasti akan mandi di bagian wanita, tapi kenapa harus di kamar mandi putra? Tak beberapa lama kemudian wanita itu kembali melintas dengan rambutnya yang basah dan masuk ke dalam kosan sebelah kamar saya. Kalau ia datang di pagi hari untuk membangunkan pacarnya, terus mengapa harus ikut mandi di sini? Padahal kan kamar mandinya bau. Ternyata dia bukan datang di setiap pagi hari, tetapi datang setiap malam dan pulang di pagi hari. Nah, apa pikiranmu mengenai kejadian ini?

Saat berkunjung ke pemilik kosan yang rumahnya sekitar 200-300 meter dari kosan saya, saya dan teman saya bertanya tentang kejadian itu. Kami berusaha tidak berlebihan dalam menanyakan hal itu, itu karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami bertanya tentang status perkawinan anggota kosanku. Setahu pemilik kosan belum ada yang menikah diantaranya dan seharusnya tidak boleh membawa wanita ke dalam kosan. Saat pemilik kosan bertanya lebih mendalam lagi, kami tidak meneruskannya karena takut pemilik kosan menegur orang itu dan akhirnya orang itu akan memperlakukan kami dengan buruk (sudah sebenarnya).

Ada 4 orang penghuni baru di kosan itu, saya, temanku, dan dua mahasiswa baru. Kami semua tidak pernah bergaul dan lebih memilih hidup masing-masing. Ini memang tidak baik tapi mungkin kami semua memiliki alasan yang bervariasi. 4 Penghuni lama lainnya mereka semua sangat akrab begitu pula dengan penghuni lantai 2. Mungkin karena mereka satu suku dan lebih enjoy menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing.

Salah satu yang buat saya tidak nyaman berada di sini adalah kekepoan penghuni kosan lainnya. Saat saya belum mendapatkan kamar dan masih disatu kamarkan dengan teman saya, kekepoan mereka terlihat sekali. Apalagi kamar teman saya itu sangat strategis, dapat terlihat dari arah manapun dan dekat dengan kamar mandi. Setiap membuka pintu, saat menerima tamu khususnya teman wanita, dan saat membawa barang baru pasti mereka kepo. Melihat dengan seksama ke arah kamar dan membicarakan bahkan menyindir dengan suara keras dan membicarakan dengan penghuni lainnya. semenjak saat itu, teman saya lebih sering menutup pintu kamarnya, dan saya sendiri setelah mendapatkan kamar yang tidak terlihat dari arah manapun juga adanya lemari yang menghalangi, merasa cukup aman dari kekepoan mereka.

Kosan tanpa adanya pemilik yang tinggal satu atap bisa terlalu bebas. Bebas dalam banyak hal, sebagai contoh adalah membawa kekasih sesuka hati dan membicarakan orang tanpa ada batasan etika. Untuk itu perlu adanya tameng agar kita tidak terbawa ke'gaul'an yang melenceng dari budaya timur. Meskipun banyak yang bilang budaya timur itu kono, tapi suatu saat kita akan mendapatkan manfaat dari hal yang kuno itu. 

Alhamdulillah, saya bisa menjaga diri dan tidak terbawa ke arus yang sesat. Meskipun kesalahan terbesar saya adalah lebih senang mengunci diri di dalam kamar dan tidak bersosialisasi dengan yang lain.

Istilah :
- Kepo (bahasa gaul) = ingin mengetahui urusan orang sampai keakar-akarnya.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP