Loading...
Thursday, March 31, 2011

Si Maling yang Bikin Repot

Si maling selalu aja bikin repot. Padahal sudah dikurung dan dijaga polisi tapi tetap saja bikin keluargaku enggak tenang.

Beberapa bulan yang lalu warung di rumahku dihampiri maling. Aku sendiri enggak tahu lengkapnya karena saat itu aku pulang malam dari kampus. Saat itu hanya ada kakakku yang ada di rumah sedangkan ayah dan ibuku sedang pergi.
Menurut sumber yang terpercaya, waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Kakakku sedang berada di dalam rumah dan warung ditinggalkan karena biasanya seperti itu. Kemudian tanpa diketahui sang pemilik maling itu memanjat meja dan masuk ke dalam warung. Setelah itu mengambil semua rokok yang ada di dalam etalase warung. Tetanggaku yang hendak pergi ke masjid melihat tingkah si maling dan langsung berteriak maling. Maling itu kaget dan langsung kabur melalui pintu pagar. Maling itu langsung melempar rokok dan berlari. Tetanggaku langsung mengejarnya. Di sisi lain ada Pak RT yang siap menangkap maling namun maling itu berhasil lolos. Tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan kalau maling itu masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan ada polisi yang baru pulang kerja, warga langsung bilang, dan polisi itu langsung melaporkannya ke kantor polisi.

Beberapa orang warga dan polisi masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah itu adalah rumah yang disewakan untuk usaha konveksi. Pekerja yang ada di sana biasa saja, seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi. Tapi warga menemukan tembok kotor berbentuk jejak kaki. di atasnya ada lubang menuju langit-langit murah. Saat di cek ternyata tidak ada apa-apa. Tiba-tiba ada teriakan, "MALING!". Maling itu sudah ada di atap rumah. warga langsung mengejarnya dan memanjat melalui rumah masing-masing. Maling itu lompat-lompat dengan lincahnya dari rumah ke rumah. Namun sialnya dia malah melompat pada rumah yang atapnya terbuat dari fiber. Langsung saja dia terjatuh dan hampir menjadi bulan-bulanan warga. Untungnya polisi sudah siap untuk mengakapnya dan membawanya.

Setelah maling itu tertangkap ayah dan ibuku pulang dan kaget dengan apa yang terjadi. Kemudian aku pun pulang dan kaget dengan keramaian yang ada di sekitar rumahku. Beberapa menit setelah aku pulang, ayah dan ibuku malah pergi karena mereka dijemput ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sebagai pemilik warung dan baru selesai sekitar jam 10 malam.

Semenjak kejadian itu ibuku menjadi trauma untuk meninggalkan warung. Jadinya, setiap akan menunaikan shalat warung harus ditutup dulu. Satu bulan lebih sudah kejadian tersebut terjadi, sekarang ada masalah baru yang terjadi. Pemilik konveksi meminta ibuku untuk membebaskan pegawai dan keponakannya yang terseret dalam kasus tersebut. Tentu saja ibuku tidak mau karena ia takut hal tersebut akan terjadi lagi. Tidak sekali dua kali pemilik konveksi itu meminta ibuku membebaskan pegawainya tetapi sering sekali sampai membawa ketua RW segala. Ibuku tetap kukuh dengan keputusannya dan keputusannya itu disukung oleh pihak kepolisian.

Maling ini benar-benar bikin repot. Udah maling ingin bebas lagi. Iya kalau jadi orang bener, kalau jadi maling terus? Semenjak Komplek Marga Asih Permai banyak dihinggapi usaha konveksi yang menerima pegawai dari luar kota menjadi tidak aman. Banyak kasus pencurian yang terjadi. Dan setelah diusut oleh pihak kepolisian ternyata sang maling berasal dari luar kota yang memang sudah ahli di bidang permalingan. Maka dari itu aku berpesan untuk kalian  yang memiliki usaha konveksi di rumah, lebih selektiflah dalam memilih pegawai. Apalagi pegawai perantauan yang berasal dari luar pulau. Karena butuh biaya lebih untuk hidup, berbagai usaha dilakukan termasuk mencuri.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP