Loading...
Wednesday, December 8, 2010

Dia (Cerita Kampus)

Setelah tiga bulan bersama teman-teman sekelas, tak mungkin tidak mengenal karakteristik teman sendiri. Berbagai tingkah laku dan karakteristik manusia membuat aku belajar akan suatu hal. Hal penting dalam hubungan antarmanusia.

Dia, entah sebutan apa yang cocok untuk menggambarkan karakteristiknya. Awalnya, saat melihatnya, aku yakin bahwa dia adalah pemimpin yang baik. Dugaan aku tepat saat pemilihan ketua angkatan, dia menyalonkan diri. Tapi keyakinan aku berubah saat dia berbicara di depan teman-teman dalam rangka pemilihan ketua angkatan. Cara berbicaranya menyudutkan calon ketua angkatan lainnya. Itulah poin minus dalam setiap pemilihan buatku. Membanggakan diri agar bisa dipilih oleh pemilih tentu itu harus tapi kalau menyudutkan calon lain itu bukan calon pemimpin yang baik menurutku. Akhirnya aku tak memilih dia, aku memberikan suaraku untuk orang yang lebih tepat menurutku. (Setiap orang memiliki penilaian yang berbeda-beda terhadap suatu hal. Alangkah lebih baiknya jika kita belajar untuk memilih agar kita tak menyesal).

Setelah pemilihan itu, dia terpilih menjadi wakil ketua. Mungkin itu lebih cocok untuknya. Beberapa minggu kemudian, poin minusnya bertambah lagi dihadapanku. Dia menjelek-jelekkan kinerja ketua angkatan yang baru. Aku akui juga yang dikatakannya memang benar tapi tak perlu dipublikasikan terhadap orang-orang. Sikap untuk berada di atas kepemimpinan ketua angkatan pun mulai muncul. Seperti mengambil start terlebih dahulu saat sang ketua akan melaksanakan tugas pokoknya. Dalam hati aku hanya bergumam, "weleh.. weleh…"

Poin plus yang aku dapat darinya. Saat I have a problem with time and I am late come to campus.. hhe , dia tidak membiarkan aku gugur dalam praktik. Dia membujuk asisten laboratorium untuk tetap mempertahankanku. Usahanya berhasil meskipun nada bicaranya seolah menyesal punya teman sepertiku. Tapi saat itu aku malah berpikir kalau dia memiliki solodaritas yang tinggi, semua pikiran buruk yang telah aku simpulkan selama ini hilang dengan seketika.

I am not human who have many mouth. Lebih baik aku simpan dalam hati dan dijadikan pembelajaran daripada mengumbarkan kejelekkan orang lain. Poin minusnya bertambah lagi saat menjelekkan hasil karya orang lain. I know, he is just kidding, tapi itu tidak tepat pada karya yang telah dibuat dengan susah payah dan keringat banyak. Orang yang terkena korbannya hanya tertawa kecil dengan raut wajah kesal. (Aku saja yang bukan korbannya kesal, apalagi temanku itu. Sabar sabar!) . Sikap sok benar tapi salah juga ditunjukannya. Ah… melihat wajah yang lain sepertinya kesal. Aku hanya diam.

Usia mungkin sangat berpengaruh, paling tua diantara yang muda bisa membuat orang seperti itu (hanya dugaan). Merasa dirinya memiliki pengalaman yang lebih diantara bocah-bocah disekeliling membuat dia merasa lebih tinggi, paling benar, dan sok tahu. Oh ya, hal yang bikin aku kaget, ternyata penilaian seperti itu bukan aku saja yang membuat. Banyak diantara teman-temanku yang memberikan penilaian yang sama terhadapnya. Aku tidak menyangka dia sudah menjadi buah bibir, ketinggalan berita gue… (Aku memang kurang bergaul dengan teman lainnya karena alasan ketidak cocokan bahan pembicaraan. Hanya beberapa orang saja yang enak diajak ngobrol. Sumber ini juga berasal dari orang yang enak diajak ngobrol. Hhe). Bahkan ada yang memberikan penilaian lebih buruk. I just smiled when people was telling about him.

Membuat ulasan seperti ini tentu sama saja membicarakan keburukan orang lain. Tapi jujur, aku tidak punya niat untuk menjatuhkannya. Hanya share aja, kalau orang seperti itu ada di dunia ini, mungkin di sekitar kita. Tentu saja aku pun sadar, kemungkinan besar aku menjadi buah bibir di kelas. Dengan sikapku yang misterius, aneh, dan reaksi orang lain terhadapku membuat banyak dugaan buruk sepertinya. Hha. Jam kosong ke perpustakaan dan menyendiri. Itu aneh kan? Haha. Itu semua karena aku belum mendapatkan teman yang cocok, teman yang cocok hanya ada di masa sekolahku dan dunia maya. Unreal world more interesting than real world, but real world more important than unreal world.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP