Loading...
Tuesday, November 30, 2010

Menjadi Pihak Netral Itu Lumayan Berat

Berdasarkan kamus besar bahasa indonesia Netral berarti tidak berpihak (tidak ikut atau tidak membantu salah satu pihak). Mungkin hal yang aku alami bisa disebut sebagai netral.

Aku punya dua orang teman. Mereka berdua adalah teman baik aku, sebut saja A dan B. A dan B tidak saling mengenal tapi mereka saling mengetahui. A adalah teman satu sekolah denganku. A mempunyai kekasih bernama C. B adalah teman satu bimbingan belajar. B adalah mantan kekasihnya C, B tahu kalau pacar C sekarang adalah A dan satu sekolah denganku dari facebook. Aku dan A bisa dibilang dekat dan sering cerita-cerita mengenai hal apapun, termasuk kisah cintanya. Begitu pula dengan B, aku dan B sering ngobrol dan akhirnya kami dekat dan saling bertukar cerita. Saat B bercerita kalau C adalah mantan pacarnya, aku sangat terkejut dengan semua keterkaitan ini. Dunia ini begitu sempit. Semua ada keterkaitan yang tak terduga.

Suatu saat A dan B pernah berseteru di dunia maya, tepatnya di facebook. Akibat kesalahpahaman dalam kata-kata. B mengatakan sesuatu lewat status facebook-nya, A tanpa sengaja membaca dan menyalah artikannya. Saat diklarifikasi oleh A, B menjawab seolah-olah pernyataannya benar dan tak mau mengalah. Pada akhirnya terjadi perang dingin diantara mereka. Nah, disinilah peran aku muncul. A menceritakan perang dingin yang terjadi, A juga meminta aku menanyakan beberapa pertanyaan pada B. Begitu pula sebaliknya dengan B, B menceritakan semua hal yang terjadi. A tahu kalau B cerita padaku dan juga B tahu kalau A cerita padaku. A dan B sama-sama percaya padaku. Setelah mendengar cerita A dan B memang berbeda versi, pastilah setiap orang merasa dirinya paling benar. Aku berusaha sebijak mungkin dan menjelaskan cerita masing-masing kepada masing-masing pula tanpa maksud mengadu domba. Kenetralan dan kebijakanku benar-benar diuji. Berhati-hati dalam berucap agar tak memberatkan salah satu pihak. Dan setelah masalah semua terselesaikan semuanya berdamai, tidak ada perang dingin lagi, meskipun diantara mereka menjadi misscommunication, tapi itu lebih baik daripada saling menyimoan dendam.

Akhir-akhir ini, aku diuji lagi dengan kubu-kubu di kampusku.  D bilang kalau dia tidak suka dengan sikap E yang selalu malas-malasan saat mengerjakan tugas kelompok. Gara-gara sikap E, D selalu menegrjakan tugas sendiri. E bilang kalau D super egois, dia hanya memikirkan dirinya sendiri tidak memikirkan teman-teman sekelompoknya. Saat E sedang bersusah payah, D malah bersenag-senag dengan kegiatannya. Gara-gara D, E dibenci oleh kubu pembela D. Aku sendiri bingung mana yang benar. Ya, akhirnya aku hanya memberikan senyuman manis kepada masing-masing kubu. Hahaha.

Dari kisah-kisah yang aku alami, aku mendapat pelajaran bahwa setiap orang mempunyai watak yang bermacam-macam. Setiap orang pasti ada sisi egois dalam dirinya. Terkadang ada saatnya diam itu jwaban yang paling tepat.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP