Loading...
Monday, October 4, 2010

Mabim Luar dan Kesialan-Kesialan yang Menimpaku

Hari Sabtu, 2 Oktober 2010 kemarin aku bersama teman-teman jurusan melaksanakan kemping dalam rangka masa bimbingan mahasiswa baru. Sehari sebelum hari H, aku sangat malas untuk mengikuti acara tersebut. Hal ini dikarenakan banyak acara penting yang ingin aku ikuti, seperti seminar mengenai lingkungan dan technical meeting unit kegiatan mahasiswa yang saya ikuti. Meskipun berpikir demikian, anehnya aku tetap mempersiapkan barang-barang buat acara mabim. Aku juga tahu acara mabim seperti apa, pengalaman organisasi membuat aku tahu. Tapi aku jalani saja meskipun agak malas kalau dimarah-marahi. Tiba-tiba kami semua disuruh melepas baju. Semua baju yang kami kenakan dikumpulkan. Saat pembagian kembali baju tersebut, kami tidak bisa memilih baju sesuai keinginan. Baju yang sudah aku beli, baru dan masih bersih tertukar dengan baju kusam dan lebih mirip lap pel dibanding kaos. Aku ditertawakan teman-teman gara-gara memakai baju kusam itu.

Kesialan Kedua
Acara jelajah alam dimulai. Kami semua disuruh berjalan mengikuti pembimbing kami. Nanti di tengah perjalanan akan ada pos yang siap menguji kami. Pos pertama kami semua disuruh memegang ketiak teman di depan dan di belakang. Kemudian menempelkan tangan pada teman di sampingnya. Sialnya, aku mendapatkan tangan yang telah digosokkan pada teman yang ketiaknya sangat bau. Aku berusaha menahan tapi benar-benar bikin muak. Bau itu masih kebayang sampai sekarang dan membuat nafsu makanku berkurang. Temanku yang lainnya yang mendapat bau ketiak sama denganku langsung muntah saat mencium bau ketiak temanku yang baunya minta ampun.

Kesialan Ketiga
Pertama menggunakan sendal jepit, keadaannya masih bagus. Setelah dipakai dan tidak ada waktu untuk menyimpannya, sendal jepitku disimpan diluar tenda. Saat akan memakaiinya lagi, puluhan pasang sendal sudah tidak tersusun rapi dan kotor semua. Aku pun memakai sendal yang orang lain dan berharap tertukar dengan sendal yang lebih bagus.
Saat mau pulang, aku sengaja tidak keluar tenda dulu karena berharap mendapat sendal bagus yang disisakan orang lain. Saat aku keluar aku menemukan sendal sebelah kanan yang bertuliskan namaku sudah putus karetnya dan tidak berdaya. Saat aku cari pasangannya ternyata sudah raib, yang tersisa adalah sendal sebelah kanan yang netah punya siapa. Aku pun terpaksa memakai sendal putus di kaki kananku dan sendal sebelah kanan di kaki kiriku. Cara jalanku pun  berubah seperti orang lumpuh.

Kesialan Keempat yang bertubi-tubi
Saat berangkat menuju kampus untuk berkumpul, aku lupa membawa uang untuk pulang nanti. Au bertanya pada kakakku yang mengantarkan ke kampus, ternyata dia pun tak membawa uang. Aku langsung menulis nomor teleponnya di buku catatan untuk menghubunginya saat pulang nanti.
Hari Minggu sore, truk TNI yang membawa peserta mabim sudah sampai di kampus. Aku bingung harus pulang dengan cara apa. Uang tak ada, ponsel tak ada. Aku bertanya pada kakak pembimbingku, ternyata dia juga tak membawa alat komunikasi. Aku meminjam uang pada temanku untuk menelepon. Temanku memberiku uang Rp2000. Zaman sekarang, susah sekali mencari warung telepon. Aku langsung membelikan air mineral berukuran gelas di sebuah warung dengan harga Rp700 untuk mendapatkan kembalian berupa 1 koin Rp 100, 1 koin Rp200, dan 1 lembar unag seribu, Koinnya bisa digunakan untuk telepon umum. Seingatku ada telepon umum di pertigaan jalan Dr. Sethiabudi dan jalan Sukajadi. Dengan beralas sendal kanan-kanan dan sebelah putu aku berjalan kaki dari Kampus sampai pertigaan itu. Tapi alas kakiku benar-benar tak nyaman digunakan, akhirnya aku menggunakan sepatu yang sudah peduh dengan lumpur bekas kegiatan mabim di Rancaupas.
Kakiku benar-benar sakit. Beban berat tasku menambah rasa sakit di kaki. Sesampainya di tempat yang tersedia telepon umum aku langsung mengangkat gagang telepon. Aku langsung memasukkan koin, ternyata koin yang aku masukkan keluar lagi. Ternyata, telepon umum itu rusak. Aku benar-benar prustasi. Masa aku harus pulang dengan jalan kaki sampai rumah. Aku langsung ingat kalau aku punya saudara di daerah Karang Tineung. Aku pun berjalan ke sana dengan jarak sekitar 2-3 km. Dalam perjalan ke rumah saudara aku menemukan sebuah warung telepon. Saat aku cek uang yang ada di sakuku, ternyata hanya bersisa Rp300, entah kemana uang Rp1000 itu. Aku coba menelepon, aku pun takut biaya telepon lebih dari Rp300. Untungnya telepon di warung telepon itu rusak, akupun tidak jadi menelepon. Aku langsung menuju rumah saudara, menelepon kakak, makan, istirahat, dan menunggu jemputan datang.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP