Loading...
Thursday, September 30, 2010

Lingkungan Baru


Dua bulan lebih menganggur saatnya untuk memulai kegiatan baru. Menjadi mahasiswa dan siap belajar di perguruan tinggi. Diawali dengan pengenalan atau yang lebih akrab disebut ospek. Ospek tingkat Universitas cukup menarik dan tidak melelahkan. Mahasiswa baru diperenalkan dengan rektor-rektor dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Pada saat itu pula saya mendapat teman-teman baru yang asyik dan supel. Kami memang baru saling mengenal tapi keakraban dan kekompakkan sudah mulai terjain. Berbagai perbedaan memang begitu terasa tapi kami semua menyesuaikan diri dan akhirnya bisa akrab sampai sekarang. Ospek universitas yang hanya dua hari membuat kami sedih karena hari terakhir adalah hari perpisahan kami. Masing-masing dari kami berbeda fakultas dan jurusan. Tapi berkat kemajuan teknologi, kami masih bisa berkomunikasi. Terakhir, kami bertemu dan berbuka puasa bersama di sebuah tempat makan. Sungguh menyenangkan.


Diantara teman-temanku saat ospek universitas, hanya saya yang ada di fakultas teknik. Universitas kami memang terpisah-pisah. Untuk fakultas teknik dan seni dan sastra ada di Jalan Sethiabudi. Saat ospek tingkat fakultas dan jurusan saya cenderung lebih pendiam. Saya juga tak mengerti mengapa sifat buruk saya muncul saat acara perkenalan ini. Begitu pula saat ospek jurusan, saya hanya diam dan selalu patuh pada pembimbing dan ketua kelompok. Saat perkuliahan dimulai, saya takmenyangka kalau teman-teman satu kelompok saya di ospek jurusan menganggap saya adalah sahabat mereka. Saya cukup senang, berarti mereka mau menerima kekurangan saya. Saya pun lebih sering bergaul dengan mereka.

Beberapa hari bergaul dengan mereka, cukup membuat suatu perubahan dalam diri saya, yaitu penggunaan bahasa. Sebagian besar orang-orang disana menggunakan bahasa sunda. Saya merasa tak nyaman sekali saat berkomunikasi menggunakan bahasa sunda yang kasar. Bukan berarti saya tak suka dengan bahasa daerah saya, tapi saya hanya suka dengan bahasa sunda yang halus karena itu terdengar lebih sopan dan menunjukkan bahwa orang sunda itu halus dan sopan. Sejak sekolah di Taman Kanak-kanak, saya sudah dibiasakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, lokasi sekolah dasar yang di pusat kota juga memengaruhi gaya bahasa saya, begitu pula dengan masa SMP dan SMA saya sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi hobi saya adalah menulis. Meskipun sampai saat ini saya belum menguasai bahasa indonesia yang baik dan benar tapi saya terus belajar agar kemampuan berbahasa indonesia saya semakin baik.

Ada beberapa mata kuliah yang sama persis dengan pelajaran SMA. Seperti fisika dan kimia, untungnya saya cukup menguasai dasar-dasar dari ilmu alam tersebut. Saya juga tidak heran saat teman-teman satu kelas saya yang kebanyakan dari STM sulit mempelajari kedua mata kuliah tersebut. Dari dulu ilmu alam itu memang menjadi momok para pelajar. Hal yang membuat aku terkejut adalah kemampuan bahasa inggris mereka. Saya pikir untuk perkenalan dan salam mereka bisa, ternyata pikiran saya salah total. Mereka sama sekali tidak bisa berbahasa inggris. Gara-gara itu, saat pertemuan pertama kami semua belajar dari abjad. Mengetahui urutan dan cara pengucapan abjad.

Cara belajar di perguruan tinggi tentu berbeda dengan sekolah menengah. Inilah saatnya saya membuktikan bahwa kuliah di swasta tidak selamanya buruk. Saya harus berhasil mencapai target empat tahun lulus atau lebih cepat. Kuliah tanpa organisasi tentu akan terasa monoton. Saya sudah memutuskan untuk berorganisasi untuk menambah pengalaman dan relasi agar hidup lebih berwarna.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP