Loading...
Sunday, July 11, 2010

Tragedi Bintaro





Juned adalah seorang anak dari pasangan suami-istri yang hampir bercerai. Juned tinggal bersama ibunya, nenek dari bapaknya, beserta saudara-saudarnya yang lain. Kehidupan keluarga Juned sangat memperhatikan. Neneknya seorang buruh cuci yang sudah tak muda lagi dan ibunya pegawai kantor yang akhirnya berhenti karena sakit-sakitan. Ayahnya Juned yang tak tinggal bersama adalah montir di sebuah bengkel, gajinya pun tidak bisa membiayai hidup keluarganya.
Juned paling dekat dengan ayahnya. Ia selalu meminta uang jajan dari ayahnya. Bahkan Juned meminta uang untuk biaya sekolah kakaknya yang belum terbayar. Juned ingin sekali ayah dan ibunya kembali bersama seperti dahulu.
Neneknya Juned berencana untuk membawa Juned dan saudara-saudaranya untuk tinggal di desa karena nenek sudah tidak mampu untuk bekerja. Awalnya keinginan sang nenek ditolak oleh ayah dan ibunya Juned. Keduanya saling bersaing untuk dapat mengasuh anak. Tapi nenek tetap bersikukuh untuk membawa anak-anak ke desa dan menyuruh ibunya Juned untuk menyusul nanti.
Sebelum pergi, ayahnya mengajak anak-anak untuk bermain bersama dan membelikan mainan kecuali Juned tidak ikut pada saat itu. Saat pulang Juned marah-marah karena saudaranya dibelikan mainan sedangkan ia tidak.Kakaknya meyakinkan kalau Juned akan diberi hadiah langsung oleh ayahnya.
Di stasiun Juned terus menunggu ayahnya di luar gerbong. Ayahnya tak kunjung datang. Saat ibunya mengajak Juned untuk tetap tinggal bersamanya, Juned menolak dan langsung masuk ke dalam gerbong kereta. Kereta pun diberangkatkan. Saat kereta maju perlahan ayah Juned datang, ia berusaha mengejar kereta dan memasukkan hadiah lewat jendela, tapi sayang ukuran jendela tidak muat untuk memasukkan hadiah itu, alhasil hadiah itu tidak jadi diberikan.
Di kantor petugas kereta api, sang anak buah memberi laporan bahwa kereta sudah diberangkatkan. Kepala Stasiun kaget dan langsung mengejar kereta api itu. Tapi sayang tanda yang diberikan oleh Kepala Stasiun tidak sampai pada pengemudi kereta api. Dari arah berlawanan muncul kereta api lain dengan cukup kencang, tak sempat berhenti terjadilah tabrakan dahsyat antar kereta itu.
Setelah terjadi kecelakaan Juned sadarkan diri, tapi ia tidak bisa beranjak kemanapun karena kakinya terhimpit besi. Ia melihat saudara-saudara dan neneknya sudah tak sadarkan diri dan berlumuran darah.
Juned adalah korban selamat dalam kecelakaan itu dan kakinya harus diamputasi.

Film produksi tahun 1989 ini membuat saya penasaran. Apalagi dikatakan bahwa tragedi ini merupakan kecelakaan terbesar di sejarah perkereta apian Indonesia. Sangat menyentuh dan ini bisa menjadi pelajaran buat kita supaya lebih berkonsentrasi dan tidak lalay dalam melaksanakan tugas.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP