Loading...
Sunday, July 11, 2010

Cerita tentang IPA 1 2008-2010

Part 1


Kelas XI IPA 1 disuruh untuk membuat mading 3 dimensi untuk tugas akhir Pendidikan Lingkungan Hidup. Tidak ada satu orang pun yang mau memberi pendapat untuk konsep tugas tersebut. Akhirnya ada satu orang yang mau untuk mengajak anak-anak untuk mengerjakan. Saya yang awalnya tidak peduli, menjadi sadar bahwa tugas ini juga untuk warga XI IPA 1 juga. Saya pun mau memberikan konsep aquarium, karena semua tidak peduli maka konsep itu disetujui oleh sebagian kecil dari kami.

Minggu berganti minggu tapi tugas ini belum terealisasikan. Saya masih berkhayal dengan konsep dan yang lain masih sibuk dengan urusan mereka. Kardus yang sudah jelek karena dijadikan tempat helm akhirnya kami putuskan untuk membuatnya oleh beberapa perwakilan kelas. Kami pun tak lupa mengumumkan hal tersebut, tapi tidak ada satupun yang merespon.

Kami pun mengerjakannya di salah satu rumah teman kami. Hari demi hari kaminjalani bersama untuk mengerjakan tugas ini, dan akhirnya kami berhasil. Kami pun membawa aquarium ini dengan penuh perjuangan. Suasana malam yang mencekam di sekolah tidak membuat kami urung untuk menyimpan tugas ini di kelas.

Keesokkan harinya, kami tak sabar untuk menunjukkan mading pada teman-teman, tapi respon negatif juga tak absen kami dapatkan. “Kok kalian aja sih yang ngerjain? Kok enggak ngajak-ngajak yang lainnya? Kalau begini ini bukan tugas kelas, tapi tugas kelompok!!!”. Saya yang mendengarnya pun mulai naik darah dan berkata, “Kalian tahu kan kalau tugas ini kalau dikerjakan secara keroyokan itu hasilnya nihil? Makanya kami hanya mengerjakan oleh beberapa orang saja. Lagian kami udah mengumumkan pada kalian, tapi apa respon kalian? Kalau kalian tidak setuju, lebih baik kita bakar aja mading ini dan bikin yang baru!!!”. Akibat ucapan saya yang emosi itu, saya menjadi bahan pergunjingan oleh orang-orang yang tidak setuju dengan hal tersebut.


Part 2


Pertama kali masuk IPA 1, wah sepertinya menyenangkan. Orang-orang yang bisa menjaga kekompakkan dan persahabatan. Sayangnya, pernyataan saya itu salah besar. Ada seseorang yang ucapannya itu tidak bisa dijaga. Semua bacotnya keluar tanpa ada filter yang menyaringnya. Saya memang bukan korban tetap dia, hanya hanya baru mendapat satu kali bom atom darinya, tapi ucapannya yang kelewat batas itu dirasakan oleh setiap orang yang berada di kelas. Setiap orang yang mendengarnya bukan ketawa bahagia mendengarnya, malah kesal akibat ulahnya. Saya termasuk orang yang kasihan bila ada orang yang menjadi korbannya. Tapi kami semua tak mampu berbuat apa-apa. Kami semua hanya bisa membicarakannya di belakang. Itu salah, tapi itu lebih baik menurut saya.


Part 3


Mata Pelajaran Bahasa Sunda pun tak mau ketinggalan untuk membuat tugas akhir semester. Kami semua disuruh membuat film. Seperti biasa saya malas untuk ambil andil dalam tugas tersebut, tapi karena rasa kasihan saya muncul saat melihat orang yang peduli terhadap film diacuhkan oleh siswa lainnya, akhirnya saya bersedia menjadi bagian dari film tersebut. Ide cerita sebagian besar ide saya, setelah semua disepakati kami tinggal memulai film ini.

Sulit sekali membuat film ini, hal yang paling sulit adalah mengontak anak-anak untuk shooting. Untuk proses awal tidak ada masalah alias lancar, tapi ditengah ada hal yang membuat saya drop dan saya ingin mundur dari posisi sutradara yaitu ketika sebagian anak berkata bahwa saya dan rekan yang peduli itu “hawek” atau rakus, mengurusi segala macam tugas, mereka itu berkata di belakang dan setelah mereka berkata seperti itu tetap saja tidak ada hal yang dapat dilakukan mereka. Assisten sutradara dan kru belakang layar lainnya terus mendukung saya agar terus menjalankan film ini.

Sebelumnya, sutradara itu awalnya bukan saya, tapi ada seseorang yang disepakati teman-teman. Saya hanya seorang penulis skenario. Skenario yang saya dan teman-teman buat tidak disetujui oleh sang sutradara. Saya sangat senang dikomentari tapi saya bingung apa yang harus diubah. Saya sangat ingin film ini bagus tapi sang sutradara tidak bisa memeberikan ide untuk mengganti hal yang tidak pantas dalam cerita yang saya buat. Keputusannya bahwa cerita dijalankan dahulu, dan semua cerita diserahkan pada saya. Akhirnya semua setuju untuk memberikan posisi sutradara pada saya.

Film berjalan dengan baik dan akan selesai, tapi tiba-tiba saya drop kembali dan enggan melanjutkan film ini ketika seseorang memberikan komentar, “film basa sunda itu kok jadul-jadul gak kaya film bahasa indonesia orangnya gaol-gaol gituh. Ya iyalah yang bikin film bahasa indonesia itu orang perfilman!”. Saya benar-benar drop, tidak bisa berdiri, dan tidak mau melanjutkan film ini. Saya mencoba untuk berpikir positif atas pernyataan orang tersebut, tapi tidak bisa, karena hati batu saya yang ingin menang sendiri. Saya sudah menyerahkan semua tugas sutradara pada kru yang lain, tapi mereka masih terus mendukung dan memberi semangat pada saya. Saya pun kembali meneruskan film tersebut. Sampai akhirnya film tersebut selesai dan mendapat angka 90 di rapot.


Part 4


Mading 3 dimensi harus dibawa lagi ke sekolah. Mading tersebut hancur lebur karena waktu dibawa kesekolah menggunakan motor dan ada bagian yang sudah tidak mampu bertahan. Dan kami lagi yang mengurusi hal tersebut, membawa, memperbaiki, dan membiayai mading tersebut. Kami semua mengerjakannya di sekolah, supaya anak-anak mau membantu. Tapi sayang, tidak ada kepedulian dari mereka. Selama saya mengerjakan tugas ini saya terus bergerutu tentang ketidakbetahan saya di kelas IPA 1, dan berharap di kelas XII nanti kelasnya dipecah. Itu semua membuat salah seorang gerah dan berkata, “pokoknya setelah ini IPA 1 harus kumpul, aku gak mau IPA satu pecah kaya gini”. Ada beberapa teman yang menangis karena perkataannya, bagi saya biasa saja.

Anak IPA 1 berkumpul dan seorang yang ingin merubah itu semua, mulai berkata. Saya yang sedari tadi emosi tidak memerhatikan omongannya dan terus mengerjakan mading 3 dimensi. Akibat kebodohan saya membuat saya dibenci orang-orang. Saya pikir dengan adanya diskusi tersebut kita akan membahas masalah-masalah pada setiap anak dan menyelesaikannya, tapi ternyata yang dibahas hanya masalah saya saja. Itu semua membuat posisi sya terjebit, saya merasa kecil di dalam kelas, saya mersa terhina, dipandang jijik oleh teman-teman. Dari hasil diskusi itu malah menambah masalah saya bukan mnyelesaikannya. Gara-gara itu saya semakin benci dengan kelas IPA 1.


Part 5


Rasa ketidaknyamanan masih terbesit dalam hati, Rasa ingin pindah kelas masinh menggebu-gebu dalam hati. Kelas lain malah menerima saya dengan baik dibanding kelas sendiri. Tapi sayang sudah 4 bulan, sehingga sangat sulit untuk pindah.

Di kelas saya hanya dekat dengan teman yang satu barisan, kita semua membuat keluarga-keluargaan, saya sangat nyaman dengan hal itu, karena mereka peduli pada saya begitu pula sebaliknya. Tapi sindiran-sindiran keluar dari mulut orang itu lagi, saya tidak menghiraukannya, tapi saya tahu sindiran itu buat saya. Saya yang terlalu perasa atau bagaimana, tapi semua sindiran itu sepertinya buat saya. Saya tetap memegang prinsip bahwa di IPA 1 saya hanya numpang untuk belajar bukan untuk bersosialisasi. Memang kita saling membutuhkan nanti, tapi sangat sulit menyembuhkan hati yang sudah terluka.


>> back to about ME!!!

>> back to menu UTAMA!!!

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP