Loading...
Sunday, February 14, 2010

Cinta Monik

"Kamu tahu Monik?", tanya salah seorang siswi.
"Ya tahu. Dia yang sering bolos sekolah kan?" Kelas XII IPA A kan?", kata siswa lainnya.
"Benar! Kamu tahu dia digosipkan apa?"
"Apa gitu?"
"Dia digosipkan ha...!"
"sst! sudah-sudah! kalian malah bergosip. Ibu sudah datang dari tadi. Cepat masuk ke kelas!", salah seorang guru menghampiri dan menghentikan pembicaraan mereka.
Aku mendengarkan pergosipan itu saat aku melintasi mereka. Aku hanya bisa tertawa dalam hati.

"Hay Prat! Selamat pagi!", teriak salah seorang di kelas XII IPA A.
"Prat, Pret, Prot, Prat, pret, Prot! Cukup Pratama! Tidak perlu diperpendek!", ucapku kesal.
"Okey deh Prat...tama..hhe".
Ya, namaku Pratama, aku adalah siswa kelas XII IPA A, teman sekelas dari seseorang yang digosipkan oleh kedua siswi tadi. Sebenarnya bukan hanya teman, tapi Monik pernah berpacaran denganku. Tidak lama, hanya sekitar dua bulan, Hubungan kami putus hanya karena Monik tidak bisa menerima kekuranganku.

"Hey! Jangan melamun saja!", teriak Izal mengagetkan.
Aku kaget sekali.
"Sudahlah, tak perlu dipikirkan", Izal mencoba menenangkan.
"Emang kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan?", tanyaku.
"Enggak, hihi", cengir Izal.
"Dasar, makanya jangan sok tahu! haha!"

Bel istirahat berbunyi. seperti biasa aku pergi ke kantin sendiri tanpa ada yang menemani. Untuk saat ini kesendirian lebih menarik buatku. Memang terkadang rasa bosan melanda. Terkadang aku memikirkan mantan pacarku Monik. Ketidakhadiran Monik membuat aku merindukannya. Monik tidak sekolah dari dua bulan lalu, seminggu setelah dia mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang semua teman sekelasnya. Banayk gosip yang beredar mengenai ketidakhadiran Monik.

Aku pernah mendengar Yani datang ke rumah Monik. Yani berencana menagih hutang. Tapi ternyata Monik tidak ada. Ibunya Monik bercerita kalau Monik sudah dua minggu tidak ada di rumah. Aku juga pernah mendengan Dede bercerita kalau dia bertemu dengan seseorang di depan sekolah. Penampilan orang itu cukup biasa. Ternyata, orang itu adalah suruhan orang tua Monik untuk mencari Monik. Tepatnya bisa dibilang intel. Aku yang mendengarkan cerita teman-teman begitu terkejut, ternyata masalah Monik itu begitu besar. Aku pun berusaha mencari tahu penyebab Monik pergi dari rumahnya. Aku pun berencana untuk mengunjungi rumahnya besok.

Keesokkan harinya, kebetulan sekolah libur jadi kau bisa pergi menjalankan rencanaku. Awalnya aku sangat ragu untuk menegtuk pintu rumah Monik. Tapi aku berusaha memeberanikan diri. Tok tok, kuketuk pintu perlahan.
"Sebentar", teriak salah seorang penghuni rumah.
"Pratama! Ibu senang kamu bisa datang ke sini. Ayo masuk!"
"Iya".
"Pratama, ibu bingung harus bagaimana lagi mengurusi Monik. Sudah seminggu ini Monik tidak pulang ke rumah. Ibu bingung harus mencarinya ke mana lagi. Ibu sudah meminta bantuan pihak kepolisian tapi belum ada hasilnya", cerita wanita itu sambil terisak-isak.
"Sabar ibu, saya tahu perasaan ibu. Kalau boleh tahu masalahnya kenapa", tanyaku penasaran.
"Tapi kamu janji kan untuk tidak memberitahukannya pada teman-teman sekelasmu karena ini termasuk aib keluraga"
"baik bu, saya janji dan akan berusaha membantu ibu untuk menemukan Monik"
"Begini ceritanya, ibu dan Monik pernah bertengkar hebat mengenai perayaan ulang tahun Monik. Monik ingin sekali dirayakan besar-besaran tapi keuangan keluarga kami sedang menurun. Ayahnya berusaha meyakinkan Monik untuk mengerti keadaan keluarga. Akhirnya Monik mulai tenang setelah diberi jaminan kalau ulang tahunnya akan dirayakan namun hanya di rumah. Malam hari setelah peryaan pesta ulang tahun selesai, Monik meminta izin untuk pergi keluar bersama pacar barunya. Monik berjanji akan pulang sekitar pukul 9 tapi ternyata dia pulang lewat tengah malam. Sebagai orang tua yang khawatir ibu pun langsung meledak-ledak. Monik hanya diam dan langsung membanting pintu kamarnya. Mulai saat itulah Monik membenci ibu. Ibu kesal sekali karena di sering pulang larut malah hanya untuk bertemu Surya, pacar barunya. Ibu pernag menanyakan suatu hal karena saking emosinya: Kamu pilih keluarga atau Surya? Apa jawaban yang ibu dapat, jawaban yang menyakitkan hati: Surya! Monik sudah tak betah berada di sini dengan sikap Ibu! Harus ke mana lagi ibu mencari?"
"ibu sudah mencari ke kediaman Surya?"
"Sudah, namun hasilnya nihil. Surya tak mengaku dan di dalam kosannya pun tidak ada Monik"
"ya sudah, ibu tenangkan diri dulu. Saya pasti akan berusaha mencari Monik. Sekalian saya mau pamit"
"terima kasih sebelumnya ya Pratama, ibu senang sekali ada yang peduli. Sebenarnya ibu sangat mendukung sekali hubungan kamu dengan Monik, tapi tenang sebelum janur kuning melengkung, kesempatan itu masih ada"
"Ibu bisa aja, saya pamit ya"
"Iya, hati-hati"
Aku pun pergi menjauhi rumah Monik, aku berpikir sekuat tenaga mencari tempat di mana Monik berada"

Tet tot tet tot! Ponselku berdering, tanda pasan singkat diterima. Ternyata itu dari ibunya Monik.
"Nak Pratama, ibu dapat informasi kalau Monik sering pergi ke daerah Cijerah. Ibu sangat mengharapkan bantuanmu. Terima kasih"
Cijerah? Aku tidak tahu apa-apa tentang Cijerah. Tunggu, dulu sewaktu kami masih berpacaran, Monik pernah meminta izin padaku kalau dia ingin pergi ke rumah saudaranya di Cijerah dengan bersama teman sekelas kami, Dede. Aku langsung memanggil Dede.
"Dede!"
"Ya, Prat?"
"Kamu masih ingat enggak waktu kamu mengantarkan Monik ke rumah soudaranya di daerah Cijerah?"
"Masih, memangnya kenapa?"
"Sepulang sekolah bisa antarkan aku ke sana?"
"Bisa"
"Thanks banget ya!"
Sepulang sekolah, aku langsung memanggil Dede untuk menjalankan visi pencarianku yang pertama. Aku terus mengikuti motor Dede yang bergerak dengan cepat. Tiba-tiba Dede berhenti.
"Di sini tempatnya?", tanyaku.
"Dulu Monik meminta aku menurunkannya di sini, terus dia masuk ke gang ini dan aku tak tahu lagi", kata Dede.
"Okey deh kalai begitu, terima kasih sekali lagi"
"Tidak masalah kok, aku pulang ya"
"Ya, hati-hati"
Aku memasuki gang itu dan ternyata banyak sekali rumah-rumah yang ada di situ. Bagaimana aku mencarinya? Pasti sulit sekali. Tiba-tiba ada seorang pria tua yang melintas dan bertanya
"Mencari siapa de?"
"Eh, saya mencari rumah soudara teman saya. Teman saya bernama Monik"
"Monik? Saya belum pernah mendengar, saya juga belum pernah mendengar warga saya menerima saudaranya untuk tinggal di rumahnya. Kalau boleh tahu umur teman ade sekitar berapa ya?"
"Dia masih SMA, satu kelas dengan saya. Dulu ia pernah datang ke sini dan masuk ke gang ini"
"Tunggu dulu, bapak pernah melihat anak SMA masuk ke sini. Kalau tidak salah ia mau bertemu dengan kakanya Surya"
"Apa? Surya?"
"Ya benar!"
"Kalau boleh tahu di mana rumah Surya?"
"Di sana! Itu tempat kos-an. Tapi sudah lama saya tidak melihatnya"
"Bisa antarkan saya ke tempak pemilik kos?"
"tentu, mari"

"Bu Lia!", panggil Bapak itu
"Iya, ada apa ya?", jawab seorang wanita pemilik kos-an.
"ini bu ada yang mau mengobrol, kalau begitu saya pamit dulu"
"oh ya, hati-hati pak, mari silakan masuk"
Aku duduk di sebuah kursi tempat menerima para tamu.
"Ade mau nge-kos di sini?"
"Enggak sih bu, sebenarnya saya ingin menanyakan tentang Surya"
"Kamu saudaranya Surya? tanya Ibu itu dengan meninggikan suaranya.
"Bukan bu, begini ceritanya, sebenarnya saya mencari teman saya, katanya dia pernah berkunjung ke kos-annya Surya"
"Monik?"
"iya benar"
"Oh, dulu Monik pernah datang ke sini. Dia mengaku kalau dia adik sepupu Surya, tapi bu tidak percaya. Ibu yakin kalau Monik itu pacarnya Surya. Monik pernah membayarkan tunggakan kos Surya selama satu bulan. Setelah itu Surya tak mampu membayar lagi dan akhirnya Surya Ibu usir dari kos-an ini"
"ibu tahu ke mana Surya pergi?"
"ibu kurang tahu, tapi ibu pernah menedengar kata-kata 'balik ke Jatayu'. Ibu pun pernah mencari Surya ke sana untuk menagih uang kos-an, tapi hasilnya nihil"
"Apa ibu punya informasi lagi?"
"Tidak cuma itu"
"Ibu saya mau berterima kasih banyak pada ibu. Informasi ibu sangat berguna. Saya akan berusaha mencari Surya"
"Sama-sama. Tolong langsung kabari ibu bila kamu melihat Surya"
"baik bu, saya pamit"

Keesokkan harinya sepulang sekolah, aku mulai pergi ke daerah Jatayu. Aku mulai kebingungan karena daerah Jatayu itu sangat luas. Aku berniat mampir ke rumah Monik, namun aku melihat segerombolan pemuda sedang berkumpul di depan sebuah warnet. Aku pernah lihat sebagian pemuda itu, Monik pernah mengundangnya di pesta ulang tahunnya. Aku berpikir kalau pemuda itu tahu di mana Surya. Aku mendekati mereka,
"Maaf, kalian teman-temanya Surya?"
"Ya, ada urusan apa lo?"
"Saya mau bertemu Surya"
"Buat apa?"
"Saya inginbertemu teman saya, katanya dia bersama Surya"
"Monik?"
"Iya"
"Dia enggak ada!"
"Kalau boleh tahu sekarang dia di mana? Kasihan ibu dan teman-temannya di sekolah mengkhawatirkannya"
"Sebenarnya gue udah males ngurusin si Monik. Si Monik bisanya bikin rusuh aja. Bikin persahabatan kita-kita pada ancur sama Surya"
"Kok bisa?"
"Sudahlah ga usah banyak bacot lo"
"Tapi saya butuh alamatnya Surya, kalau kalian kasih saya bakal pergi kok"
"OK, lo lihat itu pintu itu pagar warna hijau?"
"Iya"
"Itu tempat kos-annya Surya"
"Terima kasih"
"ya ya"

"Selamat siang, mau ngekos di sini?", tanya salah seorang wanita.
"Enggak bu, saya ingin nanya Surya", jawabku.
"Oh, Surya. Itu kamarnya, tapi Surya bilang dia enggak bisa diganggu"
"Memangnya kenapa bu?"
"Dia lagi kedatangan saudaranya, seorang perempuan"
"Oh, tapi saya disuruh Surya untuk datang", aku berusaha berbohong.
"Silakan kalau begitu, coba saja"
"terima kasih bu"
Aku melangkahkan kaki mendekati pintu kamar Surya. Terdengar suara perempuan yang merengek-rengek minta dibelikan sesuatu. Aku penasaran dan mengintip. Aku mendengar perempuan itu minta dibelikan mangga asam. Ada sorang lelaki muncul, aku rasa aku mengenal wajah lelaki itu. Itu Surya! Ternyata benar ia sedang kedatangan saudaranya. Aku terus mendekati kaca karena aku penasaran dengan saudara perempuannya itu. Badabku terus menempel pada pintu dan kepalaku menempel pada jendela. Aku benar-benar penasaran melihat perempuan itu, tapi aku rasa itu bukan Monik karena Monik tidak segemuk itu.
Brug!
Pintu yang aku tekan terbuka dan aku jatuh dihadapan Surya dan perempuan itu.
"Pratama!", teriak perempuan itu.
Aku langsung menoleh ke arah suara itu.
"Monik!?"


*cerita ini hanya fiktif belaka

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP