Loading...
Friday, January 1, 2010

Zaman Kompeni Belanda

“Angga, Angga!”, pangil Adi,”maafin gua Ngga!”.

“Kamu sih! Maen dorong aja!”, sahut Astri.

“Bagaimana kalau Angga tidak bisa kembali lagi?”, tanya Anton.

Pertanyaan Anton tidak ada yang menjawab satu orang pun. Ajeng hanya diam tak dapat berkata apapun.

Tiba-tiba terdengar suara, “Hoiii, buruan kesini!”.

“Siapa itu? Angga?”, tanya Adi.

“Iya, gue Angga. Buruan kesini!”, jawab Angga.

“Alhamdulillah, ternyata kamu masih hidup. Memang ada apa disana?”, tanya Adi lagi.

“Pokoknya buruan kesini!:” balasnya.

Anak-anak mulai bingung, tapi akhirnya mereka sepakat untuk masuk. Perdebatan dimulai kembali, siapa dulu orang yang masuk ke dalam lubang hitam itu.

Teriakkan Angga kembali terdengar, “Woooiiii, buruan!”.

Adi pun mulai memberanikan diri untuk masuk kedalam lubang itu.

“Kamu yakin mau masuk kedalam situ?” tanya Astri.

Adi tidak menjawab pertanyaan Astri. Dia langsung melompat ke dalam lubang. Anton yang tidak mau kalah pun ingin masuk ke dalamnya. Akhirnya Astri pun menyusulnya dan Ajeng mengikut di belakangnya. Mereka semua masuk ke dalam lubang itu tanpa memperdulikan apakah mereka akan hidup atau mati. Saat berada di dalam lubang, rasanya benar-benar akan mati, seperti jatuh dari lantai paling atas gedung pencakar langit. Namun tidak ada dasarnya. Ingin rasanya Ajeng membuka mata untuk melihat keadaan, tapi matanya sungguh berat untuk dibuka, entah kenapa. Astri pun dia tidak berani membuka matanya. Dengan penuh keberanian Adi membuka matanya, tapi yang dilihat adalah kegelapan. Adi tidak bisa melihat dirinya sendiri dan teman-temannya. Adi sangat ingin berteriak, tapi mulutnya tertutup karena tertekan oleh hembusan angin yang sangat dasyat. Beberapa kemudian secercah cahaya muncul dan lama-kelamaan ruangan yang entah apa itu berubah menjadi lautan cahaya. Mereka semua merasakan bahwa sekarang mereka berada dalam suatu ruang yang sangat terang dan hembusan angin tadi sudah menghilang. Mereka semua mencoba membuka mata sedikit-sedikit karena keadaan di luar berbeda jauh dengan keadaan di dalam lubang. Mereka semua juga merasakan kalau kai mereka memijak sesuatu, seperti memijak tanah, aspal, atau sesuatu yang keras.

“Di mana ini?”, tanya Adi sambil melihat-lihat keadaan sekitar.

Anton langsung membuka mata saat Adi menayakan hal itu, Astrid dan Ajeng pun menyusul membuka mata mereka masing-masing. Begitu terkejutnya Ajeng saat melihat keadaan sekitar, Ajeng pernah melihat keadaan ini dalam buku sejarah yang pernah ia baca.

“I.. I.. ni kan di…”, ucap Ajeng gagap.

“Di mana?”, tanya Astri sambil menggoyangkan tubuh Ajeng.

“Di.. di.. Gedung Pemerintahan Kabupaten Bandung..” jawab Ajeng.

“Yang bener aja! Gedung Pemerintahan Kabupaten Bandung kan bukan di sini, tapi di Soreang!” sanggah Anton.

“Memang, Gedung Perintahan Kabupaten Bandung itu di Soreang, tapi itu zaman sekarang, kalo zaman dulu itu di sini!”, jawab Ajeng.

“Angga mana ya?” tanya Adi.

Mereka berempat mencari-cari Angga. Mereka mencoba berjalan kea rah lubang itu menghadap, namun baru beberapa langkah mereka berjalan, lubang itu menghilang dengan sekejap.

“Mana lubang itu?” tanya Astri.

“Bagaimana cara kita kembali?” tanya Anton panik.

“Tenang saja, kita bisa buat formasi seperti yang kita lakukan tadi!” jawab Adi, “dan lebih baik kita nikmati dulu pesona kota ini sambil mencari Angga”.

Awalnya Astri, Ajeng dan Anton tidak setuju dengan usul Adi untuk menelusuri kota ini. Tapi akhirnya mereka setuju karena mereka tidak mau meninggal salah satu teman mereka. Akhirnya mereka semua menyusuri jalan tadi. Tak lama kemudian datang dua orang tentara Belanda dan mengkap mereka berempat.

“Mengapa kalian berada di sini?” tanya salah satu dari tentara itu.

“Lebih baik kita laporkan pada Jendral, pasti mereka akan dihukum mati”, tambah tentara yang lainnya.

“Tunggu dulu!”, teriak seorang gadis yang mengenakan gaun sambil mengenakan payung, “Mereka semua teman-temanku”.

“Baik nona”, jawab dua tentara itu yang langsung meninggalkan anak-anak dan sang gadis.

“Kenapa kamu mau menolong kami”, tanya Astri. Sebelum gadis itu menjawab, Angga keluar dari balik gedung dan berkata, “Wooiii!”.

“Angga!” teriak anak-anak kompak. “Lo ga apa-apa kan?”’ tanya Adi khawatir.

“Lo tenang aja, gw ga papa kok, tapi awas ya loe, gue bakal balas karena lo udah dorong gw ke dalam lubang. Oh ya, kenalin, ini adalah Elizabeth van Houten, dia adalah anak Jendral yang menguasai wilayah Bandung saat ini.

“Jadi ini benar ini di Bandung?” tanya Anton.

“Ya benar, perkenalkan,saya Elizabeth van Houten, kalian bisa panggil saya Eliza, saya tadi sedang berjalan-jalan namun tak di sengaja saya melihat seseorang yaitu Angga sedang berteriak-teriak sepertinya kesal pada sesuatu”, jelas gadis Belanda itu.

“Oh, kalau begitu perkenalkan, saya Astri, ini teman saya Ajeng, yang Anton dan yang ini Adi”, kata Astri memperkenalkan diri dan teman-temannya.

“Kalau begitu ayo ikut ke rumah saya, tidak aman kita bercakap-cakap disini, karena disini banyak sekali tentara-tentara yang berjaga, dan kalau kita ribut, kita bisa dihukum mati”, kata Elizabeth.

Tanpa menjawab mereka semua setuju atas saran Elizabeth, mereka pun mengikuti Elizabeth ke rumahnya.

Mereka semua terkejut saat melihat rumah Eliza yang begitu besar dan mewah. Seperti bukan rumah, tapi istana. Tapi wajar saja rumahnya begitu besar dan megah, karena dia adalah anak seorang jendral yang menguasai kota Bandung. Dari gerbang sampai kedalam rumahnya begitu panjang, sampai mereka semua kelelahan. Pintu yang amat besar berada di depan mata mereka. Elizabaeth kemudian berteriak, “Buka!”. Pintu terbuka dan mereka semua masuk ke dalam rumah yang megah itu. Tak jauh dari pintu terdapat sebuah kursi mewah, sepertinya digunakan untuk orang dengan kedudukan tinggi. Tak lama kemudian orang yang di bicarakan datang dan langsung menduduki kursinya. Mereka semua mendekati orang itu, dan Elizabeth langsung berkata, “Ayah, perkenalkan ini adalah teman-temanku. Mereka semua orang Indonesia, tapi mereka semua berpihak pada kita. Apakah aya mengizinkan teman-temanku untuk masuk dan bermain ke dalam rumah ini?”.

“Tentu saja, ayah akan lakukan semua yang kau inginkan,” jawab Ayahnya, “dan kalian ingat, apabila diantara kalian ada yang mencoba mengacaukan keadaan di sini, apalagi berpura-pura dan akan menyerang kami, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian semua!”. Mereka semua tidak menjawab karena mereka semua membayangkan sakitnya hukuman yang diberikan oleh Ayahnya Elizabeth yang seorang Jendral bila ada yang tidak mematuhi perintahnya. Pikiran-pikaran buruk tersebut hilang ketika Elizabeth menyuruh mereka semua masuk ke dalam ruangan santai. Ruangan itu biasa digunakan untuk bersantai, Karena di dalam ruangan itu terdapat sebuah kursi yang besar yang terbuat dari bambu, sebuah alat pemutar piringan hitam, dan selembar karpet yang amat luas.

“Kita ngobrol di sini saja”, kata Elizabeth, “Kalau boleh tahu, kalian datang dari mana?”.

“Kamu jangan kaget ya, sebelumnya boleh tahu sekarang ini tahun berapa?” tanya Anton.

“Hah?! Sekarang tahun 1900! Memangnya ada apa?”, tanya Elizabeth heran.

“Sebenarnya kita datang dari tahun 2009”, jawab Anton.

“Kalian jangan membuat cerita yang aneh-aneh, mana ada orang bisa berpergian ke masa lalu? Pasti kalian semua sedang bermimpi?”, tanya Elizabeth semakin bingung.

“Percayalah pada kami Elizabeth, kami semua tidak berbohong, pada awalnya kami menemukan sebuah buku tua, secara kebetulan kami semua menggunakan cincin yang ada di dalam buku ini, kemudian Adi menggambar sebuah formasi tepat seperti yang ada di buku ini dan tanpa sengaja terbentuk sebuah lubang hitam yang sangat aneh. Awalnya kita semua ragu untuk masuk ke dalam lubang tersebut, tapi Angga jatuh ke dalam lubang itu gara-gara di dorong oleh Adi”, jelas Astri sambil menujuk buku yang dipegang Ajeng.

“Kejadian ini sungguh di luar akal sehat manusia, aku masih belum bisa percaya pada apa yang sekarang kita alami”, tambah Anton.

“Sudahlah kalian jangan banyak membual, saya sangat membenci pada orang yang suka mengarang kejadian-kejadian aneh”, gerutu Elizabeth kesal.

“Sudahlah kalian semua, tidak usah bertengkar untuk hal yang sepele ini, meskipun Elizabeth tidak percaya pada apa yang kita ucapkan, tapi aku sangat senang bisa bertemu dengan Elizabeth di sini”, ucap Angga mencairkan suasana.

“Angga benar, tak ada gunanya kita meributkan hal ini, saya sudah bisa mendapatkan teman sebaya seperti kalian pun sudah sangat senang, kalu begitu saya mau kebelakang dulu.” Kata Eliza sambil munuju keluar ruangan santai. Ajeng ingat, kalau dia masih menbawa buku tua itu. Ajeng langsung membuka buku tua itu dan membaca lanjutan buku tersebut, “Tong boga urusan lain mun hayang balik”.

“Apa yang kamu katakan barusan?”, tanya Anton.

“Elizabeth kamu gadis yang amat manis”, gumam Angga memotong pertanyaan Anton.

“Jadi lo suka ma Elizabeth van Houten anak Jendral Belanda”, tanya Adi.

Tak lama kemudian Elizabeth datang diiringi oleh dua orang pembantu yang seperti orang pribumi asli membawa makanan-makanan untuk dihidangkan.

“Silahkan dimakan!”, suruh Elizabet.

“Terima kasih, tidak usah repot-repot” kata mereka semua.

Makanan yang amat banyak terhidang di atas meja yang berada di tengah ruangan. Terdengar sayup-sayup suara Jendral berkata, “Bagaimana dengan rencana pembangunan jalan raya?”. Mereka pun penasaran dengan apa yang dibicarakan Jendral kepada anak buahnya. Tapi mereka tidak berani menayakan langsung kepada Elizabeth, karena takut menyinggungnya.

“Eliza, maukah kau mengajak kami berkeliling kota ini?” tanya Angga.

“Baiklah, saya bisa mengantarkan kalian berkeliling, tapi saya hanya berani mengantarkan kalian di daerah yang aman, karena para prajurit Ayah sedang sibuk mengatur warga Bandung yang sangat susah diatur” jawab Elizabeth. Kurang ajar, dalam hati Astri dan Anton, enak saja bilang warga Bandung susah diatur, kalian sendiri yang mengaturnya tanpa ada rasa kemanusiaan. Rasa kesal Astri dan Anton ditahan, mereka berdua berpikir, daripada mati sia-sia lebih baik, biarkan saja dulu bangsa asing menjelek-jelekan bangsa kita, toh kemenangan dan kebebesan pasti akan berada di tangan kita.

“Eh, bangunan apa itu?”, tanya Astri.

“Ayo coba kita lihat kesana!”, tanya Adi.

“Jangan!”, teriak Elizabeth, “Kita tidak boleh masuk ke daerah rumah itu, karena itu masuk daerah yang belum dikuasai Ayahku!”.

“Maksudnya?” tanya Anton. Kemudian Elizabeth menjelaskan bahwa daerah itu belum dikuasai ayahnya berarti sangat berbahaya berada di daerah itu, kita bisa mati kalau ketahuan berkeliaran di sana, karena orang-orang Indonesia akan menangkap bahkan membunuh mereka jika ada orang Belanda seperti Elizabeth di sana. “Tapi kita kan orang Indonesia? Pasti kita tidak akan disergap atau dibunuh oleh mereka”, timpal Ajeng yang sedari tadi diam. Diam-diam Ajeng pun penasaran dengan rumah itu, rumah yang keadaannya seperti gubuk. Apakah orang Belanda tidak mau memberikan tanah buat orang Indonesia? Entahlah yang penting kita perlu tahu dulu tempat apakah itu. “Kalau kalian ingin masuk, terserah. Tapi kalau sesuatu terjadi pada kalian saya tidak mau tanggung. Saya akan menunggu di sini saja!” ucap Elizabeth sambil berdiri di balik pohon. “Baiklah kita akan melihat keadaan di sana, kamu tunggu di sini ya Eliza, kau tidak usah khawatir kami pasti akan kembali lagi”, Angga menenangkan hati Elizabeth yang kawatir akan keadaan teman barunya itu. Mereka berlima menuju kearah rumah itu, sangata sulit untuk menuju ke sana. Karena ada tembok yang tingginya sekitar 75cm dan rumput-rumput yang menjulang tinggi, supaya orang-orang Belanda itu tidak mudah menemukan mereka dan menganggap bahwa rumah itu rumah kosong. Sedikit demi seidkit mereka menyelinap di balik tembok.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP