Loading...
Friday, January 1, 2010

Tidak Bisa Pulang


Ajeng menyusuri jalan. Dia melihat bangunan besar yang masih baru. Bentuknya sepertinya Ajeng kenal. Oh ya, itu adalah kantor pos Bandung yang berada di jalan Asia Afrika dekat Masjid Agung Bandung. Ajeng melihat ke sebelah kiri. Bersebrangan dengan bangunan yang nantinya menjadi kantor pos. Terlihat sebuah masjid kecil. Sepertinya itu yang nantinya menjadi Masjid Agung Bandung. Ajeng kemudian melihat pasukan Belanda yang sedang berjaga di depan bangunan tua itu. Lalu Ajeng meminta padanya untuk diantarkan ke rumah Jendral Belanda. Ajeng menjelaskan kalau anaknya yaitu Elizabeth van Houten adalah temannya. Untung saja pria setengah baya yang berkebangsaan Belandaa itu mau mengantarkan Ajeng ke rumah Jendral. Ajeng berjalan menuju rumah besar itu. Tiba-tiba seseorang dari dalam rumah berteriak, “Itu Ajeng!”. Ternyata yang berteriak itu adalah Astri. Teman-temanya Ajeng pun langsung menyambut Ajeng. Mereka semua bertanya keadaan Ajeng. Tapi Ajeng hanya menjawab tidak apa-apa. Ajeng tidak mau menceritakan kejadian yang dialaminya. Karena itu terlalu sadis untuk diceritakan. Melihat dengan kepala sendiri tragedi pembunuhan. Ajeng juga tidak mau menceritakan tentang harta yang disembunyikan Belanda Karena ia takut teman-temanya berniat untuk mencari harta. Hari sudah sore, Ajeng berencana untuk mengajak teman-temannya untuk pulang. Karena jika berlama-lama disini Ajeng akan selalu teringat tentang pembunuhan itu. Ajeng mencoba merayu teman-temannya untuk pulang.


“Teman-teman ayo kita pulang, hari sudah sore. Nanti orang tua kita mencari kita”, bujuk Ajeng.


“Iya benar, lebih baik kita pulang sekarang”, tambah Anton.


Astri dan Adi setuju tapi Angga menolak ide itu dengan mentah-mentah.


“Tidak mau! Aku masih betah di sini. Lagian aku belum mau meninggalkan Eliza”, ucap Angga kesal.


“Sudahlah, kalian bisa menginap di rumahku ini. Masih banyak kamar kosong yang tidak digunakan”, tambah Elizabeth.


“terima kasih Eliza, kita sudah benyak merepotkan kamu dan keluargamu. Lebih baik kita pulang dulu, nanti kalau ada lain kesempatan, pasti kita akan berjumpa lagi”, jelas Astri.


Adi menarik tangan Angga yang sedari tadi tidak mau pisah dengan Eliza.


“Benar, kalau lo kangen sama Eliza kita bisa balik lagi kesini besok”, bujuk Adi.


Akhirnya Angga setuju mereka semua kembali ke jalan dimana ia keluar dari lubang hitam itu. Angga sangat murung, sepanjang jalan ia hanya menunduk.


“Lalu bagaimana cara kita pulang?”, tanya Adi.


“Bagaimana kalau kita coba buat portal yang sama seperti pertama kali kita masuk”, jawab Anton.


Adi lansung mencari sebuah batu bata, untuk membentuk formasi. Adi menyuruh Ajeng untuk membuka buku pada bagian yang terdapat pada gambar. Mereka semua berdiri di lingkaran, lalu mengacungkan tangan mereka. Namun, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada reaksi sama sekali. Malam tiba, mereka semua masih berada di jalan itu tanpa adanya kepastian apakah mereka akan pulang atau tidak. Ajeng membuka-buku itu. Ajeng mencoba menerjemahkan isi buku. “Aya tilu syarat mun hayang ngagunakeun kakuatan ti lima cincin nu aya : hiji, kudu niat. Dua, teu boga pikiran jahat. Tilu, kudu ikhlas ninggalkeun sagala urusan”. Mereka semua berpikir, apakah dari ketiga syarat itu ada yang tidak dipenuhi? Tapi entahlah.


“Coba baca lagi syarat ketiga!”, pinta Anton


“Kudu ikhlas ninggalkeun sagala urusan”, baca Ajeng.


“Mungkin diantara kita ada yang enggak ikhlas ninggalin tempat ini!”, seru Anton.


“Tapi siapa? Aku malahan ingin cepat-cepat pulang”, sahut Astri.


“Si Angga! Dia kan gak mau ninggalin Eliza”, tebak Adi.


Angga yang dari tadi dibicarakan oleh teman-temanya malah diam dan selalu memandang ke tanah. Mereka semua pasrah. Hari sudah larut malam, mereka semua tidak ada yang sanggup membujuk Angga. Akhirnya mereka semua malah berkeliling-keliling kota. Kota di malam hari begitu sunyi. Obor-obor, hanya dinyalakan hanya di sudut jalan saja. Saat mereka sedang berjalan, terdengar keributa-keributan. Seperti ada pagelaran musik. Mereka semua berlari menuju sumber suara. Ternya di sana terdapat sebuah panggung. Di atasnya ada tiga orang wanita cantik yang menari-nari. Di belakangnya terdapat beberapa orang pria memainkan alat musik, seperti gamelan, gendang, dan lain-lain.


“Angga!”, panggil Elizabeth, “Kenapa kalian masih ada di sini? Katanya kalian mau pulang.”


“Eliza!”, teriak Angga senang.


“Kami mau pulang, tapi kami tidak bisa membuat portal seperti yang kita lakukan utk kesini”, teriak Astri.


Karena kegaduhan musik yang dimainkan, sehingga dalam berbicara mereka harus berteriak-teriak.


“Kalian mengigau lagi, lebih baik kita lihat saja pertunjujjan ronggeng ini!”, ucap Elizabeth acuh.


“Tapi kita mau tidur dimana?”, tanya Adi.


“Kalian bisa tidur di rumahku, nanti aku akan meminta izin pada Ayah”, saran Elizabeth.


“Terima kasih”, kata Ajeng, “Eh lihat itu kan Ayahmu Eliza!”


“Iya benar, ayahku memang seperti itu. Melihat gadis cantik saja ia langsung tergoda. Apalagi dengan wanita Indonesia!” jelas Eliza.


Anak-anak itu melihat kelakuan tidak senonoh Ayah Eliza pada wanita-wanita penari ronggeng itu. Sebenarnya Eliza tidak suka Ayahnya bersikap mata keranjang. Tapi Ayahnya selalu mengacuhkan kata-kata Eliza.


“Lebih baik kita ke rumah saya saja. Saya juga sudah jijik melihat sikap Ayahku yang genit kepada setiap gadis”, ucap Eliza kesal.



Mereka semua mengikuti saran Eliza yaitu menginap di rumah Eliza. Eliza menyuruh pembantunya untuk menyiapkan kamar untuk teman-temannya itu. Setelah kamar siap, Elizabeth mempersilakan teman-temannya untuk tidur. Dalam keheningan malam, anak-anak pun tidur. Entah apa yang akan terjadi besok. Bagaimana mereka kembali ke waktu mereka. Akhirnya mereka semua terlelap.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP