Loading...
Friday, January 1, 2010

Perasaan yang Tak Sampai

Angga tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya hanya tertuju Elizabeth. Entah sejak kapan ia mempunyai peresaan seperti ini. Padahal waktu awal perjumpaan mereka, Angga hanya kagum dan terpesona melihat kecantikan Eliza. Tapi untuk mencintainya? Apakah pantas seseorang seperti Angga mencintai anak seorang jendral? Angga sangat takut rasa cintanya itu ditentang oleh Ayah Eliza. Angga juga berharap Eliza memiliki perasaan yang sama padanya. Angga kemudian berjalan keluar kamar mencari toilet. Namun ditengah perjalananya, Angga melihat pintu kamar Jendral terbuka. Angga penasaran dan mengintip apa yang terjadi disana.

Di dalam kamar tersebut, Jendral bersama seorang wanita cantik. Sepertinya dia orang Indonesia. Kalau diperhatikan wanita itu mirip sekali dengan penari ronggeng yang menari-nari bersama Jendral tadi malam. Suasana di dalam kamar begitu hening. Cahaya yang ada hanya lampu petromak yang berada di sudut ruangan itu. Perlahan-lahan Jendral menaiki tempat tidurnya. Wanita penari ronggeng itu sudah berada di atas kasur sejak tadi. Sepertinya wanita itu mau melayani nafsu sang Jendral. Mukanya terlihat terpaksa. Tapi dia mau untuk melakukan perbuatan itu. Jendral memegang tubuh wanita itu, sambil memegang-megang bagian vital seorang wanita. Wanita itu menolak, tapi Jendral tetap saja memegang-megang tubuh wanita itu. Jendral memasang wajanh yang kesal. Kemudian Jendral turun dar tempat tidur, menuju ke sebuah meja yang tidak begitu jauh dari tempat tidur. Jendral mebuka laci meja itu dan mengambil setumpuk kertas. Kertas itu adalah uang, uang itu tidak begitu jelas terlihat. Setelah mengambil uang dan menutup laci mejanya, Jendral melambai-lambaikan uang itu. Wanita itu langsung melihat ke arah uang yang di pegang Jendral. Jendral langsung meminta wanita itu untuk menghampirinya. Wanita itu mengambil uang yang ada di tangan Jendral sambil memeluk Jendral. Kemudian wanita itu melepaskan kancing yag mengikatkan pakaian Jendral satu per satu. Jendral pun hanya pasrah. Jendral bertelanjang dada, wanita itu pun mengelus-ngelus dada Jendral. Jendral sudah tak tahan lagi, sepertinya dia ingin menerkam wanita itu hidup-hidup. Ketika wanita itu mulai meraba kearah paha, Jendral langsung melompati wanita itu yang lansung jatuh ke kasur. Wanita itu tertimpa oleh tubuh besar sang Jendral. Kemudian wanita itu menari-nari sambil membuka bajunya. Saat wanita itu tidak mengenakan busana sama sekali Jendral langsung membuka celananya dan menimpanya. Wanita itu terlihat pasrah, tapi Jendral tidak memperdulikannya sama sekali.

"Kau harus menuruti semua perintahku", perintah Jendral.

"Baik, tapi segala sesuatu itu harus ada imbalanya", kata wanita itu sambil menahan kesakitan.

"Tentu saja aku akan memberikan sebagian hartaku padamu", kata Jendral, "Aku mempunyai harta yang berlimpah dan aku menguburnya di suatu tempat di daerah Bandung ini".

"Janji ya kau akan membaginya padaku", pinta wanita itu.

Jendral tidak menjawab. Jendral terus menikmati wanita itu. Angga berpikir, ternyata Jendral menyimpan harta yang terpendam. Angga sangat ingin sekali mencari harta karu itu. Mudah-mudahan setelah ia pulang ke zamannya, ia bisa menjadi sesorang yang menemukan harta peninggalan Belanda. Ketika sedang asyik-asyiknya melihat adegan itu, tiba-tiba seseorang memegang tubuh Angga. Angga tersentak dan kaget. Tapi untung, Angga tidak mengeluarkan suara sedikit pun sehingga tidak menganggu kegiatan orang yang berada di dalam kamar.

"Apa yang kamu lakukan di sini", tanya Eliza.

"Eh... anu... anu", Angga gugup.

"Sudahlah. Saya mengerti", ucap Eliza, "Ayah memang selalu seprti itu, dia tidak sanggup melihat wanita cantik. Setiap dia melihat wanita, pasti dia selalu ingin menidurinya"

"Oh.. begitu. Kenapa kamu bangun ditengah malam begini?", tanya Angga.

"Saya tidak bisa tidur", jawab Eliza.

"Sama, aku juga, bagaimana kalau kita berjalan-jalan?", saran Angga.

"Ayo!", Eliza setuju dengan saran Angga.

Mereka berdua berjalan-jalan di sekitar rumah itu. Mereka menemukan sebuah tempat yang bagus di lantai dua rumah itu. Sebuah balkon yang tepat menghadap bagian utara kota Bandung. Dari atas sana mereka bisa melihat suasana malam yang menyelimuti kota Bandung.

"Eliza", ucap Angga.

"Ada apa?" tanya Eliza.

"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu", kata Angga.

"Apa itu?", tanya Eliza.

"Sepertinya aku memiliki perasaan yang lain, selain pertemanan kita",  jelas Angga.

"Maksudmu?", tanya Eliza.

"Aku... Aku sangat sayang padamu...", kata Angga.

"Jadi, kau mencintaikku?", tanya Eliza.

"Ehm... Iya!", ucap Angga memberanikan diri.

"Sebenarnya, saya juga memiliki perasaan yang sama", ucap Eliza memberanikan diri.

"Benarkah itu Eliza?", tanya Angga.

Eliza hanya mengangguk saat ditanya oleh Angga. Angga pun tidak sanggup membayangkan wajahnya dalam keadaan malu. Angga sangat senang, tapi ia takut melakukan hal yang salah pada Eliza. Tiba-tiba Eliza memegang pundak Angga dengan kedua tangannya. Tubuhnya yang lebih pendek dari Angga mencoba untuk menyamakannya dengan Angga. Mulutnya didorong ke depan, sambil menutup mata Eliza mendekati wajah Angga. Angga tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dia merasa sangat nyaman ketika saat itu. Gejolak cintanya akan dibuktikan disini. Angga pun tak sanggup menahan keinginannya untuk menyentuh Eliza. Perlahan-lahan dia memegang pinggang Eliza. Angga ragu untuk mendekatkan wajahnya, tapi hatinya terus bergejolak. Angga memejamkan matanya. Dan mereka berdua berciuman. Angga dan Eliza merasakan suatu kenikmatan yang amat sangat. Sudah beberapa menit mereka terus menyatukan mulut mereka. Kemudian meeka saling memandang. Kemudian melakukan kegiatan tadi. Mereka saling memandang lagi, dan begitu seterusnya.

Tak terasa fajar telah terbit, ayam-ayam mulai ribut. Anak-anak terbangun dari tidurnya. Mereka semua bangkit dari tempat tidur. Kemudian Eliza dan Angga datang  ke kamar itu sambil berpegangan tangan.

"Kalian dari mana?", tanya Adi.

Mereka berdua tidak menjawab pertanyaan Adi. Mereka semua malah saling berpandangan dan tersenyum. Anak-anak bingung melihat tingkah mereka. Tiba-tiba terdengar suara dari ruang makan.

"Nona Elizabeth, makanan sudah siap. Nona dan teman-teman nona silahkan makan dulu", seru seseorang yag berad di ruang makan.

"Iya!", sahut Eliza, "Teman-teman, ayo kita makan dulu!".

Anak-anak langsung menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia banyak makanan. Kebanyakan dari itu adalah makanan khas Belanda. Mereka semua makan dengan lahap. Kemudian, Eliza turun dari kursinya.

"Teman-teman, saya mau ke toilet dulu ya!", kata Eliza.

"Iya, silakan", ucap anak-anak.

Mereka pun melanjutkan makan. Tiba-tiba muncul seorang wanita dari dalam kamar sambil melambaikan tangannya. Wanita itu terlihat senang, setelah di perhatikan ternyata wanita itu adalah penari ronggeng yang menari tadi malam dan tidur bersama Jendral, wanitu itu hanya menggunakan sehelai kain yang diikat di dadanya dan berjalan menuju pintu utama rumah itu. Angga tertegun melihat wanita itu, karena dia ingat apa yang di lihat tadi malam. Angga pun menceritakan pengalamannya itu pada teman-temannya.

"Waktu tadi malam, aku melihat wanitu itu sedang bermesraan dengan Jendral", kata Angga.

"Benarkah itu? Apa yang dia lakukan?", tanya Adi.

"Dia melakukan hubungan suami istri.", jelas Angga.

"Wah, sayang aku tidak melihat kejadian itu", keluh Adi.

"Huh! Dasar kamu hanya ingin melihat itu saja", sindir Astri.

"Tapi ada satu yang buat aku penasaran", kata Angga.

"Apa itu?", tanya Anton.

"Saat aku mengintip yang dilakukan Jendral, Jendral berkata pada wanitu itu bahwa dia akan memberikan hartanya yang di kbur di suatu tempat di Bandung", kata Anton.

"Lalu?", tanya Astri.

"Di salah satu tempat di Bandung ini, tersimapan harta karun yang disimpan oleh Jendral!", jelas Angga.

"Di mana itu? ayo kita cari harta itu", semangat Adi berkobar.

"Aku tidak tahu, tapi nanti kita akan cari tahu", kata Angga.

"Lalu dengan apa kita mencari harta itu?", tanya Adi lagi.

"Dasar bodoh, kamu lupa kalau kita memiliki cincin ini? Kamu waktu itu melihat kan kalau guru Perguruan Silat yang kita lihat kemarin memberikan cincin yang memiliki kekuatan yang besar?", jelas Angga.

"Iya aku tahu, tapi apa hubungannya dengan kita?", tanya Adi lagi.

"Kamu ini tolol apa bego? Cincin yang guru itu berikan sama seperti cincin yang kita pakai sekarang. Berarti cincin ini juga memiliki kekuatan yang sama dengan cincin yang diberikan guru itu pada murid-muridnya", jelas Angga lagi.

"Jadi kita akan mencari harta itu dengan menggunakan kekuatan cincin ini", tanya Anton.

"Benar", teriak Adi.

Tiba-tiba Elizabeth muncul, dan kembali duduk bersama teman-temannya di meja makan.

"Maaf ya aku lama", kata Eliza.

"Tidak apa-apa kok!", kata Angga.

Tiba-tiba pembantu Eliza datang dan berkata, "Nona Eliza, Jendral memanggilmu dan teman-teman Nona juga di suruh menemui Jendral"

"Ayah memanggilku? Ada apa ya? Sepertinya ada hal yang penting", ucap Eliza penasaran.

"Ayo Nona dan kawan-kawan Nona. Lekas kita menemui Jendral", kata pembantu itu lagi.

Eliza masih penasaran dengan berita yang disampaikan oleh pembantunya itu. Anak-anak pun tak kalah penasaran dengan Eliza. Akhirnya mereka semua bersama-sama menuju singgasana Jendral. Saat Eliza dan teman-temannya sampai di ruangan itu, sang Jendral sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda yang gagah. Sepertinya satu kebangsaan dengannya. Tapi belum juga Eliza bertanya tentang siapa pemuda itu. Ayahnya langsung memperkenalkan pemuda itu pada semua orang yang berada di ruangan itu, "Wahai semua yang mendengar, aku perkenalkan pemuda ini. Ia bernama Johannes van der Board. Dia akan menikahi putriku dalam waktu dekat-dekat ini"

Eliza kaget, hatinya tidak sanggup menerima kenyataan ini. Hubungannya dengan Angga sudah cukup serius. Tangan Eliza lemas. Ia tak sanggup melihat ekspresi wajah Angga setelah mendengar pengumuman yang diberikan Ayahnya. Eliza juga tak sanggup melawan keinginan Ayahnya untuk menikahkannya dengan pemuda itu. Ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Wajah Angga merah padam. Dia mendengar suatu pengumuman yang membuat hatinya benar-benar terluka. Ditambah, tidak ada perlawanan sama sekali dari Eliza. Angga menundukkan wajahnya. Dia bermaksud untuk berbicara pada Jendral setelah dia dapat mendinginkan hatinya. Tapi niatnya gugur ketika Jendral berkata, "Jika ada yang keberatan dengan keinginanku ini, maka bersiap-siaplah untuk menerima tajamya pedangku ini".

Sepanjang hari ini Angga berwajah musam. Ia tidak banyak bicara. Dalam hatinya hanya ada Eliza. Tapi sampai saat ini Eliza belum menampakkan dirinya pada Angga. Mungkin Eliza sedang bersenag-senag dengan pemuda barunya itu. Eliza membuat Angga terbang di atas awan tapi seketika menceburkannya ke dasar laut. Betapa perihnya hati Angga. Tiba-tiba mucul suatu ide untuk melupakan Eliza dalam hatinya. Lebih baik dia fokus pada pencarian harta yang akan dia lakukan. Dia bermaksud untuk membuat Jendral menyesal telah menjodohkan pemuda itu pada Eliza dengan mengambil harta yang dia sembunyikan. Dia menyusun rencana sendiri, supaya besok rencananya akan berjalan dengan lancar.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP