Loading...
Friday, January 1, 2010

Pencarian yang Berujung Maut

Pencarian dimulai. Sesuai peta, tempat yang menjadi awal pencarian adalah rumah Jendral. Angga membolak-balik peta itu. Sepertinya ia tidak mengerti cara menggunakan peta itu. Peta itu berupa kertas yang sudah agak kusam, dan ada beberapa tempat yang menunjukkan tempat menuju harta karun itu disembunyikan, tapi tulisan yang ada di peta tersebut adalah bahasa Belanda, dan diantara mereka tidak ada satupun yang mengerti bahasa Belanda

"Bagaimana ini? Aku tidak mengerti.", ucap Adi dengan nada menyerah.

"Lo ujangan gampang menyerah! Bagaimana Ajeng, kamu ngerti enggak peta ini", tanya Angga.

"Ehm...", gumam Ajeng sambil meliha-lihat peta tersebut, "Aku mengerti!"

"Jadi dimana harta karun itu?", tanya Angga.

"Kita ikuti saja jalur ini, di sini lihat ada Arah mata anginnya. Sekarang kita coba ikuti jalur ini!", kata Anjeng.

"Baiklah, ayo kita ikuti jalan ini", kata Anton.

Mereka semua mengikiuti jalan tersebut. Jalan demi jalan sudah mereka tempuh.  Sungai demi sungai sudah mereka sebrangi. Dan akhirnya mereka menemukan jalan masuk menuju hutan. Hutan itu terlihat seram, sepertinya banyak sekali binatang buas. Awalnya nyali Adi agak menciut karena melihat jalan masuk menuju hutan tersebut begitu gelap dan menyeramkan.

"Sebaiknya kita gagalkan saja niat untuk mencai harta karu.", saran Adi.

"Bodoh! Kita sudah jauh-jauh kesini, dan kamu mau pulang begitu aja?", tanya Astri agak kesal.

"Benar, kita sudah cape-cape kesini", tambah Anton.

"Kalau ada yang mau pulang, pulang sana! Aku tidak peduli", nada Angga agak marah.

Adi terpaksa mengikuti perjalananya lagi. Ajeng yang memberitahu kemana arah-arahnya terus berada di depan.

"Sepertinya perjalanan kita sedikit lagi", ucap Ajeng.

Perasaan Angga mulai was-was, ia takut benar-benar akan menemukan harta karun itu dan membaginya rata dengan teman-temannya. Angga melihat tali sepatu Ajeng yang menjuntai ke bawah. Ajeng harus membetulkan tali sepatunya sebelum ia terjatuh. Angga yang melihat hal itu berencana menyingkirkan Ajeng dengan cara membuat Ajeng terjatuh dan langsung mengambil cincinnya Ajeng. Semua akan mengira kalau Ajeng itu kecelakaan. Angga langsung menginjak tali sepatu Ajeng, Dia berharap kalau Ajeng akan jatuh dan pinsan. Dia pun menginjak tali sepatunya Ajeng. Kaki Ajeng tidak dapa melangkah lagi, badannya mulai berat ke depan, kakinya yang satu lagi tidak mampu menahan berat badan Ajeng. Ajeng pun merasa kalau sebentar lagi tubuhnya akan membentur tanah dan kepalanya juga akan menyentuh batu yang jaraknya dari kaki sama dengan jarak kaki ke kepalanya. Ajeng menutup matanya, dan ... ah! Anton menagkap tubuh Ajeng. Ajeng membuka matanya, tubunhya sudah berada dalam dekapan Anton. Ajeng tersenyum senang karena dia selamt dan ia langsung berterima kasih pada Anton.

"Makasih ya Anton", ucap Ajeng.

"Ya, sama-sama. Makanya kalau mau pergi kamena-mana, ikat dulu tali sepatunya yang kencang", nasihat Anton.

"Baik", jawab Ajeng sambil mengangguk.

Sial! Dalam hati Angga. Rencananya hampir saja berhasil menyingkirkan Ajeng. Tapi Anton malah menyelamatkan Ajeng dan menggagalkan rencananya. Angga berusaha mencari cara lain untuk menyingkirkan Ajeng.

Mereka semua melanjutkan perjalanan. Ajeng duduk di sebuah batu untuk membetulakan sepatunya. Teman-temannya tidak sadar kalau Ajeng sedang duduk, karena Ajeng tidak mengatakan apapun pada temannya. Tali sepatu Ajeng sangat kotor, karena terjuntai di sepanjang perjalanan. Ajeng membersihkan dulu tali sepatunya, kemudian mengikatnya dengan kencang. Saat Ajeng berdiri dan menatap ke depan, ternyata teman-temannya sudah tidak ada lagi. Ajeng mencari mereka sambil meneriakkan nama teman-temannya satu persatu tapi tak ada satupun yang menjawab. Ajeng pun diam dan duduk di tempat itu, ia berharap teman-temannya akan kembali lagi mencarinya.

Angga, Adi, Anton, dan Astri terus melanjutkan perjalanan. Mereka semua tidak sadar kalau salah satu teman mereka tertinggal jauh di belakang. Angga menjauhkan diri dari rombongan. Angga juga menarik tangan Adi untuk diajaknya bersekutu. Angga menceritakan pada Adi kalau cincin yang dia pakai sekarang, kalau lima-limanya dikumpulkan akan membentuk suatu kekuata yang maha dasyat. Adi terpancing dengan cerita Angga. Angga pun mengusulkan untuk menyingkirkan Anton dan Astri supaya harta itu hanya dibagi dua saja. Adi setuju.

Anton merasa ada yang aneh dengan prilaku dua temannya itu. Mengapa mereka berdua menjauhkan diri. Kecurigaan Anton juga tidak didukung oleh Astri, saat Anton menceritakan keanehannya pada Angga dan Adi, Astri malah berkata, "Ah, mungkin itu hal yang biasa. Mereka kan soulmate, kalau di sekolah mereka berdua selalu kompak untuk mengolok-olok orang lain". Kemudian Anton dan Astri berhenti sejenak. Mereka berhenti karena jalan lurus yang mereka lalui sudah habis, di depan mereka adalah jurang. Astri melihat kearah langit. Langit terlihat cerah. Kemudian Astri melihat ke arah jurang. Jurang itu tidak terlihat dalam, karena banyak sekali pepohonan dan rerumputan yang menghalangi dasar jurang. Angga dan Adi mendekati Astri dan Anton. Angga pun melihat ke arah jurang. Angga tahu itu adalah jurang yang sangat dalam, karena dalam peta tergambar kedalaman jurang itu. Angga berencana menyingkirkan Astri terlebih dahulu. Karena dia seorang perempuan yang begitu terkagum-kagum pada keindahan alam, maka Angga akan memanfaat ini untuk menyingkirkan Astri. Angga menendang kaki Astri menuju arah jurang. Astri kaget, tubuhnya condong ke arah jurang. Anton kaget, awalnya di mau menolong Astri tapi dihalangi oleh Adi.

"Astri!", berteriak sambil mau memegang tangan Astri.

"Aaaah!", teriak Astri.

"Jangan Anton, ntar kamu bisa terjatuh juga", cegah Adi.

"Awas!", teriak Anton.

Adi tetap menghalangi Anton yang berniat baik itu. Tapi tiba-tiba tangan Angga memegang erat tangan Astri.

"Tenang Astri aku akan menyelamatkanmu", kata Angga.

"Angga cepat tarik aku", kata Astri.

"Baik akan kucoba", kata Angga.

Angga berpura-pura menarik Astri, padahal dia berencana untuk mengambil cincinnya Astri dengan dalih memegang tangannya Astri.

"Astri, aku tidak kuat lagi memegangmu!", terik Angga.

"Angga tahan dan tari Astri", teriak Anton panik.

Angga berpura-pura kalau dia tidak sanggup menarik Astri, sedikit demi sedikit ia melepaskan Astri sampai menuju telapak tangan Astri. Dari telapak tangan Astri dia memegang jari manis Ajeng, dan ketika ia berhasil memegang cincin, ia akan melepasakan Astri. Sebelum ia melepaskan Astri, Angga sempat tersenyum dan mengatakan, "selamat tinggal Astri".

Astri terkejut dengan ucapan dan senyuman Angga. Astri kaget, ketika tangannya sudah tidak menyentuh tangan Angga.

"Aaaaahhhh....!", teriak Astri.

Suara Astri menggema di seluruh hutan. Beberapa detik kemudia, suara Astri mengecil dan sampai akhirnya suara itu benar-benar menghilang.

Ajeng yang dari kejauhan mendengar teriakan Astri.

"Astri!", teriak Ajeng.

Ada apa dengan Astri? Apa yang terjadi? Kenapa Astri berteriak? Ajeng begitu panik dengan keadaan Astri. Pikiran buruk mengenai Astri timbul. Dia pun memikirkan baiknya Astri padanya. Hanya Astri yang tidak pernah mengejeknya selama dia bersekolah. Ajeng menangis sendirian. Dia begitu khawatir pada Astri. Dia pun berencana untuk mencari Astri sekarang juga. Ajeng pun berdiri dan akan pergi menuju jalan yang sepertinya dilalui oleh teman-temannya. Baru juga Ajeng beberapa langkah. Tiba-tiba cincin yang digunakannya bersinar, Ajeng tidak memperdulikan cicinnya. Tapi ketika Ajeng meneruskan langkahnya, cincinnya menunjukkan reaksi penolakkan dengan cara menggerakkan tangan Ajeng ke arah berlawanan. Dalam hati Ajeng bertanya-tanya, "Ada apa dengan cincin ini? Apakah ada hal buruk yang akan menimpanya jika dia pergi kesana?". Akhirnya Ajeng mengikuti reaksi cincinnya. Ajeng menggugurkan niatnya untuk mencari teman-temannya. Ajeng malah mencari jalan untuk keluar dari hutan ini.

"Maafkan aku Anto", kata Angga, "Aku benar-benar sudah tidak kuat menahan Astri"

"Kau dengar sendiri kan Adi! Angga tidak kuat manahan Astri. Lalu kenapa kau menghalang-halangiku untuk menolong Astri", gerutu Anton.

Adi tidak menjawab, dia hanya menjalankan rencana Angga untuk menyingkirkan Astri.

"Sudahlah, ini semua salahku", kata Angga.

"Tidak! Ini semua salah Adi!", kata Anton.

"Maafakan aku Anton, aku tidak bermaksud, menghalang-halangimu untuk menolong Astri. Tapi aku takut kedua temanku hilang", kata Adi.

"Jadi, menurutmu lebih baik satu orang temanmu yang hilang?", tanya Anton kesal.

"Bukan begitu..." kata Adi.

Belum sempat Adi menyelesaikan kalimatnya Angga langsung memotong perkataannya, "Sudahlah, sekarang lebih baik kita melanjutkan perjalanan".

"Jadi menurutmu harta lebih penting dibanding nyawa temanmu?", tanya Anton geram.

"Kalau kita terus berdiam diri disini, apa gunanya? Apakah akan mengembalikan Astri seperti semula?", tanya Angga.

Anton hanya diam, Angga benar. Berdiam diri disini tidak akan membuat Astri kembali lagi. Anton pun setuju dengan saran Angga.

Perjalanan dilanjutkan. Anton terus saja merenungi nasib temannya. Anton melihat kearah teman-temannya yang tersisa, Adi, Angga, Ajeng. Ajeng? Dimana Ajeng? Anton teringat akan keadaan Ajeng. Terakhit ia melihatnya saat Ajeng akan terjatuh.

"Di mana Ajeng?", tanya Anton sambil berteriak.

"Sudahlah Anton, janganlah terus bersedih", bujuk Adi.

"Tapi, Ajeng kan ada di ....", jawab Angga sambil melihat ke segala arah mencari Ajeng.

"Tidak ada kan?", kata Anton, "Jangan-jangan dia mengalami kecelakaan seperti yang dialami oleh Astri."

Anton kembali merenungi teman-temannya. Ia tetap merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga teman-temannya.

Selagi Anton bersedih, hal ini diambil Angga untuk meyusun rencana selanjutnya.

"Dengar di! Sekarang kita akan buat rekayasa untuk menyingkirkan Anton. Setelah cincinnya kita ambil, kita langsung mencari Ajeng untuk mengambil cincin yang dipakai Ajeng. Kamu mengerti?", tanya Angga.

"Tentu saja!", jawab Adi.

"Sekarang kau cari balok kayu lalu bersiap-siaplah untuk menyingkirkan Anton", kata Angga.

"Baiklah, aku mengerti", kata Adi.

Anton tidak menyadari kalau Adi sedang pergi mencari sesuatu untuk menyingkirkannya. Anton hanya memikirkn nasib kedua sahabatnya. Padahal nasibnya buruk. Adi sudah terlihat bersiap-siap di belakang Anton.

"Anton, aku tahu cara untuk menghadapi ini semua", kata Angga.

"Apa itu?", tanya Anton.

"Lihatlah kebelakang", suruh Angga.

Saat Anton melihat ke belakang. Adi langsung menghempaskan balok kayu yang dipegangnya menuju kepala Anton. Kepala Anton berdenyut-denyut, Anton berusaha menghindar dari Adi. Langkahnya sempoyongan tak mampu lagi menopang tubuhnya. Pandangan Anton pun mulai kacau, ia tidak bisa fokus melihat kedepan. Tapi ia masih bisa melihat bentuk orang yang sudah memukulnya tadi.

"Adi. Apa yang kau lakukan?", tanya Anton.

"Aku hanya menjalankan rencanaku dan Angga", jawab Adi.

"Benarkah itu Angga?", tanya Anton lagi sambil memegang kepalanya.

"Benar sekali. Sekarang apakah boleh aku minta cincin itu?", kata Angga.

"Buat apa?", tanya Anton lagi.

"Kau tidak perlu tahu. Ayo Adi sekarang pukul lagi kepalanya!", perintah Angga.

Adi pun memukul kepala Anton lagi, hingga Anton tak mampu bergerak lagi. Pukulan terakhir yang dilancarkan Adi begitu keras. Sekarang Anton tak dapat berbuat apa-apa lagi. Kepalanya semakin semakit, pandangannya semekin pudar, tubuhnya terasa sangat berat, dan akhirnya ia jatuh.

"Angga, sekarang apa yang harus kita perbuat?", tanya Adi.

"Lebih baik kita gantungkan saja mayatnya di pohon. Pasti kalau ada orang yang menemukannya pasti dikira bunuh diri. Sekarang cepat cari tanaman merambat yang kuat. Lalu ikat di bagian lehernya", seru Angga.

Adi hanya menurut segala perintah Angga. Ia pun menemukan sebuah tanaman merambat yang cukup kuat, lalu ia mengikatkan pada leher Anton, kemudian ia menggantungnya di sebuah pohon yang cukup tinggi.

"Sudah beres", sahut Adi.

Angga tidak menjawab pertanyaan Adi.

"Angga! Kok lo diem aja? Kita kan sudah mendapatkan cincin. Lalu apa yang akan kita lakukan?", tanya Adi.

"Diam!", teriak Angga.

"Lo kenapa sih?", tanya Adi lagi.

Angga kemudian memasukkan peta yang dipegangnya dan mengambil sebuah ranting pohon yang cukup kuat yang ujungnya runcing. Adi kaget.

"Angga, apa yang mau lo lakukan?", tanya Adi.

"Dengar di! Gua ingin menguasai harta itu sendiri. Gua gak mau berbagi sama elo!", ucap Angga.

"Tapi kan lo udah janji mau ngebagi harta itu sama gua!", kata Adi.

"Enggak!", teriak Angga.

Angga pun melangkah mendekati Adi. Adi mulai ketakutan melihat wajah Angga yang kesetanan oleh harta. Adi tidak bisa berbuat banyak. Angga mulai menyerangnya menggunakan ranting pohon itu. Adi hanya bis mundur saja. Pada akhirnya sampailah ia di batas sebuah jurang. Ia tidak bisa pergi kemana-mana lagi.

"Angga sadar! Ini temen lo", teriak Adi.

"Dalam hal ini gua gak kenal sama temen gua!", Angga mengacuhkannya.

Ketika Angga sudah sangat dekat dengan Adi dan mau menusukkan ranting itu. Tiba-tiba cincin Adi bersinar terang, kekuatan yang Adi milikki muncul. Adi menghilang. Tapi itu semua percuma, meskipun Adi menghilang tapi ia tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.

"Meskipun lo menghilang, tapi itu semua percuma. Lo enggak bisa bergerak kemana-mana lagi", kata Angga, "Gua tahu lo ada di sini"

Angga langsung menusukkan ranting itu ke arah depan. Angga seperti tidak menusuk apapun juga, beberapa menit kemudian muncul aliran darah setelah Angga melepas ranting itu.

Kemudian Adi muncul dan berkata, "meskipun lo telah membunuh gua, tapi lo tetap sahabat terbaik gue"

Hembusan nafas Adi terhenti. Angga melihat wajah Adi. Dia teringat hal-hal yang selalu ia kerjakan bersama Adi. Adi adalah sahabatnya dari kelas satu, semenjak ia masuk SMA. Angga dan Adi selalu kompak, tidak pernah mengerjakan tugas, jahil, pernah bolos, mengolok-olok teman dan hal buruk lainnya selalu dikerjakan secara bersama-sama. Perasaan menyesal timbul dalam hati Angga. Kenapa ia harus membunuh sahabanya sendiri demi sebuah harta yang tidak jelas. Angga merenungi nasibnya. Ketika sedang duduk tiba-tiba datang dua orang pasukan Belanda dan menangkap Angga.

"Ada apa ini?", tanya Angga sambil memberontak.

"Kau menurut saja dan jangan memberontak!", kata salah seorang dari mereka.

Prajurit Belanda itu memaksa Angga untuk ikut.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP