Loading...
Friday, January 1, 2010

Mimpi atau Kenyataan?

Ajeng berada di dalam lubang yang gelap tersebut. Ada perbedaanya, saat pertama kali Ajeng masuk ke lubang tersebut ia bersama teman-temannya dan dengan rasa takut yang bercampur dengan rasa penasaran. Namun kali ini, Ajeng hanya sendirian, dan bercampur dengan pikiran tentang teman-temannya yang ia tinggal di zaman itu. Ajeng merasa sangat sedih, teman-temannya tidak kembali bersamanya. Bagaimana keadaan Astri, Anton dan Adi? Dan bagaimanakah dengan jasad Angga. Tiba-tiba cincin itu bersinar terang, saking terangnya Ajeng tidak bisa melihat karena saking terangnya, yang bisa dia lihat adalah warna putih yang intensitasnya sangat besar. Ajeng merasa lelah melihat cahaya yang berlebihan. Kemudian ia menutup matanya dan mulai terasa kantuk. Akhirnya dia tertidur dengan pulas. Tubuh Ajeng terasa hangat seperti ada yang mendekapnya. Ajeng benar-benar merasa tenang.

Treeeeeengg! Jam weker berdering dengan keras. Ibunya Ajeng membangunkan anaknya dengan rasa keibuannya.

"Ajeng ayo bangun! Kamu harus bersiap-siap berangkat sekolah!", kata Ibunya Ajeng.

"Huuuuaaaft! Iya mah", kata Ajeng.

"Mamah pergi dulu ya! Ada kerjaan yang harus mamah kerjakan di kantor. Hari ini kamu tidur sendiri ya! Kakek hari ini pergi ke rumah temannya dan menginap disana", kata Ibunya.

"Iya mah!", kata Ajeng.

Ajeng langsung pergi ke kamar mandi, setelah itu ia berpakaian. Ia juga tidak lupa mengenakan aksesoris berupa gelang-gelang dan kalung-kalung yang banyak. Saat ia memakai gelang ia melihat cincin yang ada pada tangannya. Dia teringat tentang kejadian yang dialaminya selama liburan semester kemarin. Tapi, kejadian yang dialaminya itu terasa benar-benar nyata. Menemukan sebuah buku tua, masuk ke zaman dahulu, berteman dengan gadis Belanda, melihat pembunuhan, tinggal di rumah Jendral Belanda, mencari harta karun, melihat penjatuhan hukuman, dan akhirmya kembali ke zaman sekarang. Sepertinya tidak mungkin kalau semua pengalaman yang dilakukannya bersama teman-temannya itu sebuah mimpi. Dia berlari menuju tempat tidurnya, di atas tempat tidur terdapat empat buah cincin lainnya. Ajeng pun mencari tasnya yang dibawa saat pergi. Saat dibuka, di dalam tasnya hanya berisi sebuah buku tua tersebut dan selembar kertas yang berisi terjemahan huruf kaganga. Sepertinya ini semua bukan mimpi, karena Ajeng kembali setelah liburan semester. Lalu bagaimanakah dengan nasib teman-temannya. Apakah ia akan mengatakan kalau teman-temannya itu menghilang dan entah kemana kepada keluarga dan teman sekelasnya yang lain?

"Ah gawat! Aku belum mengerjakan tugas Sejarah yang diperintahakan Pak Mulya seminggu yang lalu", gumam Ajeng.

Ajeng langsung berlari menuju komputernya, ia pun menyalakan komputernya. Dan mulai mengetik tugas sejarahnya, dia menceritakan tentang keadaan Bandung saat tahun 1900. Setelah selesai ia melihat ke arah jam pada komputer.

"Ternyata masih jam 6. Masih ada waktu 30 menit lagi untuk mengerjakan tugas ini", gumam Ajeng.

Ajeng iseng mengarahkan cursor ke arah jam yang berada di sudut kanan bawah layar komputernya. Ajeng terkejut saat melihat tanggal. Tanggal menunjukkan 2 Maret 2009. Itu kan hari terakhir Ajeng masuk sekolah. Ajeng bingung dan merasa aneh. Ajeng mengacuhkan tanggal itu dan berpendapat bahwa komputernya lagi rusak. Ajeng pun pergi ke sekolah. Seperti biasa, Ajeng berjalan kaki dari rumahnya ke sekolah.

Ajeng duduk di bangku paling pojok kelas. Ajeng melihat sekeliling kelas, tapi Astri, Anton, Adi, Angga belum datang. Treeeng! Bel masuk jam pertama berbunyi. Tapi gurunya tidak masuk, maka kelas begitu ribut. Keributan kelas merupakan hal yang biasa bagi para siswa SMA Nusa Bangsa jika tidak ada guru yang mengajar. Ada yang main kartu, ngobrol, mengerjakan PR, akrobat, macem-macem deh. Ajeng berdiri, suara gemericik gelang-gelang yang dikenakannya berbaur dengan keributan kelas, kemudian ia berjalan keluar kelas, anak-anak tidak ada yang memperdulikannya sama sekali. Ajeng merasa aneh, sepertinya ada yang ganjal. Ia pun meninggalkan kelas meuju toilet. Kemudian Ajeng kembali lagi ke kelas.

Teet...teet...toet... Bel jam pelajaran ke-3 dimulai. Waktunya belajar Sejarah.

"Sikap!, beri salam!" seru Rudi, sang ketua kelas.

Anak-anak pun serentak memberi salam, "Assalamu'aikum Warahmatullahi Wabarakatuh!".

" Wa'alaikumsalam Warahmatullahi wabarakatuh", jawab Pak Mulya. "Hari ini kita akan belajar tentang sejarah kota Bandung. Seperti yang kita ketahui, tanah yang kita pijak dan kita tinggali ini banyak sekali menyimpan banyak sejarah. Salah satunya adalah kejadian Bandung Lautan Api, diman akota Bandung bagian selatan dibumi hanguskan agar para tentara Belanda tidak bisa menguasai kota Bandung. Sekarang coba kalian cari sejarah kota Bandung lainnya!", perintah Pak Mulya.

Ajeng terkejut, dengan perkataan Pak Mulya. Bukankah dia sudah mengatakan ini seminggu yang lalu. Tapi sudahlah.

"Pak dikumpulkannya kapan? Kan sebentar lagi liburan semester" tanya seorang anak yang ada di bangku paling depan.

"Memang, tugas ini untuk mengisi liburan semester kalian" jawab Pak Mulya.

"Pak, tugasnya kelompok atau perorangan?" tanya yang lain.

Kemudian Pak Mulya menjawab, "Tugasnya kelompok, dan kelompoknya akan Bapak tentukan sendiri".

"Ah, Bapak mah ga asyik! Kita nentuin sendiri aja!"komentar siswa lainnya

"Tidak" sanggah Bapak

Ajeng merasa benar-benar ada yang aneh. Pak Mulya sudah memberikan tugas  ini seminggu yang lalu. Kenapa beliau memberikannya lagi.

"Pak, bukannya tugas ini sudah bapak perintahkan seminggu yang lalu", tanya Ajeng memberanikan diri.

"Haaah?! Seingat Bapak, Bapak belum menugaskan tugas ini. Baru saja kemarin Bapak mempunyai ide untuk membuat tugas ini", jawab Pak Mulya.

"Huuuuh! Dasar orang aneh", sahut siswa lain.

"Sudah-sudah kalau begitu Bapak akan  menentukan! Kalau gitu kalian dengar, Bapak akan membagi kelompoknya. Kelompok 1, Dodi, Ani, Boni, Surya, Yuni. Kelompok 2, Bella, Mariana, Indra, Alan, Yudi. Kelompok 3, Ratna, Yuda, Didi, Santi, Rizky. Kelompok 4, Fina, Carla, Deni, Hari. Kelompok 5, Sari, Suci, Nino, Fatum. Siapa yang belum dapet kelompok?" Ada dua orang lagi yang belum memiliki kelompok, dua diantaranya adalah Ajeng. Pak Mulya pun memerintahkan dua orang tadi untuk masuk ke kelompok yang jumlah anggotanya hanya 4 orang", kata Pak Mulya.

Ajeng merasa ada yang kurang, ketika ia mengingat. Seharusnya Adi dan Angga mengatakan kalau mereka tidak mau sekelompok dengan Ajeng. Tapi perkataan itu tidak terdengar sekatang.

"Cukup sekian pelajaran dari Bapak, selamat berlibur dan jangan lupa mengerjakan tugas dari Bapak, Assalamualaikum!" akhir kata Pak Mulya.

"Walaikumsalam" jawab anak-anak. Teet...teet...toet... tak lama kemudian bel pulang sekolah pun berbunyi.

"Tunggu pak!", ucap Ajeng.

"Ada apa Ajeng?", tanya Pak Mulya belum keluar kelas.

"Kenapa Bapak tidak menyebutkan nama Astri, Adi, Angga, dan Anton?", tanya Ajeng.

"Memangnya nama-nama itu berada di kelas ini ya?", tanya Pak Mulya bingung.

"Benar Pak, mereka semua kan belajar di kelas ini!", jawab Ajeng.

"Setahu Bapak tidak ada", ujar Pak Mulya.

"Tapi Pak ...", belum sempat Ajeng melanjutkan kata-katanya salah seorang siswa lain berkata, "Jangan bermimpi Ajeng, kamu sering nonton film horror, jadi pikiranmu jadi sinting".

"Tapi saya benar, buktinya bangku itu kosong...", jelas Ajeng.

"Bangku itu sudah kosong dari dulu, kamu kemana aja? Dasar pikun! Sudah 6 bulan disini tapi tidak ingat-ingat juga! Dasar anak dukun!", komentar siswa yang lain.

"Sudahlah kalian semua! Ajeng itu teman sekelas kalian, maka kalian harus bersikap baik pada Ajeng. Dan Ajeng, sebaiknya kamu beristirahat di rumah, jaga kesehatanmu", saran Pak Mulya.

Ajeng hanya berdiam diri tidak menghiraukan komentar Pak Mulya. Pak Mulya pun keluar dari kelas. Ajeng tetap merasa aneh dengan keadaannya sekarang. Apakah ia sedang sakit? Tapi tidak, Ajeng masih kuat seperti biasa. Keadaan ini berulang lagi. Lalu kemana Astri, Anton, Adi, dan Angga? Apakah ini semua hanya mimpi? Kenapa kejadian hari ini berulang lagi? Pertanyaan Ajeng hanya tersimpan di dalam hatinya. Tidak ada satu jawaban yang menjelaskan, apakah kejadian ini mimpi atau kenyataan?

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP