Loading...
Friday, January 1, 2010

Kekuatan yang Terpendam

Kemudian mereka melompati tembok yang tidak terlalu tinggi itu. Setelah itu mengendap-ngendap di balik ilalang-ilalang yang cukup tinggi. Setelah sampai di bangunan tua itu. Mereka melihat sebuah papan yang terletak di sudut gubuk tua itu. Papan itu bertuliskan “Perguruan Silat Ki Ageng Adeunan”. Ajeng tersentak melihat papan tulisan itu. Ia ingat tentang cerita kakeknya tentang Perguruan Silat itu. Ternyata kagetnya Ajeng juga dirasakan oleh teman-teman yang lainnya.

Astri yang menyadari hal yang sama seperti Ajeng berkata, “Sepertinya aku pernah mendengar nama Ki Ageng Adeunan!”.

“Benar!”, sahut Ajeng singkat.

“Ki Ageng Adeunan?”, tanya Anton, “Oh, seperti yang diceritakan kakekmu ya Ajeng”.

Astri memukul kepala Anton dan berbisik, “Jangan berisik bodoh! Nanti kita ketahuan. Oh ya mana Adi dan Angga?”

Mereka tidak sadar, dikala mereka sedang mengingat-ingat tentang cerita kakeknya Ajeng, ternyata dua anak itu sedang mengintip di balik jendela yang retak bangunan bobrok itu.

“Heh! Apa yang kalian lakukan”, tanya Anton.

“Sst!”, perintah Adi dan Angga, “Lihat saja itu!”.

Mereka yang penasaran dengan keadaan di dalam ikut mengintip bersama-sama.

Ada empat orang yang berada di dalam sana, oh tidak ternyata ada satu orang lagi. Wajahnya penuh dengan keriput-keriput tanda orang itu sudah banyak sekali pengalaman-pengalaman yang telah dia dapatkan. Ketika orang yang paling tua itu datang, empat orang yang sebelumnya sudah berada dalam ruangan itu langsung berbaris, layaknya seorang yang sangat dihormati datang.

Kemudian orang tua itu berkata, “Wahai murid-muridku, aku akui bahwa kalian sudah lama sekali belajar bersamaku di sini untuk mempersiapkan diri dalam melawan kompeni, agar kota Bandung ini dapat kita rebut kembali. Maka dari itu aku akan memberikan sesuatu pada kalian semua”.

“Apa yang akan kau berikan Ki Ageng”, tanya salah seorang murid Ki Ageung yang berada paling kiri barisan.

“Ini adalah sebuah buku yang telah aku ciptakan sendiri, di dalamnya pun berisi lima buah cincin yang memiliki kekuatan di dalamnya, salah satu cincin berada di tanganku, yang berada di tanganku ini berisi empat kekuatan cincin-cincin itu. Salah satu diantara kalian pasti akan ada yang mendapatkan cincin ini”, jelas Ki Ageung, “maka dari itu saya akan memberikan cincin-cincin ini pada kalian. Dan yang harus kalian ingat adalah: Cincin ini harus digunakan untuk membantu warga Bandung yang sedang kesusahan menghadapi jajahan Belanda, cincin ini tidak boleh di gunakan untuk saling membunuh, kecuali mambunuh orang-orang Belanda itu, dan yang harus kalian ingat cincin ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi, mencari harta untuk diri sendiri apa lagi yang aku dengar kalau Belanda telah menguburkan kekayaan yang diambil dari bumi Bandung ini dan menguburnya di suatu tempat”.

“Baiklah guru, kami semua akan menaati semua aturan-aturan yang telah diberikan oleh guru”, ucap seseorang yang berada paling kanan barisan.

“Baiklah, aku percaya pada kalian semua, kalau begitu akan kubagikan cincin ini. Pertama, Warman aku berikan kekuatan berlari kecang padamu. Kedua, Tarya aku berikan kekuatan menghilangkan diri padamu. Ketiga, Yatman aku berikan kekuatan kekebalan tubuh padamu. Dan Karsa aku berikan kekuatan otot padamu” ucap Ki Ageng.

“Terima kasih guru”, ucap semuanya.

“Aku ingatkan sekali lagi, gunakanlah cincin itu sebaik-baiknya. Jangan gunakan cincin itu untuk berbuat kejahatan, apalagi untuk mencari harta. Pergunakanlah untuk membantu rakyat Bandung dalam melawan penjajah. Ingat itu!”, sentak Ki Ageng.

Ki Ageng langsung meninggalkan murid-muridnya itu dan langsung menuju rumahnya, karena Istrinya sudah menyiapkan berbagai makanan yang lezat untuk menyambut suaminya yang telah mengajari pemuda Bandung belajar silat.

Masih di dalam perguruan. Niat jahat merasuki tubuh Yatman. Dia memikirkan terus tentang harta yang dikubur Belanda, seperti yang diceritakan gurunya. Dia pun merencanakan kepada teman-temannya untuk mencari harta itu.

“Bagaimana kalau kita mencari harta yang disimpan Belanda”, ide Yatman.

“Kamu lupa apa kata guru, kita tidak boleh menggunakan kekuatan ini untuk mencari harta!” sanggah Karsa.

“Itu kan tadi, tapi sekarang aku sangat ingin harta itu!”, Yatman semakin menggila.

“Benar kata Yatman, sekarang buat apa kita punya kekuatan itu kalau belum kita coba keampuhannya”, tambah Tarya.

“Meskipun kita berniat mencari harta, tapi kita bisa memberikan setengah bagiannya untuk warga Bandung yang membutuhkan”, sahut Warman.

“Benar! Tapi alangkah baiknya kita membunuh Guru dulu, supaya dalam menjalankan misi kita tidak ada seorang pun yang mengganggu”, Yatman memberikan usul.

“Kamu gila! Beliau itu guru kita masa kamu tega membunuhnya cuma untuk misi sepele ini”, Karsa tidak setuju.

“Kalau kamu tidak setuju, maka kamu yang akan aku bunuh lebih dulu”, ancam Yatman.

Karsa dan yang lainnya tidak menjawab. Mereka semua takut dengan ancaman Yatman, karena hanya Yatman yang tidak dapat dibunuh. Dan yang lainnya bisa dengan mudah dibunuh oleh Yatman.

“Ayo sekarang kita buat rencana dulu untuk membunuh guru”, ucap Yatman.

“Sebentar ya, aku ingin buang air dulu”, kata Karsa sambil keluar ruangan itu.

Ternyata Karsa tidak pergi untuk buang air kecil, tapi dia malah pergi keluar perguruan itu karena dia tidak setuju oleh semua rencana Yatman. Untung saja anak-anak tidak ketahuan, namun mereka sempat melihat Karsa keluar dari rumah itu.

Yatman merencanakan pembunuhan gurunya. Semua murid sudah hapal kapan gurunya akan kembali ke perguruan. Mereka berencana untuk meracuni gurunya serbuk racun yang pernah ia dapatkan dari seorang mariner Belanda. Beberapa saat kemudian Ki Ageng Adeunan kembali ke Perguruan itu.

“Sekarang ayo kita berlatih menggunakan cincin yang telah aku berikan!”, perintah guru.

“Baik guru!”, jawab mereka.

“Mana Karsa?”, tanya guru.

“Tadi dia bilang mau buang air, tapi sampai saat ini belum kembali, mungkin banyak sekali yang dia keluarkan”, jawab Tarya.

“Yatman! Tolong ambilkan Aku minum!”, perintah gur yang sedari tadi kehausan.

“Baik guru!”, jawab Yatman dengan penuh kebahagiaan. Kesempatan emas buat Yatman untuk membunuh gurunya. Dia memasukkan serbuk racun itu ke dalam gelas. Lalu memasukkan air ke dalamnya, tanpa mengaduknya serbuk itu sudah benar-benar larut dalam air. Beberapa menit kemudian Yatman kembali dan memberikan air minum itu pada gurunya.

“Ini guru!”, kata Yatman sambil menyerahkan air itu pada gurunya.

“Aku sudah tidak haus, buat kau saja”, Ki Ageng menolaknya.

“Tapi aku pun tidak haus”, jawab Yatman.

“Pokoknya cepat kau minum!”, perintah Ki Ageng.

Dug dug dug dug dug… Sial! Jangan-jangan si tua bangka ini sudah tahu kalau aku menuangkan racun dalam minumannya ini, dalam hati Yatman. Otak Yatman berpikir keras bagaimana cara meminumnya tanpa dia harus mati. Meskipun ia punya kekuatan kekebalan tubuh, tapi bukan berarti kebal terhadap racun. Ia hanya kebal terhadap benda tajam saja.

“Huuuaaaaaft”, Ki Ageng menguap.

Tanpa pikir panjang lagi Yatman langsung melempar air yang ada di dalam gelas yang dia pegang ke dalam mulut guru.

“Kurang ajar kau Yatman!”, teriak guru.

“Haha… Memang kau pantas mati!”, balas Yatman.

Tak lama kemudian Ki Ageng mengerang kesakitan, seluruh bagian tubuhnya terasa sangat sakit. Darah pun mulai keluar dari dalam mulutnya, disusul dari hidung, telinga dan matanya. Ki Ageng begitu sangat kesakitan. Teriakan-teriakan terus keluar dari mulutnya bersama darah yang masih segar. Dan sampai dia tidak kuat untuk mengeluarkan suara lagi, dia pun wafat dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Darah tergenang di lantai itu. Tarya, dan Warman hanya bengong melihat hal itu. Dan Yatman sangat kegirangan melihat gurunya mati.

“Hahaha… akhirnya kita bisa mencari harta tanpa adanya gangguan dari siapanun”, teriak Yatman sambil melepaskan cincin yang ada pada jari manis gurunya itu.

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang”, tanya Warman.

“Kita akan menemui Jendral Belanda dan mengancamnya supaya memberikan seluruh hartanya pada kita”, jawab Yatman.

“Huacimmm!”, Astri bersin.

“Siapa itu?”, teriak Yatman.

“Sepertinya ada yang melihat perlakuan kita pada guru”, tebak Tarya.

“Bagaimana ini?” tanya Ajeng.

Seketika semuanya menjadi panik. Tapi di tengah kepanikan mereka cincin-cin yang mereka pakai tiba-tiba bersinar terang. Mereka semua serentak berlari. Tiba-tiba Ajeng merasa dirinya sangat cepat berlari dan dia tidak bisa melihat tubuhnya lagi, Astri merasa tangannya begitu kuat dan langsung memanjat pohon teringgi yang ada di dekatnya, Anton merasa kecepatan berlarinya bertambah kencang, Adi merasa dia tidak bisa melihat tubuhnya sendiri, tapi Angga dia tidak bisa merasakan apapun pada dirinya. Angga berlari sekuat yang dia bisa, namun orang-orang itu dengan cepat keluar gubuk dan melihat Angga.

“Weiii… Mau kemana kamu?” teriak salah seoarang.

Angga tidak bisa melihat siapa yang bertanya itu, dia terus fokus ke jalan, namun tiba-tiba sebuah akar pohon yang menonjol keluar menghalangi gerakan kakinya dan dia pun jatuh. Salah seorang diantaranya langsung menghempaskan pedang kearah leher Angga. Angga memejamkan mata, dalam pikirannya dia sudah berada di Surga yang indah, penuh dengan wanita cantik seperti Elizabeth van Houten. Ketika sedang bersenang-senang dimanja oleh para gadis. Tiba-tiba angina kencak berhembus. Saat Angga membuka mata, ternyata dia sudah ada di punggung Anton.

“Kamu enggak apa-apa?”, tanya Anton.

“Enggak, cepat turunin gw”,Suruh Angga.

“Jangan sekarang, tempatnya belum aman, aku harus berlari lebih kencang lagi untuk menjauhi mereka semua”, kata Anton.

Setelah cukup aman Anton berhenti, “Mana teman-teman yang lain?”

“Tidak tahu”, jawab Angga,”itu Eliza!”

Angga langsung melihat gadis Belanda itu. Eliza pun melihat Angga dengan penuh kecemasan. Dia takut terjadi sesuatu pada Angga dan temn-temannya. Diam-diam Eliza menyimpan perasaan pada Angga.

“Kamu tidak apa-apa?, tanya Elizabeth yang berlari dari kejauhan untuk mendekati Angga.

“Tidak kok, kamu tidak usah khawatir”, jawab Angga menenangkan Elizabeth

“Mana teman-teman yang lain?” tanya Elizabeth lagi.

“Kita kehilangan mereka, setelah ketahuan oleh orang-orang itu”, jawab Angga.

“Wooi…”, teriak Astri sambil melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Bukan hanya Astri yang datang, Adi tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Semua terkejut, tapi dimana Ajeng? Sampai saat ini mereka belum melihat Ajeng. Elizabeth menyuruh mereka semua untuk menunggu Ajeng di rumahnya. Nanti Elizabeth akan meminta bawahan ayahnya untuk mencari Ajeng. Semua pun setuju dan kembali ke rumah keluarga Elizabeth.


Cerita Sesungguhnya


Ajeng tidak tahu haru berlari kemana, dalam hatinya hanya ada perasaan takut dan perasaan menyesal telah masuk ke dalam lubang itu. Dia berhenti, dia merasa sudah sangat jauh dia berlari. Dia masih belum bisa melihat tubuhnya sendiri. Dia memejamkan mata dan saat dia membuka mata, tubuhnya dapat terlihat lagi. Ajeng saangat ingin tahu dengan kejadian tadi. Dia agak menyesal, kenapa dia harus lari. Padahal sedikit lagi dia mengetahui cerita sesungguhnya. Akhirnya Ajeng memutuskan untuk kembali lagi ke tempat semula. Dia berusaha bersembunyi agar tidak terlihat oleh orang-orang itu. Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah itu lagi.

“Sekarang apa yang akan kita lakukan?, tanya Warman.

“Lebih baik kita masuk dulu kedalam sambil merencanakan langkah selanjutnya”, saran Yatman.

Yatman mengambil buku yang diberikan guru padanya, dia membuka halaman pertama buku itu. Di awal di jelaskan tentang cara penggunaan cincin itu, sengaja Yatman tidak memberitahu kedua temannya, karena ia akan mengambil cincin temanya dan menguasai harta itu sendirian. Tapi Yatman hanya memberitahikan pada temannya bahwa dengan menggabungkan lima buah cincin maka mereka akan menjadi semakin kuat dan tidak terkalahkan. Yatman berencana menyingkirkan salah satu temannya, agar pekerjaan semakin mudah. Untuk itu Yatman bersekutu dengan Tarya untuk membunuh Warman.

“Kalau begitu aku mau pulang dulu ya”, kata Warman.

“Baiklah, besok aku tunggu di sini”, balas Tarsa.

Setelah Warman keluar dari rumah, Yatman menjalankan aksinya.

“Tarsa kamu setuju tidak kalau harta itu hanya dibagi dua? Hanya aku dan kamu?” bujuk Yatman.

“Tentu saja, semakin sedikit pembaginya maka semakin banyak hasilnya” ungkap Tarya setuju.

“Kalau begitu kita bunuh Warman!”, saran Yatman.

“Baik! Kita bunuh saja sekarang!”, Tarsa sudah tak sabar lagi.

Belum jauh jarak Warman dengan rumah itu, Tarya langsung lari ke arah Warman dan menusukkan golok tepat di punggungnya. Warman langsung jatuh tak sanggup berkata-kata lagi.

“Mati kau!”, teriak Tarya.

“Ayo cepat ambil cincin yang ada pada jarinya itu”, perintah Yatman.

“Baik”, sahut Tarya sambil mengambil tangan Waman.

Namun Tarya kesulitan untuk melepaskan cincin itu.

“Cepat!”, suruh Yatman lagi.

“Susah”, sahut Tarya, “sepertinya cincin ini sudah menyatu dengan tubuhnya”

“Kalau begini pakai cara ini saja”, ide Yatman.

Yatman langsung mengambil golok yang tergeletak di tanah bekas membunuh Warman. Tanpa perasaan Yatman mengacungkan golok itu dan memotong jari Warman. Darah segar mengalir dari potongan tangan Warman. Dan dengan mudah cincin itu terlepas dari jari Warman. Raut wajah Yatman berubah, dari wajahnya tergambar perasaan senang sekali. Ia sangat ingin mendapatkan harta, namun ia tidak mau membaginya pada siapapun. Dia melihat Tarya yang sedang melihat jasad Warman, dalam hati Yatman, dia harus membunuh Tarya dan mengambil cincinnya. Awalnya dia berpikir, dengan satu cincin ia bisa menguasai harta itu sendirian. Namun, Yatman sangat penasaran dengan buku yang diberikan guru, sepertinya ada rahasia lain dibalik cincin ini selain menyimpan kekuatan. Tanpa sepengetahuan Tarya, Yatman kembali ke perguruan dan mengambil buku yang sedari tadi tergeletak di atas meja.Kemudian ia mebuka-buka buku itu, saat dia melihat suatu halaman yang berjudu, “Kautamaan Lima Ali”. Semakin penasaran, Yatman membuka-buka buku dan membacanya. Di dalamnya berisi tentang keutamaan lima cincin. Penggabungan kelima cincin tersebut, akan menimbulkan kekuatan yang amat dasyat. Selain kekuatan untuk bertarung, juga dapat digunakan untuk berpindah tempat dengan radius satu kilometer. Selain itu dapat menembus waktu, sama halnya dengan lorong waktu, dengan menggunakan cincin kita bisa berpindah zaman sesuai yang kita mau. Begitu senagnya Yatman, karena jika dia bisa memiliki kelima cincin itu sendiri, dia bisa menjadi orang nomor satu di dunia. Niat jahat berkobar-kobar dalam hati Yatman. Sama seperti binatang, dia ingin bertarung bahkan membunuh untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Dia pun merencanakan pembunuhan Tarya.

Di balik pohon, Ajeng benar-benar merasakan ketakutan. Ketakutan akan dibunuh jika dia ketahuan mengintip. Ia mencoba membaca buku tua itu, mungkin saja ada petunjuk tentang kekuatan apa yang terkandung dalam cincinnya. Usaha yang Ajeng lakukan tidak sia-sia. Ia menemukan salah satu dari ribuan halaman yang ada di buku tentang kekuatan. Ternyata kekuatan yang dia punyai adalah empat kekuatan dari cincin yang lainnya. Berarti itu sama seperti yang dipakai Ki Ageng Adeunan. Tapi Ajeng belum menggunakan kekuatan itu. Ajeng berpikir, dia akan menggunakan kekuatan itu kalau dia benar-benar dalam keadaan bahaya. Namun, saat ini dia masih bisa bernafas.

Yatman keluar dari pondok Perguruan itu. Dia berjalan perlahan-lahan sambil membawa sebilah golok yang biasa digunakan guru untuk memotong ranting-ranting pohon. Yatman melihat Tarya yang sedang mengambil goloknya yang habis digunakan untuk membunuh Warman dan memasukkannya ke dalam kantung.

“Apakah kita harus memindahkan jasad Warman?”, tanya Tarya.

“Tidak perlu”, jawab Yatman.

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang”, tanya Tarya lagi.

“Tidak ada”, jawab Yatman.

“Apa rencana kita selanjutnya untuk mencari harta yang disembunyikan Belanda:, tanya Tarya.

“Tidak ada”, jawab Yatman lagi.

“Dari tadi kau hanya menjawab tidak, tidak dan tidak. Apakah tidak ada kata-kata lain selain kata tidak yang dapat kau ucapkan?”, tanya Tarya kesal.

Yatman mendekati karsa, sepertinya ia ingin membisikkan sesuatu. Awalnya Tarya tidak memilik perasaan buruk pada Yatman. Namun saat Yatman mendekatinya, perasaan buruk tida-tiba datang. Dia melihat Yatman berusaha membuka goloknya saat tubuhnya benar-benar dekat dengan Yatman.

“Apa yang mau kau lakukan?”, tanya Tarya sambil menghindar.

“Aku tidak mau melakukan apa-apa”, jawab Yatman.

“Jangan bohong, aku sudah curiga padamu! Pasti kau ingin menguasai harta itu sendiri! Benar kan?”, tanya Tarya.

“Ya, apa boleh buat. Kalau kau sudah tahu rencanaku:, jawab Yatman, “kalu bgitu terimalah ini!”.

Yatman langung mengacungkan goloknya dan menghempaskannya pada Tarya. Tarya menghindar. Dia berusaha menguci gerakan Yatman. Namus sulit sekali, karena Yatman mengacungkan golok tidak beraturan, supaya siapaun yang mendekat akan terkena goloknya itu. Tarya berusaha menyerang Yatman. Tapi selalu gagal. Tiba-tiba Yatman menghempaskan goloknya dan berhasil mengenai kaki Tarya. Tarya tak sanggup berlari lagi, kakinya sulit digerakkan.

“Kurang Ajar kau Yatman, kau sudah merencanakan hal ini sejak awal!”, teriak Tarya.

“Benar sekali, aku ingin mengusai harta ini sendiri”, balas Yatman.

Yatman mengacungkan golok lagi dan pada serangan kali ini berhasil mengenai perut Tarya.

“Arrrg! Kurang ajar kau Yatman. Aku tidak akan rela kalau kau menguasai harta itu sendiri”, teriak Tarya.

Yatman tidak membalas ucapan Tarya. Dia berusaha menyerang Tarya lagi, supaya mulutnya tidak banyak mengeluarkan kata-kata yang tidak penting lagi.

“terimalah ini Tarya. Bergembiralah di dalam neraka bersama teman dan gurumu!”, teriak Yatman.

Tarya yang tergeletak di tanah, tidak sanggup berdiri lagi, karena perut dan kakinya terasa kesakitan yang luar biasa. Ujung golok sudah sangat dekat dengan kepala Tarya. Tapi tiba-tiba Tarya menghilang. Ujung golok Yatman sudah tertancap ke dalam tanah. Kemana Tarya? Tanya Yatman dalam hati. Hanya tinggal membunuh Tarya ia bisa mendapakan harta yang berlimpah. Selagi Yatman melepaskan goloknya dari tanah. Punggungya terasa ada yang menepuk menggunaka benda tajam seperti golok.

“Aku tahu itu kau Tarya! Tapi kau tidak bisa membunuhku, karena aku kekuatanku adalah kekebalan tubuh. Hahahaha!”, teriak Yatman.

Sebelum Yatman mengambil goloknya, tiba-tiba jari Yatman seperti ada yang menarik. Tangan yang satunya lagi tidak bisa digerakkan. Saat dia melihat tangannya, ternyata tanganya itu sudah terikat pada sebuah pohon. Cincinya yang dipakai Yatman seperti terlepas sendiri dari jarinya. Dan benar-benar sudah terlepas, tiba-tiba Tarya muncul dihadapan Yatman. Tarya yang mengacungkan goloknya, langsung menancapkannya pada dada Yatman.

“Kurang ajar kau Tarya!” teriak Yatman.

“Kalau kau ingin membunuhku, rencanakanlah baik-baik”, ucap Tarya.

Tarya langsung jatuh setelah menusuk tubuh Yatman. Setelah itu Yatman pun tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Dia pun jatuh.

Keadaan di depan pondok perguruan itu menjadi benar-benar sunyi. Tiba-tiba muncul seseorang yang sambil menangis dan mendekati jasad-jasad itu. Ajeng keluar dari persembunyiannya.

“Pak Karsa!”, teriak Ajeng.

Orang tua itu menoleh ke arah Ajeng. Dan langsung memeluk Ajeng sambil menangis.

“Sudahlah Pak, jangan menangis!”, pinta Ajeng, “Lebih baik kita menguburkan jasad-jasad ini secepatnya”

“Kau benar. Ayo bantu Bapak”, pinta Karsa.

Mereka berdua membereskan jasad-jasad itu. Kakek menghubungi keluarga dari teman-temannya itu. Setelah beberapa lama, kakek kembali bersama anggota keluarga teman-temannya. Kelurga mereka masing-masing membawa jasad keluarganya. Kakek dan Ajeng berdiri di depan pondok.

“Kau tahu dari mana kalau namaku Karsa?”, tanya Karsa.

“Sebenarnya aku dan teman-temanku dari tadi mengintip perguruan ini”, jawab Ajeng.

“Buat apa kau mengintip?” tanya Karsa lagi.

Ajeng menceritakan semuanya pada Bapak Karsa, kalau dia berasal dari masa depan. Dia mendapatkan buku tua yang sama persis dengan buku yang diberikan Kia Ageng. Ajeng dan teman-temannya tanpa sengaja menggunakan cincin yang ada di dalam buku. Tanpa sengaja juga mereka membentuk suatu portal waktu dan masuk ke zaman ini. Pak Karsa adalah kakek buyutnya. Pada awalnya Pak Karsa tidak percaya dengan cerita Ajeng. Namun saat dia melihat cincin yang dipakai Ajeng sama persis dengan cincin gurunya yang tergeletak di tanah, sedikit demi sedikit dia mulai percaya pada cerita Ajeng.

“Ternyata cucu buyutku cantik sekali”, puji Pak Karsa.

“Ah.. kakek bisa saja”, kata Ajeng malu.

“Jangan panggil kakek dong, meskipun aku ini adalah kakek buyutmu, tapi saat ini aku baru berumur 30 tahun. Belum pantas dipanggil kakek. Hahaha”, kata Pak Karsa.

“Iya, maaf. Lalu sekarang apa yang mau Bapak lakukan. Bapak tidak bermaksud untuk mencari harta menggunakan cincin ini?”, tanya Ajeng sambil memungut cincin tersebut dan memberikannya pada Pak Karsa.

“Tentu saja tidak, kekuatan dalam cincin ini sungguh sangat besar. Dan dapat membuat orang gelap mata. Bapak hanya akan menyimpan cincin ini pada tempatnya”, kata Pak Karsa sambil berlari ke dalam pondok untuk mengambil buku itu.

Tak lama kemudian Pak Karsa keluar sambil membawa buku itu. Buku yang dipegang Pak Karsa sama persis dengan buku yang dibawa Ajeng, hanya berbeda tampilan saja. Buku yang dibawa Ajeng sudah berwarna kekuning-kuningan, tapi buku yang dibawa Pak karsa masih lumayan baru. Pak Karsa pun memasukkan cincin itu ke dalam buku. Dan bermaksud membuang buku itu jauh-jauh. Tapi Ajeng buru-buru melarangnya. Karena jika buku itu dibuang, maka Ajeng dan teman-temannya akan menghilang. Karena tanpa ada buku dan cincin itu Ajeng tidak bisa ke tempat ini. Akhirnya, Ajeng dan Pak Tarsa berpisah. Karena Pak Tarsa memiliki sebuah keluarga kecil yang harus dinafkahinya. Ajeng pun tidak bisa lama-lama berada disini karena takut teman-temannya mengkhawatirkannya. Mereka pun berpisah.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP