Loading...
Friday, January 1, 2010

Hukuman Berat

Angga kebingungan, mengapa dia dibawa oleh pasukan Belanda. Tapi dia menurut saja. Ternyata ia dibawa ke rumah Jendral. Awalnya dia berpikir kalau Jendral telah merestuinya dengan Elizabeth, karena Eliza berdiri di sudut lapangan sambil melihat Angga. Tapi dugaannya salah total. Dia malah dibawa ke tengah halaman rumah Jendral.

"Lihatlah semua! Ini adalah orang yang berani mencuri peta harta karunku!", kata Jendral.

Serentak orang-orang yang datang melihatnya berpikir negatif pada Angga.

"Tapi apa buktinya kalau aku yang mencurinya?", tanya Angga.

"Kau menyuruhku memperlihatkan bukti? Dengar! Di sini aku yang berkuasa! Jika aku mengatakan kau mencurinya, jadi kau adlah pencurinya!", kata Jendral.

"Tapi bukan aku pencurinya", Angga mencoba mengelak.

"Sudah jelas kau pencurinya! Lihat Elizabeth! Lihat temanmu yang kau kenalkan pada ayah! Dia seorang pencuri!", kata Jendral.

"Benarkah itu Ayah?", tanya Eliza.

"Itu benar, salah seorang pengawalkau melaporkan bahwa dia melihat Angga sedang mengintip di ruang pengawal, lalu memasukkan sesuatu pada kopi pengawal yang aku percayai untuk menyimpan peta harta karunku", jelas Jendral.

"Tapi apakah benar yang di ucapkan pengawal Ayah itu", tanya Eliza.

"Itu sudah pasti benar, karena bukan hanya dia yang melihat kejadian itu, tapi pengawal yang lainnya juga melihat", kata Jendral.

"Mungkin saja pengawal itu keliru", kata Eliza.

"Kalau begitu, coba buka isi tasnya itu, mungkin saja ada bukti lain", kata Jendral.

Salah seorang pengawalnya mendekati Angga dan mengaduk-aduk isi tasnya Angga. Kemudian, pengawal itu berhenti sejenak, dan sepertinya akan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tersebut. Perlahan-lahan tangan pengawal keluar, dan mengangkat sesuatu. Ternyata itu adalah peta harta karun Jendral. Pengawal berlari menuju Jendral dan memberikan peta tersebut kepada Jendral.

"Lihat! Ini buktinya! Kau masih mau mengelak?", tanya Jendral.

Angga hanya diam. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua kejahatannya sudah terbongkar, tak ada lagi pembelaan. Elizabeth yang ada di sudut lapangan hanya melihat sedih Angga. Kemudian datang Johannes dan berdiri di samping Eliza. Mereka berdua berpegangan tangan. Itu membuat hati Angga kesal.

"Pengawal! Hukum anak itu! Potong tangannya! Seorang pencuri wajib dipotong tangannya!", perintah Jendral.

"Baik!", kata pengawal.

"Haha... meskipun kau mencoba membunuhku, tapi aku mempunyai kekuatan untuk kebal terhadap apapun!", teriak Angga sambil tertawa.

"Jangan mengarang kau! Ayo pengawal cepat potong tangannya", perintah Jendral.

Pengawal langsung menghampiri Angga sambil membawa sebuah pedang yang sering digunakan untuk menghukum orang Indonesia yang tidak mau mematuhi perintah Jendral. Pengawal tersebut mengangkat pendangnya, lalu mengarahkannya pada pergelangan tangan Angga. Seeeeeet! Pedang dihempaskan. Bagian tajam pedang menyentuh kulit Angga. Angga tak merasa apapun, tapi pedang terus menembus kulit Angga dan memotong tangan Angga. Sampai tangan Angga terlepas dan terbang ke arah luar rumah Jendral.

"Aaaaaaarrrg !", teriak Angga.

Angga menahan kesakitan yang begitu amat sangat terasa sakitnya.

"Rasakan akibatnya kalau kau berani padaku", teriak Jendral puas.

"Dasar Jendral keparat! Seenaknya saja kau memotong pergelangan tenganku! Awas kau, pasti akan kubalas perbuatanmu", kata Angga sambil meringis.

"Balasan? Apa yang mau kau lakukan? Kau hanya punya satu tangan, tapi kau masih saja berani padaku", kata Jendral.

"Tentu saja aku berani! Siapa yang takut pada Jendral biadab sepertimu", kata Angga.

"Kurang ajar kau! Pengawal ayo cepat penggal kepalanya! Biar dia bisa tenang di neraka sana! Ayo cepat!", perintah Jendral.

Ajeng berhasil keluar dari hutan setelah mengikuti reaksi cincinnya. Ajeng pun terus mengikuti kemana cincin itu mengarahkannya. Dia melewati sebuah rumah yang amat besar. Sepertinya Ajeng mengetahui rumah itu. Tapi didalamnya banyak sekali orang. Ajeng bertanya-tanya. Ada apa ini? Apa yang mereka lakukan? Ajeng mengintip di balik pagar. Ternyata dari sisi tersebut Ajeng belum dapat melihatnya. Ajeng pun berjalan lagi mencari sisi yang cocok. Ketika dia berjalan, dia merasa menginjak sesuatu. Ajeng penasaran dan melihat kebawah. Ketika melihat ke bawah, ternyata itu sebuah tangan! Ajeng terkejut dan merasa ketakutan. Mengapa tiba-tiba ada sebuah telapak tangan yang masih berlumuran darah berada di pinggir jalan. Setelah di lihat dengan seksama, ternyata jari-jari pada telapak tangan tersebut terdapat empat buah cincin. Ketika, Ajeng mendekati telapak tangan tersebut, cincin yang ada di jari tersebut mengeluarkan cahaya. Cincin yang dipakai Ajeng pun mengeluarkan cahaya yang sama seperti empat cincin yang ada pada jari. Ajeng pun melepaskan cincin dan menyimpannya di dalam tasnya. Kemudian Ajeng berlari dan mengintip keadaan di rumah Jendral lagi. Ajeng pun melihat temannya Angga sedang duduk di tengah halaman rumah Jendral. Pedang yang di pegang salah seorang pengawalnya sudah bersiap-siap memutuskan leher Angga.

"Pengawal! Cepat! Penggal dia!", perintah Jendral

Pengawal pun langsung menghempaskan pedang yang dipegangnya tersebut. Pedang itu menuju leher Angga. Byuuur! Darah menyembur kencang dari leher Angga seperti aemburan lumpur panas Lapindo. Kepala Angga jatih dan berguling-guling ke arah Ajeng, dan akhirnya kepala itu berhenti dan menghadap wajah Ajeng. Semua orang melihat arah kepala itu bergerak. Ajeng terkejut, salah seoarang temannya mati karena dipenggal oleh Jendral. Dalam hati Ajeng bertanya-tanya, kesalahan besar apa yang diperbuat Angga, hingga dia dihukum berat seperti ini. Tiba-tiba dari arah halaman rumah Jendral ada yang berteriak, "Jendral! Itu temannya nona Elizabeth dan juga temannya pencuri ini"

"Ayo cepat tangkap!", teriak Jendral.

Ajeng menyadari bahwa dia sekarang menjadi sasaran sang Jendral. Ia langsung berlari sekuat tenaga. Tiba-tiba cincin yang dipakai Ajeng menunjukkan reaksi kembali. Cincin itu menunjukkan jalan untuk Ajeng. Kemudian cincin itu berhenti bersinar dan reaksinya pun berhenti. Ajeng terpogoh-pogoh karena lelah berlari. Setelah sadar ternyata dia berada di sebuah jalan dimana ia bersama teman-temannya pernah berencana pulang dan sudah membuat formasi tapi gagal. Kemudian Ajeng membuka tasnya dan mengambil cincin yang lainnya. Ajeng meletakkan cincin itu di setiap lingkaran formasi kemudian dia berdiri di lingkaran terakhir. Cincin-cincin itu dan cincin yang dipakai Ajeng mulai bersinar. Tiba-tiba muncul sebuah lubang hitam di tengah formasi tersebut. Tanpa berpikir panjang Ajeng langsung masuk ke dalam lubang itu. Prajurit Jendral berhasil menemukan Ajeng, tapi untung  saat prajurit itu melihat Ajeng masuk ke dalam sebuah lubang, lubang itu langsung tertutup dan Prajurit itu gagal menagkap Ajeng.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP