Loading...
Friday, January 1, 2010

Cincin Aneh

Matahari jam sepuluh pagi, sudah mulai terasa panas tersorot pada kulit Anton yang baru tiba di depan rumah Ajeng. Anton bermaksud menunggu teman yang lain, karena dia tidak begitu akrab dengan Ajeng. Tidak berapa lama kemudian Astri datang. Astri pun sama, dia lebih baik menunggu Adi dan Angga daripada harus Cuma berdua masuk ke rumah Ajeng. Karena dalam benak mereka orang tua Ajeng tuh dukun. Dari rumahnya juga sudah jelas, rumput-rumput liar menghiasi halaman rumah yang sangat besar, tanaman menjalar pun menutupi dinding rumah itu. Tak lama kemudian Adi dan Angga datang.

“Akhirnya kalian datang juga, ayo kita masuk bersama-sama” kata Astri.

Ting tong, Angga menekan tombol yang terletak di balik pagar. Ting tong… untuk yang kedua kalinya, Ajeng keluar dari rumahnya dan mempersilakan masuk teman-temannya.

“Wah… besar sekali rumahnya!” kata Adi sambil melihat-lihat rumah Ajeng yang begitu besar.

Tapi selain besar, rumah Ajeng pun banyak benda-benda kuno peninggalan buyutnya pada saat zaman penjajahan dahulu.

“Ayo kita langsung saja ke perpustakaan” kata Ajeng.

Adi yang sebelumnya membayangkan kalau dia seorang raja yang tinggal di dalam sebuah rumah yang besar alias istana dan sangat berkuasa, langsung buyar saat Angga mengajaknya pergi.

“Adi ayo kita pergi, Di, Di!” panggil Angga. “Eh iya, iya.” Sahut Adi.

Ajeng pun menunjukkan jalan menuju ke perpustakaanya, di sepanjang lorong-lorong rumahnya, Adi dan Angga malah melihat-lihat dan memegang-megang benda-benda yang terpajang di meja dan dinding. Ajeng langsung membuka pintu perpustakaan saat di buka, banyak sekali lemari buku yang berdiri tegap di tengah-tengah ruangan itu. Semua anak takjub melihat ruangan yang besar bahkan dua kali luas kelas mereka.

“Wah, banyak sekali bukunya” kata Astri.

“Pantas saja kau pintar, kamu rajin membaca ya!” tambah Anton.

“Enggak juga” jawab Ajengya.

Astri pun berkata, “Kalau gitu kita mulai dari mana ya? Oh bagaimana kita nentuin dulu sejarah yang akan kita cari”.

“Sebentar ya aku mau ngambil minuman sama cemilan” kata Ajeng sambil berjalan mendekati pintu perpustakaan.

“Oh iya boleh-boleh” kata Adi yang dari tadi ingin minum.

“Ssst! Kalian jaga sikap dong! Ini kan rumah orang. Sudahlah Ajeng ga usah repot-repot” kata Astri.

Tidak ada jawaban, karena Ajeng sudah keluar dari perpustakaan sejak tadi.

“Eh lihat, ada buku tentang robot, keren!” terdengar suara Angga yang sangat keras.

“Mana?” tanya Anton.

“Eh kalian tahu kan tujuan kita datang ke rumah Ajeng?” tanya Astri kesal.

Mereka bertiga hanya terdiam dan meneruskan mencari-cari buku. Tak lama kemudian Ajeng datang dengan membawa empat gelas jus jeruk dan dua kotak berisi coklat dan snack. Selagi mereka bertiga mencari-cari buku, Astri membantu Ajeng menata meja agar rapi.

Tiba-tiba Adi berteriak, “Wah! Buku apa ini? Mungkin ini buku sejarah”. Anak-anak langsung berkumpul di meja dan melihat buku itu.

“Buku apa ini? Mungkin buku bahasa China!” celetuk Angga.

“Bukan bodoh! Itu bukan tulisan China!” sanggah Astri.

“Lalu tulisan apa ini?” tanya Anton.

“Kaganga” jawab Ajeng singkat.

“Apa itu Kaganga?” tanya Angga penasaran.

“Kaganga adalah tulisan aksara Sunda, sebelum mengenal huruf alfabet, orang zaman dulu menggunakan huruf kaganga untuk menulis. Sama seperti huruf hiragana, satu lambang memuat satu suku kata bukan satu huruf.” jelas Ajeng.

“Kamu tahu isi buku ini apa?” tanya Astri.

“Tidak tahu” jawab Ajeng.

Karena kesal Ajeng selalu menjawab dengan singkat dan seperlunya Adi pun bertanya dengan nada agak marah, “Masa kamu gak tahu! Kan kamu yang punya buku ini!”.

“Bukan, itu punya kakekku, dan kata kakek aku tidak boleh membukanya.” Jelas Ajeng.

“Bagaimana kalau kita coba terjemahkan, kan sudah terlanjur kebuka” bujuk Adi.

“Ya benar kata Adi, gimana kalau kita mulai dari bagian ini aja” tambah Anton.

“Baiklah, kalau begitu aku mau mengambil dulu buku tentang huruf kaganga, supaya kita bisa menterjemahkannya:” kata Ajeng.

Ajeng pun pergi menuju kamarnya, tak lama kemudian di datang membawa selembar kertas yang sudah dia rangkum sebelumnya berisi huruf-huruf kaganga.

“Sempat-sempatnya kamu merangkum buku padahal kan baru sekarang kita memerlukannya.” puji Astri.

“Enggak kok, aku sudah lama merangkum ini karena aku juga sangat ingin membaca buku punya kakek, namun enggak ada kesempatan untuk membacanya, karena kakek selalu menemaniku kalau aku sedang berada dalam perpustakaan ini” cerita Ajeng.

“Lo…ro…ng…wa...k…tu…” gumam Anton. “Hah lorong waktu? Apa maksudnya?” tanya Adi. “Mungkin disitu tertulis bagaimana cara membuat suatu lorong waku.” Jawab Astri.

“Ya mungkin juga, lebih baik kita coba” sambung Angga.

Ajeng yang sejak tadi mulai khawatir, karena ia takut dimarahi oleh kakeknya. Gara-gara membuka buku peninggalan buyutnya. Adi langsung membuka halaman selanjutnya. Di halaman selanjutnya tidak ada kertas yang berisikan huruf-huruf kaganga lagi, melainkan sebuah kotak yang dapat dibuka. Ketika dibuka, semuanya terkejut, karena melihat lima buah cincin.

“Cincin apaan ini?” tanya Adi.

“Coba aku liat satu”rebut Angga.

Astri dan Anton pun tidak mau kalah mengambil sisa cincin yang ada di dalam buku. Astri langsung memberikan cincin yang tersisa kepada Ajeng, “ini!”.

“Terima kasih” balas Ajeng.

Tanpa sadar mereka semua memakai cincin itu bersamaan. Tingtong…Tingtong…

“Itu pasti kakek!”, kata Ajeng.

“Lalu bagaimana ini!” sambung Astri yang sudah mulai panik.

“Tenang! Kita lepas dulu saja semua cincin, lalu kita simpan lagi pada tempatnya” Ucap Anton menenangkan semuanya.

Pada saat mereka mencoba melepas, di pergelangan jari mereka terasa ada yang mencengkram. Apalagi Adi, dia berusaha dengan keras melepas cincin itu, tapi malah cengkraman pada jari manisnya semakin kuat sampai dia merasa kesakitan. Tingtong..Tingtong… suara bel kembali berbunyi. Orang yang menunggu di luar sudah tidak sabar untuk masuk.

“Tunggu sebentar!” teriak Ajeng. Ajeng langsuk bergegas meninggalkan teman-temannya dan membuka pintu.

“Ajeng dari mana? Kakek dari tadi nunggu, kok enggak dibukain pintu” tanya si Kakek.

“Anu kek, tadi… lagi belajar bareng temen di perpustakaan, jadi enggak begitu kedengeran.” Jawab Ajeng.

“Oh ya sudah, ayo kita masuk” ajak si Kakek.

Si Kakek dan Ajeng pun masuk ke dalam rumah dan menuju ke perpustakaan.

“Oh ini teman-temanya Ajeng, tumben ada temannya Ajeng dateng ke rumah, biasanya Ajeng ditinggal sendirian kalau Kakek pergi, sebab orang tuanya Ajeng jarang sekali pulang ke rumah” kata Kakek.

“Oh, gitu yah. Oh ya perkenalkan kek, namaku Astri, yang ini Anton, yang ini Adi, dan yang ini Angga” kata Astri sambil menenagkan diri.

Kakek begitu senangnya cucunya sudah punya teman, sebab dari cerita guru-guru kepada kakek, kalau Ajeng itu tidak punya teman satupun, katanya gara-gara penampila dan sikapnya yang sulit ditebak. Tapi karena prestasi Ajeng yang cemerlang, membuat kakek tidak begitu khawatir, karena memang tugas siswa di sekolah adalah belajar.

“Kalian enggak bingung kenapa Ajeng sering bernampilan seperti ini?” tanya si Kakek mencairkan suasana.

“Eh… awalnya kita agak aneh, tapi sekarang udah biasa, memang sebenarnya kenapa kek?” tanya Anton.

“Enggak ada apa-apa kok Cuma, karena semua ini adalah benda peninggalan istri kakek, jadi kakek ingin memakaikannya pada seseoarang, karena anak kakek itu laki-laki, jadi kakek nyoba ke cucu perempuan kakek satu-satunya”. Jawab kakek.

Tiba-tiba kakek melihat buku yang tergeletak dan berada di balik rak buk paling sudut.

Kakek langsung bertanya, “Buku apa itu?”.

“Oh, itu buku biasa kok, tadi kayanya aku naronya gak bener” jawab Angga.

Kakek yang gerak-geriknya mulai aneh sambil melotot dia berkata, “cepat bawa sini!”.

“Baik kek!” Angga menurut apa perintah kakek.

Ketika Angga mendekatkan buku tersebut pada Kakek, mata Kakek tambah terbelalak, seperti mau keluar, kemudian kakek berkata sambil berteriak, “kalian telah membuka-buka buku itu tanpa sepengahuan Kakek, Kakek telah diberi amanat olah Buyutnya Ajeng untuk tidak pernah membuka buku itu, karena barang siapa yang membuka pasti akan mati”.

“Tapi Kek, ini kan Cuma buku biasa, aku minta maaf kek, karena aku lupa bilang pada teman-teman untuk tidak membuka buku ini, terus apa yang harus aku lakukan kek?” tanya Ajeng sambil gugup.

“Kakek tidak tahu, karena Kakek tidak pernah membaca sedikitpun buku itu, tapi yang kakek tahu itu adalah buku peninggalan guru buyut kamu Ajeng yang bernama Karsa, pada saat dia belajar di suatu Perguruan Silat Ki Ageng Adeunan”. Jawab Kakek. Kakek punlangsung meninggalkan cucunya dan teman-temannya, karena kakek takut, gara-gara telah melanggar amanat yang diberikan oleh Kakeknya. Apalagi Kakeknya Kakek pernah berpesan, “Janganlah membuka buku ini apalagi pada dua generasi setelah kamu, karena akan mengakibatkan kematian, dan jangan pula memusnahkan buku ini karena kekuatan dasyat yang tersimpan dalam buku ini akan melenyapkan kamu tanpa ada sisa sedikitpun!”

“Kenapa kakekmu malah pergi?”tanya Adi.

“Sepertinya ada yang disembunyikan” tambah Anton dengan penuh rasa curiga.

“Tidak tahu” jawab Ajeng singkat.

“Lebih baik kita pelajari dahulu baik-baik buku ini, mungkin apa yang telah dikatakn kakek semua bohong, karena kakek sendiri belum pernah membuka buku itu” saran Astri.

Semua pun setuju atas usul Astri. Ajeng yang sedari ketakutan karena cerita kakeknya, lama-lama rasa takut itu mulai hilang dan Ajeng pun mencoba untuk membantu teman-teman yang lain untuk menterjemahkan isi buku itu. Belum sempat menterjemahkan buku itu.

Adi langsung berteriak “Mungkin ini caranya”.

“Apa?” tanya Angga. “Formasi ini”, balasnya, “lihat!”.

Adi langsung mencari-cari sesuatu, dan ia menemukan spidol, lalu ia menggambarkan bentuk yang aneh di lantai seperti yang tertera pada gambar di buku.

“Kamu ngapain?”, kata Angga.

Adi tidak menjawab pertanyaan Angga. Ia malah terus menggambar suatu bentuk yang aneh di lantai perpustakaan Ajeng. Ajeng cuma diam saja tidak berkata apapun.

“Anton, Ajeng coba terjemahkan bagian ini!”, perintah Adi.

Anton dan Ajeng langsung menurut perintah Adi. “nga…de…k…di…na…bu…le…dd…an”, kata Anton.

“Guna indit ka ka waktu sejen” sambung Ajeng.

“Berarti artinya berdiri di lingkaran untuk pergi ke waktu lainnya!” kata Astri.

“Oh mungkin kita bisa menghentikan waktu!”, kata Adi.

“Kita coba dulu saja!”, kata Angga.

Mereka pun berdiri sesuai perintah buku. Ajeng pun patuh pada perintah teman-temannya, padahal dalam hatinya, terbesit ketakutan-ketakutan seperti apa yang dibicarakan oleh kakeknya. Tanpa sengaja mereka berlima mengacungkan tangan mereka dan cincin yang mereka pakai dan formasi yang Adi bentuk bersinar tersang dan membentuk sebuah lubang berwarna hitam di bagian tengahnya. Lubang hitam itu sepertinya berupa ruangan gelap tanpa ada batas dan kita semua bisa masuk kedalamnya.

“Haah!? Lubang apa ini?, tanya Astri.

“Angga coba kamu masuk duluan!” perintah Adi.

“Kenapa gua! Kan elo yang ingin tahu tentang buku ini!”, tolak Angga.

Ajeng dan lainnya hanya diam saja bingung sekaligus takut pada lubah tepat di bawah kaki mereka. Adi pun langsung mendorong tubuh Angga yang tinggi hingga jatuh kedalam lubang tersebut.

“aaaah… awas lo Adi gua balas lo entar!” teriak Angga.

Semua pun terbelalak melihat lubang hitam itu sudah menelan temannya. Beberapa detik kemudian, teriakan Angga sudah tidak terdengar lagi. Seketika ruang perpustakaan itu menjadi hening.


...bersambung

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP