Loading...
Friday, January 1, 2010

Balas Dendam

Hati Angga benar-benar kesal. Beberapa kali ia melupakan Eliza, tapi sosok gadis Belanda itu sudah terpatri dalam hatinya. Entah mengapa perasaannya terhadap Eliza begitu dalam. Padahal baru beberapa hari yang lalu perjumpaan dengan Eliza. Setiap kali ia memikirkan Eliza, ia selalu bertanya dalam hati, Apakah Eliza itu benar-benar mencintainya? Tapi kenapa tak ada pengorbanan yang dilakukan Eliza saat menerima keputusan ayahnya itu. Angga mencoba berbicara pada Jendral, karena ia benar-benar mencintai Eliza. Semoga saja usaha yang dilakukannya itu berhasil. Dia memberanikan diri untuk menemui Jendral. Ia melihat Jendral sedang duduk santai, itu adalah kesempatan yang baik.

"Selamat siang Jendral", ucap Angga memberikan salam.

"Ada apa?", tanya sang Jendral tanpa menatap wajah Angga.

"Sebenarnya....", Angga ragu, "Aku tidak setuju Jendral menjodohkan Eliza dengan pria lain"

"Apa hakmu?", tanya Jendral agak marah.

"Karena saya mencintai Eliza!", jawab Angga.

Tak disangka, ada seseorang yang berada di balik pintu yang menguping pembicaraan Sang Jendral dengan Angga. Ternyata yang ada di balik pintu itu adalah Elizabeth. Elizabeth mendengar kesungguhan Angga. Air matanya mulai keluar dan membasahi pipinya yang putih.

"Kau mencintainya?", tanya Jendral.

"Benar!", jawab Angga.

"Masa bodoh! Aku akan tetap menikahkan Eliza dengan Johannes!", kata Jendral.

"Tapi Jendral....", sanggah Angga.

"Persetan dengan rasa cintamu pada anakku! Kamu tahu, Johannes itu adalah kalangan yang sederajat. Lihat dirimu sendiri! Asalmu dari mana, siapa orang tuamu, dan kehidupan bagimana, aku tidak tahu. Kalian itu hanya sekedar anak-anak jalanan yang tidak sengaja bertemu dengan anakku. Anakku itu sangat baik, sehingga dia meminta aku untuk mempung gelandangan seperti kalian ini!", Jendral mulai agak kesal dengan Angga, "kalau kau tidak setuju denganku, tinggalkan rumah ini atau kau akan kubunuh!"

"Maafkan aku Jendral, aku tidak bermaksud menentangmu. Maafkan aku sekali lagi", Angga meminta maaf sambil merasa kesal dengan ucapan sang Jendral.

"Permisi Jendral", ucap Angga.

Angga meninggalkan Jendral dengan perasaan kesal. Hatinya begitu terbakar katika mengingat perkataan Jendral. Mukanya merah padam tak sanggup menahan amarhnya. Dalam hati Angga berkata, "Sial! Jendral itu malah menghina-hinaku. Kurang ajar. Enak saja dia mengejek-ejek orang pribumi padahal dia menginjak tanah pribumi ini" Angga pun teringat dengan perkataan Jendral kepada seorang wanita Nyi Ronggeng waktu di kamar. Jendral mengatakan akan memberikan harta yang di pendam di suatu daerah yang ada di Bandung ini. Tiba-tiba Jendral memanggil salah seorang prajuritnya. Angga yang mendengar suara Jendral mendengar semua pembicarran Jendral.

"Prajurit!", panggil Jendral.

"Ada apa Jendral?", tanya salah seorang prajurit yang baru datang dengan terpogoh-pogoh.

"Dengar, aku akan memberikan sesuatu amanat padamu. Dan kau harus menjaga rahasia ini baik-baik. Kalau kau membocorkannya kau akan mati!", ancam

"Baik Jendral. Saya akan berusaha melaksanakan semua amanat Tuan", kata Prajurit.

"Aku berika peta ini padamu. Peta ini berisi jalan menuju harta karun yang aku kubur setahun yang lalu. Coba kau cari harta ini dan bawa padaku. Jika kau berhasil membawanya, aku akan memberikan seperempat harta ini padamu", jelas Jendral.

"Baiklah Jendral! Tapi kapan aku mulai membawa harta tersebut pada Jendral?", tanya Prajurut.

"Terserah kau. Semakin cepat semakin baik", ucap Jendral.

"Baik Jendral, saya akan melaksanakan tugas ini secepat yang saya bisa. Permisi!", ucap Prajurit sambil meninggalkan Jendral.

Angga yang sejak tadi menguping pembicaraan Jendral langsung mempunyai ide untuk mengambil peta harta karun yang dipegang prajurit itu. Angga benar-benar ingin harta itu, sekaligus membalas dendam pada Jendral yang sudah memutuskan cintanya pada Eliza dan juga telah menghina-hinanya. Angga merencanakan pengambilan harta dengan sebaik-baiknya. Ia juga akan memanfaatkan kekuatan yang dia punya untuk mencari harta. Angga juga ingat, kalau kekuatan yang dia punya itu belum sempurna. Ia harus menggunakan empat cincin yang lainnya agar kekuatannya sempurna. Angga pun berencana mengajak teman-temannya untuk membantunya mencari harta karun. Angga akan bergerak mulai besok. Malam ini dia akan benar-benar melupakan Elizabeth van Houten, gadis Belanda idaman hatinya.

Matahari terbit, tanpa terasa Ajeng dan kawan-kawannya sudah beberapa hari tinggal di rumah Jendral van Houten. Setelah makan pagi selesai, Angga memanggil teman-temannya untuk mencari harta karun.

"Kalian! Aku mau bicara pada kalian!", panggil Angga.

"Ada apa? Tumben kalian mengumpulkan kami disini!", tanya Adi.

"Dengar, aku punya kabar menggembirakan. Aku menemukan sebuah peta harta karun. Diantara kalian adakah yang mau ikut bersamaku untuk mencari harta karun tersebut?", tanya Angga.

"Aku mau ikut. Akhirnya tidak sia-sia juga aku pergi ke sini", ujar Adi.

"Kamu dapat dari mana?", tanya Astri.

"Aku menemukannya di dekat-dekat sini", jawab Angga berbohong.

Angga tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya kalau dia akan mencuri peta yang ada di salah satu prajurit Jendral. Dan juga sebagai pelampiasan kandasnya hubungannya dengan Eliza.

"Oh, begitu. Lalu mana petanya?", tanya Anton.

"Petanya aku simpan di tempat yang aman", jawab Angga.

"Bagaimana kalian setuju dengan rencana Angga", tanya Adi.

"Setuju", jawab mereka selain Ajeng.

"Ajeng kenapa kamu diam saja? Kamu tidak setuju dengan rencana ini?", tanya Astri.

"Buat apa kita mencari harta? Menurutku hal yang paling penting sekarang adalah kembali ke zaman kita", kata Ajeng.

"Ayolah Ajeng, kamu iku ya!", bujuk Angga.

Baru kali ini Angga memohon bantuan Ajeng. Biasanya hal yang biasa Angga lakukan pada Ajeng adalah mengejek, mengejek dan mengejek. Ajeng begitu sabar menerima perlakuan Angga. Semua pun kaget dengan prilaku Angga yang berubah seratus delapan puluh derajat! Semua berpendapat kalau pengalaman yang telah kita lalui selama ini membuat sikap Angga berubah. Angga mulai bisa menghargai orang lain. Tapi semua sangkaan teman-temannya itu sama sekali salah. Tidak ada satu pun yang benar. Tujuan sesungguhnya Angga mengajak teman-temannya adalah untuk menguasai semua kekuatan yang dimiliki teman-temannya dan juga menguasai harta karun itu. Angga yang semula tidak menunjukkan sisi jahatnya, sekarang mulai ditunjukkan.

"Iya!", Ajeng terpaksa menerima tawaran Angga.

Angga mulai menyusun rencana bersama teman-temannya. Mereka aakan mulai bergerak saat jam 9 nanti. Angga menyuruh yang lainnya untuk menunggunya sekitar tiga puluh menit. Katanya Angga akan mengambil peta harta karun itu. Semua setuju, karena Angga melarang teman-temannya untuk ikut mengambil harta karun itu karena Angga takut ketahuan oleh teman-temannya, kalau dia sebenarnya belum mendapatkan peta harta karun itu. Angga hanya mengarang kalau petanya sudah disembunyikan di tempat yang aman. Angga menyelinap ke ruang pengawal. Kebetulan prajurit yang diamanati oleh Jendral berada di ruang tersebut. Angga melihat prajurit itu masuk kedalam kamar mandi, itu kesempatan yang bagus. Angga langsung memasukkan serbuk obat yang ditumbuk. Dia selalu membawa obat-obatan saat kemana pun dia pergi, karena dia mempunyai penyakit maag dan sering sakit kepala. Serbuk yang dibuat Angga tidak hanya satu, melainkan dua puluh. Sepuluh tablet obat sakit maag dan sepuluh kaplet obat sakit kepala. Lalu Angga menyampurkan serbuk out kedalam secangkir kopi yang terletak di meja. Setelah semua beres. Angga menunggu di luar. Sudah diduga oleh Angga sebelumnya bahwa prajurit itu kan meminum kopinya. Dugaan Angga tepat, prajurit itu langsung meminum kopinya. Tanpa ada rasa curiga sama sekali dengan rasa kopinya yang sudah berubah, Prajurit itu menghabiskan kopinya sekaligus. Baru beberapa menit setelah selesai meminum kopi itu, prajurit itu jatuh. Ia tergulai lemas di lantai. Kemudian dari mulutnya keluar busa-busa. Angga mngambil kesempatan ini untuk mencari peta yang ada di di kantungnya si Prajurit. Dugaan Angga tepat lagi, kalau peta itu terdapat di kantung si Prajurit. Saat berhasil mendapatkan peta, Angga langsung berlari menuju tempat teman-temnnya berkumpul.

Tepat jam 9, Angga kembali menemui teman-temannya. Angga pun mengusulkan agar pencarian harta karun itu langsung dimulai saat ini juga. Semuanya setuju. Mereka semua keluar dari rumah Jendral setelah mengemasi barang-barang, karena setelah ini mereka akan langsung pulang. Mereka pun sudah berpamitan pada Jendral. Berhubung Eliza sudah dijodohkan dengan pemuda tersebut. Maka Eliza diajak Johannes untuk menemui keluarga Johannes. Anak-anak pun mulai merasa tidak nyaman, karena satu-satunya teman yang memberikan tumpanagan hidup pada mereka tidak ada.

0 comments:

Post a Comment

curat-coret di sini...

wibiya widget

BlogUpp!

 
TOP